Kisah Tegar dari Robahan

KAMAR TIDUR ITU KECIL MEMANJANG, luasnya 2 x 4 meter, berdinding anyaman bambu dan beberapa lembar papan. Langit-langitnya rendah, tanpa lapisan eternit. Di bawahnya, Tegar, usia 4 tahun dengan bobot 17 kilogram, tengah terbaring lelap di atas kasur. Puryanto berdiri di sisi ranjang memandang lekat-lekat anak itu.

Ia lalu mengangkat tubuh Tegar dan menggendongnya ke luar rumah. Tegar masih tertidur dalam dekapan Puryanto hingga tiba di halaman belakang rumah. Dingin udara malam membuat Tegar terbangun.

“Kita mau ke mana, Pak?” tanya Tegar, setengah mengantuk.

“Cari burung di sawah,” jawab Puryanto, singkat.

Lelaki itu meneruskan langkah melintasi areal persawahan, menyeberangi rel kereta api, dan terus menuju ke arah selatan, berhenti di dekat sebuah sumur.

Puryanto menurunkan Tegar dari gendongan lantas membaringkannya di tanah. Tegar sungguh tak mengerti apa yang hendak diperbuat Puryanto, ketika tiba-tiba saja tubuh lelaki itu menghimpit tubuhnya seperti hendak bergulat. Dengan kedua tangannya, Puryanto mencekik leher Tegar sementara kedua lututnya menghimpit sepasang kaki Tegar. Tegar mengerang kesakitan. Mukanya memucat. Dengan sisa tenaga, bocah kecil itu meronta. Pelan-pelan kesadaran Tegar menghilang. Puryanto mendadak kasihan menyaksikan penderitaan anak itu. Ia pun melonggarkan cekikannya. Puryanto tahu Tegar belum mati. Masih terasa denyut nafas di urat leher anak itu.

Puryanto lantas mengangkat tubuh Tegar lalu menuju rel kereta api. Ia berniat menghabisi nyawa Tegar dengan membiarkan tubuh anak itu terlindas kereta yang lewat. Puryanto melemparkan tubuh Tegar begitu saja ke atas rel. Ia sendiri kemudian lari menyeberangi rel kereta ke arah timur, menuju pertigaan Bungkus.

Tegar masih pingsan. Badannya jatuh menelungkup menyerong di tengah rel, menunggu maut menjemput.

Di stasiun Caruban, Kabupaten Madiun, jarum jam menunjukkan pukul 03.17 ketika kereta ekonomi Matarmaja jurusan Pasar Senen – Malang perlahan bergerak meninggalkan peron. Petugas stasiun, Bambang Yunianto, mencatat kereta terlambat 38 menit dari jadwal seharusnya. Di rel kereta kilometer 147, Tegar masih tergeletak tak sadarkan diri. Hanya butuh kurang dari 10 menit dari stasiun Caruban, tubuh Tegar siap disambar.

Kereta itu menggilas putus kaki kanan Tegar. Potongan kakinya terseret sejauh 10 meter. Jeritnya yang kesakitan tertelan gemuruh deru mesin kereta.

Dengan sebelah kaki yang putus, Tegar merangkak sejauh 50 meter melewati bebatuan di tepi rel, tumpukan jerami kering sisa panen, dan merayapi pematang sawah menuju rumahnya.

“Mbah… Mbah, kakiku copot, Mbah!” Tegar berteriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu depan rumah.

Sukadi, kakek Tegar, sontak terbangun. Dengan langkah memburu ia membuka pintu diikuti istrinya, Saikem, dan mendapati Tegar terduduk di tanah dengan muka pucat. “Kenapa kamu kok duduk di situ?” tanya Sukadi, panik.

“Aku ditabrak kereta sama Bapak. Kakiku copot, Mbah.”

Sukadi kaget bukan main menyaksikan tungkai kaki kanan cucunya yang berdarah dan putus nyaris setengah.

Teriakan histeris Saikem memecah keheningan Minggu pagi, 5 Juli 2009, di dusun Robahan.

DI SUATU SUDUT TERMINAL BUS MADIUN, Puryanto mendengarkan curahan hati Depi Kristiani. Gadis itu sedang galau ditinggal kekasihnya dalam keadaan hamil dua bulan. Rambut Depi hitam lurus tergerai melewati bahu, wajah bundar, kulit sawo matang, usia 21 tahun.

“Aku mau gugurin kandunganku ini,” ujar Depi.

