Mr.Right or Prince Charming?

Tulisan ini bukan lantaran ketularan euforia pemberitaan pernikahan Anang-Ashanti loh, ataupun gara-gara sering denger lagu “Jodohku” punya mereka yang wara-wiri di televisi:)

Ini gara-gara terinspirasi dari obrolanku via whatsapp semalam suntuk bersama para sahabat. Kalau kami sudah ngumpul, selain tukar kabar soal pekerjaan, kesibukan dan gosip, ujung-ujungnya pasti nyangkut ke soal asmara dan jodoh hahaha…
Pasalnya, dari lima anggota “arisan” baru seorang yang menikah. Lainnya, ehm… masih sendiri:)

Semalam, sekitar enam jam kami ber-whatsapp ria. Isi obrolannya macam-macam, mulai dari agenda shopping, info sale dan diskon, pekerjaan, gosip artis termasuk jodoh. Urusan asmara dan jodoh ini biasanya memang jadi bahasan penutup, sekaligus jadi bahan rumpian yang paling makan waktu. Lanjut membaca

Don’t Take It Personally

Ini sekedar sharing. Perenungan dari pengalaman pribadi, tapi kayanya bisa ditarik dalam konteks masyarakat bahkan negara. Weitsss… *lebay haha… Tapi serius loh! Ini cerita soal kepemimpinan.

Sejak memutuskan berwirausaha, lima tahun silam, aku otomatis menjadi pemimpin atas sejumlah karyawan. Setahun lalu, aku juga diserahi tanggung jawab memimpin bisnis keluarga. Di sini, meski secara struktural aku berada di puncak tapi secara hirarkis keluarga aku ini paling bontot. Sehingga para “bawahanku” adalah orang tua dan kakak-kakakku sendiri.

Urusan memimpin karyawan bukanlah hal mudah, dibutuhkan kesabaran, komitmen dan konsistensi. Kuncinya pada komunikasi dan keteladanan, sedangkan alatnya adalah reward dan punishment. Pemimpin yang baik harus mahir menggunakan dua alat tersebut terhadap para bawahannya. Cepat menghargai prestasi dan tegas menghukum kesalahan. Ini juga yang kugunakan terhadap para karyawanku. Tentu saja bentuk penghargaan tidak selalu berupa materi, seringkali sekedar pujian dan ucapan selamat. Pun hukuman bukan berarti pemecatan atau potong gaji, bisa sekedar teguran. Lanjut membaca

Suntikan Kematian

Tujuh anak yang dirawat di klinik Dr. Kathleen Holland di Texas, Amerika Serikat secara misterius mengalami gangguan napas  dan gagal jantung dalam waktu hampir berdekatan. Dua di antaranya meninggal dunia. Apakah ini sekedar malapraktik atau aksi kriminal yang direncanakan?

***

Kota Kerrville di Texas, Amerika Serikat, tahun 1982, adalah kota kecil yang berpenduduk belasan ribu orang saja. Di sini, Dr. Kathleen Holland mencoba peruntungannya dengan membuka sebuah klinik khusus anak.  Ia pun mempekerjakan beberapa perawat, salah satunya adalah perawat berpengalaman bernama Genene Anne Jones. Wanita berusia 32 tahun itu baru saja berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai perawat di rumah sakit Bexar County Medical Center, San Antonio.

Dalam beberapa hari saja, klinik Dr. Kathleen sudah mulai mendapat kunjungan pasien. Warga mengaku senang dengan keberadaan klinik ini. Namun sejak dua bulan beroperasi, sebanyak tujuh anak yang dirawat  mengalami serangan kejang mendadak disertai gangguan napas dan jantung.

Tanggal 30 Agustus 1982, di ruang gawat darurat, Dr. Kathleen disibukkan dengan kondisi seorang pasiennya yang memburuk. Bayi Christopher Parker, empat bulan, mengalami gangguan napas. Tak lama berselang, masuk pasien anak lainnya, Jimmy Pearson,  lantaran mengalami serangan kejang. Jimmy, tujuh tahun, menderita keterbelakangan mental dan bisu. Melihat kondisi keduanya, Dr. Kathleen memutuskan untuk segera mengirim mereka ke rumah sakit lain dengan menumpang helikopter. Perawat Genene dan dua paramedis ditugasi mendampingi.

Di atas helikopter, Genene menyatakan bahwa Jimmy kembali mengalami serangan kejang. Meski menurut petugas paramedis yang bersamanya, alat monitor menunjukkan kondisi Jimmy saat itu normal.  Genene lantas memeriksa kondisi Jimmy dengan stetoskop, kemudian menginjeksi sejumlah cairan ke dalam tabung infus. Beberapa menit kemudian, Jimmy mendadak mengalami gangguan nafas dan gagal jantung. Syukurnya ia berhasil selamat. Namun tujuh minggu kemudian ia dilaporkan meninggal. Lanjut membaca

Berdamai dengan Kesalahan

Judul: Better by Mistake
Penulis: Alina Tugend
Penerbit: Riverhead Books, NY, 2011

Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Karenanya ketimbang berupaya keras menghindarinya, demi tampil tanpa cela, lebih baik kita berdamai dengan kesalahan. Hidup akan terasa lebih bahagia dan produktif.

*****

Tak ada manusia yang sempurna, manusia tempatnya salah dan khilaf. Pameo itu amat lekat dalam kehidupan kita. Orang tua dan para guru pun sering memberi petuah, “Kesalahan adalah guru terbaik, kita belajar dari kesalahan.” Namun pada prakteknya kita kerap mendapat hukuman jika melakukan kesalahan. Walhasil, kita menjadi takut salah dan berusaha keras menghindari kesalahan. Ketakutan berbuat salah ibarat pentungan yang menggantung di atas kepala, yang menghalangi kita mengambil resiko dan mau berikhlas hati bahwa kita adalah manusia yang memang tak sempurna.

Padahal dengan menerima dan mengidentifikasi kesalahan secara tepat, kita justru bisa mengambil manfaat darinya. Tak cuma manfaat untuk diri sendiri, namun juga keluarga, pekerjaan dan lingkungan di sekitar kita. Berapa banyak pasangan suami-istri yang merespon kesalahan dengan saling menyalahkan ketimbang mencari solusi, atau bersikap defensif dan menuduh bukannya meminta maaf dan memaafkan. Begitu pun dalam dunia kerja dimana kesalahan amatlah tabu, padahal ia bisa menjadi pertanda kreatifitas yang berhubungan erat dengan eksperimen dan inovasi.

Manusia, secara alamiah, memang akan bereaksi terhadap kesalahan yang dilakukannya. Tahun 1990, Dortmund University Jerman melakukan eksperimen psikologi menggunakan alat electroencepalograph (EEG), guna memonitor kinerja otak dalam merespon kesalahan. Ketika subjek memencet tombol yang salah, dalam waktu super singkat yakni 50-100 milidetik saja, EEG mencatat terjadinya penurunan potensi aktivitas listrik di bagian media frontal cortex, sebesar 10 mikrovolt. Area depan otak tersebut berfungsi sebagai pengawas kinerja manusia secara menyeluruh yang khusus memonitor input negatif, kesalahan, dan keputusan yang meragukan. Lanjut membaca

Mengasah Mentalitas Wirausaha

Bekerja menjadi wirausahawan, seperti sekarang, tidak pernah aku angankan. Mimpiku dahulu menjadi reporter televisi nasional, dan Alhamdulillah kesampaian. Lima tahun berkarir sebagai jurnalis, aku mencintai pekerjaan ini dengan sepenuh hati.  I think, I will always have a never ending passion on journalism. 

Menjadi jurnalis telah menempa diriku luar-dalam. Walaupun untuk urusan fisik aku seringkali keteteran:) Kini, bekerja sebagai wirausahawan, aku pun kembali mendapat tempaan di sana-sini. Sampai aku berkesimpulan bahwa pekerjaan ini menempa hampir semua kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang baik. Berlebihan?? Bisa jadi, jika kamu belum pernah mengalami dan menghayati jatuh-bangunnya berwirausaha.

Seorang wirausahawan dituntut memiliki sederet kualitas pribadi yang mumpuni. Itu kalau kamu mau jadi pengusaha yang sukses. Awal mula merintis bisnis, perlu mentalitas baja seperti keberanian, kerja keras, disiplin, keuletan dan kesabaran. Tanpa itu, dijamin kamu ngga akan bisa jadi pengusaha. Memulai usaha perlu keberanian, sebab di sini kamu akan menjumpai bermacam-macam resiko mulai dari penghasilan yang tak tentu, rugi, kena tipu, bangkrut atau dikejar-kejar debt collector karena hutang. Untuk tiga yang terakhir, syukurnya belum pernah kejadian sih :)

Setelah bisnismu mulai berjalan, segala kualitas tadi masih harus terus nempel sepanjang perjalanan karirmu sebagai pengusaha. Pasalnya bisnis selalu punya dua sisi mata uang: peluang dan resiko, untung dan rugi. Walhasil, segala mentalitas baja itulah yang akan membuat kamu bisa bertahan. Lanjut membaca

House of Horror: Bayi Peter Tewas di Rumahnya Sendiri

kekerasan terhadap anakBayi lelaki dalam foto itu begitu menggemaskan. Ia terlihat gembira dengan senyuman yang menghiasi wajah bundarnya, berambut pirang  dan bermata biru. Siapa sangka umurnya begitu pendek, 17 bulan saja. Bayi Peter Connelly tewas dengan lebih dari 50 cidera di tubuhnya. Siapa yang sampai hati membunuh bayi tak berdosa ini?