“Gak usah. Kalau kamu mau, nikah sama saya saja. Kandunganmu jangan digugurin,” kata Puryanto.
Didorong rasa cinta, Puryanto menikahi Depi Kristiani. Usia Puryanto saat itu 22 tahun. Pernikahan berlangsung di Way Kanan, Lampung, tempat tinggal orangtua Puryanto, pada 11 Januari 2004. Kepada keluarganya, Puryanto mengatakan yang menghamili Depi. Setelah menikah, pasangan muda itu kembali ke Madiun dan tinggal di rumah orangtua Depi. Pada 1 Agustus 2004, Depi melahirkan anak pertamanya. Bayi lelaki itu diberi nama Endy Tegar Kurniadinata; panggilannya Tegar.

Meski bukan anak kandungnya, Puryanto telaten mengurusi kehamilan Depi sampai persalinan. Awalnya, di mata Depi, Puryanto lelaki baik dan bertanggung-jawab. Namun sikap Puryanto berubah kasar saat mereka pindah ke rumah kontrakan. Depi kerap ditampar, dipukul bahkan ditendang. Khawatir akan keselamatannya, Depi memutuskan kembali ke rumah orangtuanya. Seminggu kemudian Puryanto menyusul. Belakangan Puryanto juga mulai bersikap kasar terhadap Tegar yang saat itu berusia 2 tahun. Itu tahun di mana Depi melahirkan anak keduanya, Febi Fajar Arianto.

Meski pendiam dan pembawaan tenang, sifat Puryanto keras. Begitu pun sifat Depi. Pertengkaran selalu mewarnai keseharian mereka. Penyebabnya kebanyakan rasa cemburu Puryanto terhadap Depi yang suka bergaul dengan banyak lelaki.

Sejak gadis, Depi memang dikenal memiliki banyak teman pria, mereka para pengamen atau pedagang asongan di terminal bus. Bahkan ayah kandung Tegar seorang pemuda yang dikenalnya di terminal. Puryanto sering mendengar omongan warga soal pergaulan istrinya yang dianggap “kelewat bebas.” Saiman, warga kampung, berujar, “Depi suka main ke terminal sama anak asongan dan pengamen. Buat ukuran orang desa, kelakuan begitu nggak benar.”Setelah berumahtangga, perilaku Depi tak berubah. Meski demikian, Depi tak habis pikir suaminya cemburu buta.

Puryanto bahkan bisa dibuat cemburu hanya karena mendengar Depi mendendangkan lagu-lagu cinta. “Kamu ingat mantanmu ya? Udah, nanti aku salamin ke dia!” kata Puryanto, kesal.

Lantaran cemburu, Puryanto melarang Depi ke luar rumah, termasuk untuk bekerja. Padahal penghasilan Puryanto jauh dari cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Bagi Puryanto, yang lulusan SMP, mencari kerja bukanlah perkara mudah. Penghasilannya sebagai pengamen hanya Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per hari. Ia juga bekerja serabutan sebagai kernet bus, kuli bangunan dan buruh tani. Setiap hari, Depi diberi uang Rp 10.000 untuk keperluan masak dan membeli susu buat Tegar dan Fajar. Terkadang Puryanto menganggur, praktis tak ada uang belanja. Untuk bertahan hidup, Depi mengandalkan bantuan Saimah, bibinya, yang tinggal sekitar 50 meter dari rumah.

Namun Depi tak pernah mengeluhkan penghasilan Puryanto. “Aku sih gak marah, selama masih ada orangtua yang bisa bantu aku,“ kata Depi. Jika kesal, Depi memilih mendiamkan suaminya. Alih-alih menyelesaikan masalah, sikap ini terkadang malah bikin Puryanto emosi. Lagi-lagi, keduanya cekcok.

Suatu hari Puryanto, yang baru pulang menggarap sawah seharian, dibuat bingung ulah Depi yang uring-uringan. Saat ditanya masalahnya, Depi tak mau menjawab. Ia pun diam saja saat diajak bicara. Selama beberapa hari Puryanto didiamkan. Puryanto bingung dan jengkel. Ia memutuskan pergi ke Lampung. Selama tiga bulan, Depi dan kedua anaknya ditelantarkan. Depi tunggang-langgang mencari pekerjaan, bahkan ke Surabaya, demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Awal 2009, Puryanto akhirnya kembali ke Madiun. Puryanto menganggur. Untungnya, Depi masih punya penghasilan hasil membantu Saimah berjualan kue di pasar. Ia mendapat upah Rp 15.000 per hari.

Sampai suatu hari Puryanto ditawari seorang teman berjualan bakso pentol. Ini jajanan terbuat dari campuran daging cincang dan tepung aci yang dibentuk bulat-bulat lalu diberi saus. Bermodal uang pinjaman Rp 250.000, ia memulai usahanya. Rupanya di sinilah rejeki Puryanto. Dagangannya laris-manis. Dalam sehari, ia bisa mengantongi Rp 80.000 sampai Rp 160.000. Utang modal segera ia bayar lunas.