 ***

Tracey Connelly tumbuh besar sebagai gadis remaja bermasalah, memiliki emosi yang tidak stabil dan kacau. Semasa sekolah, ia kerap melakukan keonaran. Di asrama, ia ditempatkan dalam unit khusus bagi anak-anak dengan masalah emosional dan sosial. Teman-temannya menjulukinya “Tracey si gelandangan” lantaran ia kerap pergi ke sekolah dengan pakaian yang robek dan kotor.

Tracey hidup tak terurus.  Ia pun tinggal di rumah yang tak terawat. Rumah yang ditinggalinya bersama ibunya di kawasan Islington, London Utara selalu terlihat kotor,  tempat tidur tak beralas sprei, belum lagi kotoran anjing yang bertebaran di dalam rumah.  Teman-temannya juga kerap melihat Tracey ikut permainan “rough and tumble”, yakni permainan adu fisik seperti berlari, bergulat hingga berkelahi, demi mendapatkan imbalan beberapa batang rokok. “Ibunya tahu, tapi dia tak peduli,” ujar seorang teman Tracey.

Ibu Tracey adalah pecandu narkoba, sedangkan sang ayah tidak jelas identitasnya. Pada umur 12 tahun, ibunya memberi tahu Tracey bahwa lelaki yang ia anggap ayah selama ini bukanlah ayah kandungnya, dan telah meninggal. Ia pun kerap menyaksikan ibunya membawa banyak lelaki berganti-ganti ke rumahnya, sehingga ia dipergunjingkan sebagai anak seorang pelacur. Lanjut membaca

22 Tahun Mengelabui FBI

Agen Spionase

Perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, selama hampir setengah abad, telah menciptakan pertarungan kekuatan intelijen dua negara adidaya tersebut. Alih-alih melindungi kepentingan negaranya, para agen spionase mengeruk keuntungan dari kedua pihak dengan menjadi agen ganda. Seorang agen FBI bahkan sukses melakukan penyamaran selama 22 tahun, dengan imbalan uang hingga jutaan dolar.

***

Sejak remaja, Robert Phillips Hanssen sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia intelijen. Kegemarannya membaca cerita dan menonton film James Bond, mengoleksi perlengkapan intelijen seperti pistol Walther PPK, kamera Leica dan radio gelombang pendek, serta membuka sebuah rekening bank di Swiss. Tokoh idolanya adalah seorang agen spionase Soviet, Kim Philby. Sewaktu menjadi mahasiswa di Knox College, ia pun mengambil mata kuliah pilihan bahasa Rusia.

Selepas kuliah, tahun 1966, Hanssen melamar pekerjaan sebagai kriptografer atau orang yang bertugas menjaga kerahasiaan informasi, di Badan Keamanan Nasional Amerika (NSA), namun gagal. Meski begitu, menjadi intel bukanlah karir yang ia rencanakan. Hanssen berniat menjadi dokter. Karenanya selepas meraih gelar sarjana kimia, ia mengambil jurusan kedokteran gigi di Northwestern University. Prestasi akademiknya tergolong baik, namun ia mengaku kurang menyukai air liur. Walhasil ia banting stir, dan meraih gelar MBA di bidang akuntansi dan sistem informasi.

Sempat bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan selama beberapa bulan, Hanssen tak kuasa melawan panggilan hatinya. Ia memutuskan berhenti dan bekerja sebagai investigator bidang akuntansi forensik di KepolisianChicago.

Menginjak usia 32 tahun keinginannya tercapai, 12 Januari 1976, ia bergabung sebagai agen khusus Biro Investigasi Federal AS (FBI) di Gary,Indiana. Tiga tahun berselang, Hanssen minta dipindah ke kantor FBI diNew York. Awalnya, ia menangani divisi kriminal kemudian dipindah ke bagian kontra-intelijen dengan tugas menangani database agen-agen Soviet. Sebuah posisi yang membuatnya berada di tengah-tengah arus informasi yang teramat rahasia. Dan dari situlah karirnya sebagai agen spionase bermula. Lanjut membaca