SIANG ITU, PURYANTO MASIH DI RUMAH. Rencananya nanti sore ia pergi berjualan bakso pentol. Tapi karena plastik pembungkus dagangan habis, ia terpaksa pergi ke pasar. Depi sudah pergi, kepada ibunya, pamit mau membeli charger handphone.

Tak disangka, di tengah perjalanan, Puryanto melihat Depi berduaan dengan seorang lelaki di pos ronda. Amarahnya seketika memuncak. Ia menghampiri mereka. Depi kaget melihat kedatangannya. Puryanto yang emosi melayangkan tamparan ke wajah istrinya dan memaksa pulang.

Sepanjang perjalanan mereka bertengkar hingga berlanjut di rumah. Puryanto menuding Depi selingkuh. Depi tak terima, mengatakan “hanya kebetulan bertemu di jalan.”

“Kamu ngapain ketemu dia?” tanya Puryanto. “Aku mau pinjam uang!” jawab Depi, tak kalah sengit. Keduanya saling teriak dan memaki.

Dua hari kemudian, Puryanto mengultimatum istrinya “tak boleh keluar rumah,” termasuk membantu Saimah jualan kue di pasar. Depi tak terima. Selama ini ia memang sudah gerah terhadap kekangan Puryanto yang menurutnya “tak beralasan.” Di samping itu, bibinya kini sakit sehingga ia seharusnya yang menggantikan berjualan. Tapi Puryanto tak mau mengerti. Saking kesalnya, Depi melontarkan permintaan cerai, “ Kita pisah saja, soalnya aku sudah gak tahan sama kelakuan kamu.”
Puryanto kaget. Ia sakit hati. Sebenarnya sudah sejak dulu Depi kerap minta cerai, terutama setiap kali bertengkar. Tapi itu tak pernah serius. Depi hanya bermaksud menggertak saja. Kali ini berbeda. Puryanto bisa merasakan itu. Puryanto tak menanggapi perkataan istrinya; ia memilih pergi berjualan bakso pentol.

Sore harinya, Tegar pulang bermain, mendatangi ibunya, minta agar diajak berjualan kue ke pasar. Depi tak mengijinkan anak 4 tahun seusia Tegar begadang semalaman. Tapi Tegar tetap merengek. Gelagat Tegar hari itu memang tak seperti biasa. Malam harinya ia juga minta tidur di kamar neneknya, bukan bersama ayah dan ibunya.

Menjelang malam, Puryanto pulang dari berdagang. Depi kembali mengutarakan keinginan bercerai. Puryanto tak setuju, menyuruh Depi mengurus sendiri jika ngotot cerai. Guna meredam emosi, Puryanto memutuskan pergi ke terminal, bermain playstation di kios game langganannya. Rupanya sudah ada sahabatnya, Danang Subekti.

“Main apa, Mas?” tanya Puryanto.
“Main balapan,” jawab Danang.
“Aku ikut!” Puryanto bersemangat.

Keduanya segera tenggelam dalam keasyikan permainan balap mobil. “Hayo, yang kalah lepas baju!” kata Puryanto. Dua jam bermain, perut Puryanto mulai keroncongan. Mereka pun menyudahi permainan dan pergi membeli nasi bungkus, kembali ke kios, menyantap bersama-sama. Sekitar pukul 1 dini hari, Puryanto memutuskan pulang karena sudah mengantuk. “Besok harus kerja,” kata Puryanto, berboncengan sepeda dengan Danang.

Sekitar pukul 01.30 Puryanto tiba. Depi, saat itu hendak shalat Isya, membukakan pintu. Puryanto langsung masuk ke kamar dan tidur. Tak lama Depi menyusul tidur bersama suami dan Tegar yang telah terlelap. Malam itu, Tegar tidur berjauhan dengan ayahnya padahal biasanya dipeluk.

Menjelang pukul 02.30, Depi bangun. Ia harus pergi berjualan kue ke pasar menggantikan bibinya yang sakit. Puryanto, masih tidur di atas kasur, samar-samar mendengar istrinya bersiap-siap di dapur. Puryanto juga harus belanja bahan-bahan bakso pentol. Biasanya mereka pergi naik sepeda bersama. Sesaat kemudian, Puryanto bangun lalu menuju dapur menyiapkan barang bawaan. Tapi Depi telah berangkat. Saat mencari ke halaman depan, sepeda pun sudah tak ada. Rupanya Depi pergi duluan meninggalkannya.

Puryanto batal berangkat, kembali ke kamar tidur dengan perasaan kesal. Dilihatnya Tegar yang terlelap di atas kasur. Sekonyong-konyong pikiran itu merasuki kepalanya: “Mungkin anak ini yang bikin saya sial selama ini!”

DUSUN ROBAHAN DIBUAT GEGER TERIAKAN histeris Saikem. Di hadapan perempuan paruh baya itu, cucunya terkulai lemah dengan kaki kanan putus. Namun bocah itu tak menangis, hanya mukanya makin memucat. Saimah, bibi Depi, yang mendengar teriakan minta tolong Saikem segera membangunkan anaknya, Sumanto, yang malam itu menginap di rumahnya.

Tak berapa lama, Sumanto datang dengan sepeda motor. Ia sangat terkejut tatkala sorotan lampu sepeda motor menyinari kaki Tegar yang buntung separuh. Sumanto menghambur ke arah Tegar, setengah tak percaya melihat nasib keponakannya.

“Gar, kakimu kenapa?”
“Ditabrak kereta.”
“Sama siapa?”
“Sama Bapak.”
“Bapaknya kemana?”
“Gak tahu.”
“Kamu diapakan, Gar?”
“Dicekik!”

Sumanto mengangkat tubuh Tegar ke atas motor. Tegar dibonceng di belakang, diapit Sukadi, kakeknya. Kondisi Tegar makin lemah. Darah menetes dari bekas luka. Mereka menuju rumah sakit Panti Waluyo, Kabupaten Madiun, yang butuh waktu 15 menit perjalanan.

Hampir pukul 4 pagi, rumah sakit sepi. Sumanto harus berputar-putar mencari paramedis yang bertugas. Ruang unit gawat darurat pun kosong. Tak berapa lama dokter jaga datang. Ia sungguh kaget melihat kondisi luka kaki Tegar. Jaringan otot dan pembuluh darahnya hancur. Tulang kakinya remuk.

“Potongan kakinya mana?” tanya dokter, “Siapa tahu bisa disambung.”

Sumanto kembali ke lokasi kejadian dengan penuh harap. Dibantu sejumlah warga, ia menyusuri jengkal demi jengkal area sekitar tempat kejadian. Di salah satu sisi rel ada ceceran daging dan darah, memanjang sekitar 10 meter. Ini bagian betis Tegar yang hancur dan terseret kereta. Tapi tak ditemukan potongan kaki. Azis, pemuda kampung, tiba-tiba berseru, “Ini… ini… lho!” sambil menyorotkan lampu senter ke arah bebatuan di tepi rel. Potongan kaki itu masih utuh, dari mata kaki hingga telapak kaki. Ia terlempar beberapa meter dari titik terlindasnya kaki Tegar. Sumanto buru-buru membawanya ke rumah sakit.

Namun melihat kondisinya, dokter berpendapat kaki Tegar tidak bisa disambung. Lantaran peralatan kurang memadai, Tegar harus dirujuk ke rumah sakit dr. Soedono di kota Madiun. Jaraknya sekitar 24 kilometer dari dusun Robahan. Menumpang mobil ambulance, tiba di rumah sakit, Tegar segera mendapatkan pertolongan medis.

Saat itu hampir 5 pagi. Menurut dokter, kaki Tegar harus diamputasi. Bukan persoalan kehabisan darah yang bisa merenggut nyawa Tegar, melainkan risiko infeksi.

Kondisi kaki Tegar justru menyelamatkan jiwanya. Dokter Siwi Mardiati, juru bicara rumah sakit dr. Soedono, menjelaskan kaki Tegar yang putus total membuat pembuluh darah menutup secara sempurna. Ini akibat kontraksi otot-otot di sekitar pembuluh darah, sehingga Tegar terhindar dari risiko pendarahan hebat.

Sekitar 1 jam dokter melakukan tindakan debridemang atau pembersihan luka dan amputasi. Operasi berjalan lancar. Kaki kanan Tegar diamputasi hingga menyisakan sedikit bagian di bawah lututnya. Pada hari kelima, Tegar sudah dibolehkan pulang ke rumah.

RASA TAKUT SEGERA MENJALARI PURYANTO. Usai melemparkan tubuh Tegar, Puryanto melarikan diri ke pertigaan Bungkus, Madiun, dan berlanjut naik bus ke terminal Jombang. Ia hanya singgah satu jam lalu memutuskan kembali ke Madiun, tiba sekitar pukul 7 pagi.

“Hey Jolodong!” Seorang pengamen berseru. Jolodong nama panggilan Puryanto di kalangan teman-temannya. “Aku habis ngamen dari pasar, katanya ada pembunuhan di Robahan,” ujar si teman.

Puryanto makin ketakutan. Ia tak menyangka berita itu cepat menyebar. Ia mengira Tegar sudah mati tergilas kereta. Dalam kalut, Puryanto memutuskan pergi ke Sragen, tidur di sebuah masjid sampai pukul 3 sore.

Ia lantas melanjutkan ke Solo lalu, dengan menumpang bus, menuju Lampung. Tujuannya rumah orangtuanya. Tapi Puryanto hanya singgah sekitar 4 jam. Diantar Yitno, adik lelakinya, ia ke rumah Jahar, seorang saudaranya di Palembang. Ia bilang telah memotong kaki selingkuhan istrinya sehingga pergi dari Madiun. Jahar mau menampung Puryanto.

Suatu hari, Jahar dan istrinya menonton berita di televisi. Isinya penganiayaan yang dilakukan Puryanto. Rupanya korban bukanlah selingkuhan istri Puryanto tapi justru Tegar, anak tirinya. Istri Jahar marah. Puryanto tak enak hati, memutuskan pergi ke pulau Bangka.

Di dusun Robahan sendiri, petugas Polsek Mejayan dan Polres Madiun sibuk memeriksa sekitar tempat kejadian perkara. Dari hasil penyelidikan lapangan, polisi menduga pelakunya adalah Puryanto.

Polisi segera memburu Puryanto, menyisir daerah di sepanjang rel, mencari ke terminal tempat Puryanto biasa bekerja, menanyai teman-teman dan bibinya dari pihak ayah di Ponorogo. Hasilnya nihil. Polisi memutuskan memperluas pencarian ke luar kota, ke tempat-tempat Puryanto biasa mengamen.

Dulu Puryanto bekerja sebagai pengamen bus antar kota, dari Madiun, Yogya, Solo, hingga Jombang. Perkiraan polisi tidaklah meleset: Puryanto memang sempat melarikan diri ke kota-kota tersebut namun hanya singgah sebentar.

Suatu pagi, saat Depi Kristiani menunggui Tegar di rumah sakit, ponselnya berdering dari nomor tak dikenal. Meski si penelepon tak menyebutkan namanya, Depi tahu itu suara suaminya. Keesokan harinya, Depi menerima ancaman lewat pesan pendek, “Saya akan bakar rumah kamu dan keluargamu supaya kamu tambah sengsara!” Lagi-lagi dari nomor tak dikenal. Polisi menduga nomor tersebut adalah nomer daerah Sumatera.

IPTU Marganda Aritonang, Kepala unit Reskrim Polres Madiun, bersiap-siap memimpin operasi penangkapan Puryanto di Lampung. Sepekan setelah kejadian, 13 Juli 2009, empat petugas Reskrim Polres Madiun berangkat ke Lampung. Tujuannya, rumah orangtua Puryanto di desa Pisang Baru, Way Kanan. Selama beberapa hari, Aritonang bersama tiga orang anak buahnya memantau rumah tersebut.

Belakangan Aritonang mendapat informasi Puryanto masih punya saudara di OKU Timur, Palembang. Penyelidikan polisi membuahkan hasil. Aritonang menyimpulkan pihak keluarga mengetahui keberadaan Puryanto.

Yitno, adik lelaki Puryanto, orang pertama yang ditanya polisi. Ia bilang tidak tahu keberadaan kakaknya. Aritonang menduga Yitno berbohong. Pencarian berlanjut. Kali ini giliran Lastri, kakak perempuan Puryanto, yang disambangi polisi. Saat ditemui ia sedang menjaga warung di muka rumah.

“Kopinya empat, Bu,” kata Aritonang.

Sambil menyeruput kopi panas, Aritonang memulai perbincangan. “Kami dari kepolisian sedang mencari Puryanto, adik Ibu,” kata Aritonang. Lastri terkejut. Tak menyangka kalau tamunya para polisi yang akan menangkap adiknya. “Puryanto diduga telah menganiaya anaknya sampai kakinya putus,” ujar Aritonang, lagi.

Awalnya Lastri bungkam. Aritonang terus membujuk dan berupaya menyadarkan Lastri bahwa perbuatan adiknya adalah kejahatan. Mendadak wanita itu menangis. Ia hanya ingin melindungi adiknya. Meski begitu ia tak tega melihat apa yang menimpa keponakannya, Endy Tegar Kurniadinata. Akhirnya Lastri mau buka mulut kalau Puryanto tinggal bersama Parman, kakak iparnya, di Pulau Bangka. “Tapi Pak, jangan bilang kalau informasi ini dari saya,” pesannya.

Berbekal informasi itu, polisi kembali menanyai Yitno. Kali ini Yitno tak bisa mengelak. Ia yang mengantar Puryanto dari Lampung ke Palembang, dan kini di Bangka. Aritonang pun makin yakin, meski ia belum tahu persis tempat kabur Puryanto.

Sementara Lastri yang belum berhasil menghubungi ponsel Puryanto, akhirnya mengirim pesan singkat kepada Parman di Bangka. Tak lama berselang ada panggilan telepon masuk. Yitno menerima panggilan itu. “Kamu di mana, Kak?” tanya Yitno. “Saya lagi di Biat sama Parman. Kamu gak usah khawatir. Nanti kalau saya sudah kerja bagus di sini, kamu saya ajak,” sahut Puryanto di ujung telepon. Yitno tahu lokasi tersebut karena pernah bekerja di sana.

Polisi akhirnya menemukan titik terang keberadaan Puryanto. Pukul 22.00, Aritonang dan anak buahnya berangkat ke Bangka. Mereka langsung bekerjasama dengan aparat Polsek Muntok. Selanjutnya, Aritonang dan tiga anak buahnya, beserta enam aparat lokal, berangkat menuju Biat, Bangka Barat.

Keesokan harinya, sekitar 12 siang, Puryanto dan Parman terlihat bekerja menggarap lahan kebun palawija. Lokasinya dikelilingi rawa dan tetumbuhan bakau. Keduanya tidak tahu kalau gerak-geriknya diawasi polisi. Para polisi segera membentuk formasi menyergap buronan. Jaraknya sekitar 500 meter dari tempat mereka bekerja. Setengah jam kemudian, aparat bergerak makin merapat mendekati lokasi hingga mengepung Puryanto dan Parman.

“Jolodong, jangan bergerak!” Aritonang berseru sambil menodongkan senjata.
“Ampun… ampun…, Pak!” Puryanto mengangkat kedua tangannya.

Siang itu, 19 Juli 2009, empatbelas hari masa pelarian Puryanto berakhir. Aparat segera meringkusnya, dibawa ke Polsek Muntok. Esoknya, Puryanto diterbangkan ke Jawa Timur.

SEPULANG DARI RUMAH SAKIT, ENDY TEGAR KURNIADINATA susah makan. Beratnya turun tiga kilo jadi 14 kg. Tegar juga sering rewel dan demam, mungkin karena lukanya belum sembuh total. Ia harus periksa rutin. Berbekal surat keterangan tidak mampu, semua biaya pengobatannya ditanggung pemerintah.

Rabu, 26 Agustus 2009, pukul 9 pagi, Depi dan Saimah membawa Tegar ke rumah sakit. Hari itu Tegar tidak rewel. Ia paham kalau kali ini kakinya kembali diperiksa. Ia bertemu dokter Eva Khristi yang baik hati juga perawat Heru yang gemar bercanda.

Semenit Tegar duduk di tempat tidur pasien, perawat Heru sudah menghampiri sambil bernyanyi ceria. Bukannya langsung mengobati, ia mengangsurkan harian Surya dengan headline peristiwa yang menimpa Tegar. Maksudnya mengalihkan perhatian Tegar, karena Heru tahu betul pengobatan ini akan menyakitkan buat bocah usia 4 tahun. Tiba-tiba Tegar berseru, “Ini keretanya, Bu!” sambil menunjuk-nunjuk ilustrasi gambar di lembaran suratkabar itu.

Kaki Tegar yang terbalut perban ditekan-tekan supaya lurus kembali. Awalnya tekanan lembut, lama-lama lebih kuat. Tegar mulai meringis. Ia merintih menahan sakit. Sekitar 10 menit Heru terus menekan-nekan kaki Tegar. Makin kuat tekanannnya, Tegar makin tak tahan, “Aduh! Sudah toh…,” Tegar minta perawat Heru berhenti. Tapi terapi belum tuntas. Selama tiga menit berikutnya Tegar kembali merintih kesakitan.

Heru lantas membuka perban. Tampaklah kaki kanan Tegar yang putus nyaris hingga lutut. Dengan penuh minat, Tegar memandangi kakinya, ingin tahu bagaimana kondisinya. Tapi tiba-tiba saja ia merasa gatal di sekujur kakinya dan menggaruk-garuk. “Jangan digaruk-garuk nanti luka,” kata Heru, mengoleskan cairan antiseptik pada kaki dan paha Tegar.

“Sekarang coba diluruskan sendiri kakinya,” Heru memberi aba-aba.
“Ayo, tekuk… lurus… tekuk… lurus.”
“Lagi, tekuk… lurus… tekuk… lurus.”
“Oh, pintar ya Tegar…,” kata dokter Eva Khristi yang senang melihat kemajuan pasien kecilnya.

Latihan ini untuk mencegah otot-otot kaki Tegar tidak mengecil. Ini penting sebab rencananya Tegar akan memakai kaki palsu.

Luka kaki Tegar mulai mengering, meski masih ada kemungkinan infeksi. Heru membasahi sejumput kapas dengan alkohol lalu menempelkannnya pada tempat luka. Tegar seketika menjerit kesakitan. Ia meronta. Depi berusaha menenangkan sambil memegangi tubuh anaknya kuat-kuat. Rasa sakit itu rupanya tak tertahankan. Tegar pun menangis. Kedua tangannya mencengkeram erat tubuh ibunya.

Seketika raut wajah Depi berubah. Ia dapat merasakan penderitaan anaknya sehingga ikut menangis. Sambil berupaya menenangkan diri, Depi mengelap matanya yang basah, kembali menenangkan putranya. Tapi Tegar masih menangis. “Diam!” kata Depi dengan tegas. Bocah itu pun patuh. Tangisnya perlahan mereda.

Usai serangkaian pengobatan selama hampir setengah jam, perawat kembali menutup luka kaki Tegar dengan perban. Selanjutnya, Tegar melakukan fisioterapi.

Ia mulai berlatih berjalan bolak-balik sejauh tiga meter, berpegangan pada dua buah palang besi di sisi kanan dan kiri. Latihan tak selalu berjalan mulus. Kadang Tegar mogok berjalan lalu mengayun-ayunkan tubuhnya sambil bergelantungan di palang besi. Depi dan para suster harus berulang kali membujuknya supaya mau kembali berlatih.

Hari itu juga merupakan hari pertama Tegar berlatih memakai kurk, sepasang tongkat penyanggah tubuh yang dikepit di kedua ketiak.Tujuannya melatih keseimbangan. Karena baru pertama kali, ia masih tak percaya diri. Seorang suster membantu memapahnya dari belakang untuk berjalan pelan-pelan menggunakan sebelah kakinya.

Kini Tegar menderita cacat fisik seumur hidupnya.

EPILOG

PURYANTO YANG SAYA TEMUI DI KANTOR POLRES MADIUN, 25 Agustus 2009, pagi itu memakai celana kain selutut dan kaos oblong putih. Ia berperawakan pendek dan kekar, kulit sawo matang, wajah persegi. Rambutnya dipapas habis.

Genap 36 hari ia ditahan setelah penangkapan di Bangka. Kami duduk berdampingan di sebuah sofa di ruang kerja Marganda Aritonang. Meski awalnya kurang nyaman namun Puryanto menerima kedatangan saya dengan sopan.

Alasannya menganiaya Tegar, “Dipicu emosi yang berlebihan karena sempat memergoki istri saya bersama laki-laki lain,” kata Puryanto dengan kepala tertunduk. “Sampai sekarang saya masih bingung kenapa saya punya pikiran picik seperti itu.”

Tim psikolog Universitas Widya Mandala Madiun, yang memeriksa kesehatan Puryanto, menyatakan kondisi kejiwaannya normal. Puryanto tidak menderita kelainan jiwa yang mungkin jadi penyebab tindakannya itu.

Warga dusun Robahan tak menyangka Puryanto, yang tutur katanya halus, bisa berbuat sedemikian rupa terhadap anak tirinya. Teman dekat terakhirnya, Danang Subekti, yang pernah ditelepon Puryanto saat pelarian, mengatakan Puryanto “orang yang rajin.” Ia mengenang bagaimana Puryanto semangat sekali membuat gerobak dorong untuk jualan bakso pentol.

Adrianto, ketua rukun warga, mengatakan Puryanto “suka bantu tetangga dan pekerja keras.” Latar belakang Puryanto yang besar di jalanan sebagai pengamen justru jauh dari anggapan umum. Hari, penjaga rental Playstation, tempat yang disambangi Puryanto sebelum kejadian itu, mengatakan kepada saya bahwa Puryanto orang yang ramah. “Nggak rese layaknya orang jalanan,” ia menambahkan.

Saya pun tak menyangka lelaki di hadapan saya ini bisa bertindak sejauh itu. Tapi ia menyadari perbuatannya: sengaja mencelakakan Tegar.

Di dunia, kekerasan anak oleh orangtua memang memiliki banyak ukuran. Laporan PBB dalam “World Report on Violance Against Children” (2006 ) menyebutkan, orangtua yang memiliki gangguan mental cenderung melakukan tindakan kekerasan terhadap anaknya. Tapi ada faktor pemicu lain, seperti kemampuan pengendalian diri yang buruk, penghargaan diri rendah dan kecanduan narkoba maupun alkohol. Tingkat pendidikan orangtua yang rendah plus penghasilan minim juga dapat meningkatkan risiko tersebut.

Penelitian dari organisasi Save the Children pada 2005 menyimpulkan, hukuman fisik terhadap anak, yang lazim dianggap upaya mendidik, justru tidak berdampak positif. Anak-anak akan menuruti keinginan orangtua segera setelah dipukul, hanya karena takut diancam. Namun mereka sebenarnya tak mengingat alasannya. Pemukulan terhadap anak malah tak mendidik perilaku baik maupun melatih kedisiplinan diri.

Dalam forum PBB, anak-anak sangat tersakiti saat dipukul dan dipermalukan oleh orang yang seharusnya mencintai dan melindunginya. Mereka meminta orangtua memberi penjelasan tentang kesalahan yang mereka perbuat.

Setiap kekerasan orangtua terhadap anak, baik menimbulkan luka fisik maupun tidak, berdampak buruk bagi perkembangan psikologis. Itu akan terbawa hingga dewasa. Data PBB menyebutkan sebanyak 50% sampai 75% kasus pembunuhan anak di bawah umur 10 tahun justru dilakukan anggota keluarganya sendiri.

Di Indonesia, dari data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Januari-Juni 2009), mayoritas pelaku kekerasan terhadap anak adalah orangtua (hampir 33%). Jumlah kasus kekerasan anak pun terus meningkat. Pada 2006, tercatat 1.124 kasus, pada 2007 sebanyak 1.520 kasus, lalu melonjak dratis 6.295 kasus pada 2008. Sepanjang Januari hingga Juni 2009, Komnas mencatat 1.004 kasus kekerasan terhadap anak.

Ironisnya, dari kasus Endy Tegar Kurniadinata, apa yang menimpanya bukan perilaku nakal. Ia hanya sasaran pelampiasan kemarahan Puryanto terhadap Depi Kristiani.
Namun, meski bukan anak kandungnya, Puryanto menyayangi Tegar dan tidak pernah membencinya. Ia membantah kerap berlaku kasar terhadap Tegar. Tapi ia suka menyentil telinga Tegar jika nakal, sekadar mengajarinya. Ini berbeda dari keterangan Depi kepada saya, mengatakan Puryanto kerap memukul dan memaki Tegar.

Kini sehari-hari, di rumah nenek dan kakeknya, Tegar baru bisa sebatas merangkak. Ia pun nyaris tak pernah bermain ke luar rumah. Kalau bosan dan ingin berjalan-jalan, Tegar harus digendong. Dalam ingatan Saikem, neneknya, Tegar bocah yang lincah dan aktif, paling suka bermain bola sampai lupa waktu.

Saikem sendiri seringkali menangis diam-diam menyaksikan keadaan cucunya. Ia hanya bisa menghibur dan membesarkan hati. Ia sekarang enggan mengajaknya bermain ke belakang rumah, khawatir cucunya trauma. Ia juga pedih mendengar teriakan Tegar. Bocah itu jika melihat kereta lewat langsung berteriak, “Itu loh Mbah, kereta yang menabrakku!” Biasanya ia menceritakan kembali kejadian malam itu, “Aku dicekik sama Bapak…”

Seusai kejadian, Tegar kerap minta dicarikan kaki kanannya yang putus, “Mbah, kakiku mana? Kakiku hilang…”

Di Polres Madiun, Puryanto menyesali perbuatannya. Ia berharap Depi dan mertuanya mau memaafkan dan menerimanya kembali. “Saya inginnya tidak bercerai. Saya mau membesarkan anak-anak, apalagi saya sudah membuat kesalahan sama Tegar. Saya ingin menebusnya kalau masih ada kesempatan,” katanya, sungguh-sungguh.

Namun harapan dan kesempatan Puryanto mungkin harus menunggu lama. Ia dijerat pasal berlapis: undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, perlindungan anak, serta pasal pidana tentang percobaan pembunuhan. Pengadilan Negeri Madiun, 25 November 2010, memvonisnya dengan hukuman 10 tahun penjara. [end]

Editor: Fahri Salam.
Peliputan ini disponsori oleh Eka Tjipta Foundation.

Note: Versi suntingan dari tulisan ini dimuat dalam majalah Good Housekeeping edisi Desember 2009 dan majalah Intisari edisi Januari 2012.
Iklan

3 pemikiran pada “Kisah Tegar dari Robahan

  1. Ping balik: Kisah Tegar dari Robahan « Pepyteknokra's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s