Memburu Teroris

Suatu malam di sebuah hotel di Magelang, Jawa Tengah tak satu pun kru tim ‘live report’ ANTV bisa tidur nyenyak. Perintahnya sangat jelas, seluruh tim harus siaga bergerak kapan pun malam ini, sambil menunggu perintah lanjutan. “Hand phone harus dalam posisi stand by,” ujar field producer ANTV, Insan Sadono. Saya pun merasakan kegelisahan itu, menanti dering ponsel. Padahal badan saya amat kelelahan setelah hampir seharian mendaki lereng Merapi di Yogya, dilanjutkan dengan perjalanan Yogyakarta-Magelang.

Pukul 02.00 dini hari. Sudah sejak 2 jam lalu saya berusaha tidur, tapi tak bisa lelap benar. Bunyi ponsel mengumpulkan seluruh kesadaran saya. Sepertinya ini saatnya.

Di tengah kegelapan dan dingin udara malam, satu-persatu kru mulai berkumpul di lobi depan hotel. Kebanyakan datang dengan wajah mengantuk. Rombongan berjumlah 11 orang; field producer, program director, 2 orang cameraman, teknisi, editor, security, 3 orang supir dan saya sebagai reporter. Pemimpin rombongan, Insan Sadono, mengatakan kami harus pergi menuju Wonosobo, Jawa Tengah. Misinya meliput penyergapan kelompok teroris jaringan Noordin M. Top. Tak banyak keterangan lainnya. Rasanya sudah seperti prajurit tentara saja kami ini, melaksanakan perintah tanpa banyak tanya.

***

Sejak awal, semua terasa serba misterius. Waktu itu, kami sedang meliput Gunung Merapi di Yogyakarta yang sedang dalam status siaga berpotensi meletus. Kemudian datang perintah dari Jakarta, agar tim bergerak menuju Magelang, Jawa Tengah, tanpa ada penjelasan apapun soal yang akan kami liput di sana.

“Ini ada perintah dari K-I untuk gulung SNG, sampeyan siapin tim untuk segera berangkat,” ujar koordinator liputan ANTV, Hanibal, melalui telepon. SNG atau Satellite News Gathering adalah perangkat live yang ditempatkan dalam sebuah mobil obi van.

“Emang ada apa?” tanya Insan.

“Sampeyan tahulah kalau ini maunya Pak K-I”, ujar Hanibal menutup pembicaraan. K-I maksudnya Karni Ilyas, pemimpin redaksi ANTV.

Beberapa menit berselang, wapemred ANTV, Uni Lubis, juga menelpon, “Bawa tim SNG ke Magelang, sekarang juga.”

“Magelangnya bagian mana? Pinggiran atau pusat kota?” tanya Insan lagi.

Gue juga belum tahu, berangkat aja dulu deh. Nanti dikontak lagi,” pembicaraan selesai.

Giliran Hanibal yang telpon balik, “San, yang tahu di kantor urusan ini cuma mbak Uni, saya, dan Yana. Hati-hati kalau ada orang lain yang tanya-tanya.”

Lepas Maghrib kami memasuki Magelang pinggiran, tanpa tahu persisnya tempat yang dituju. Kami pun lantas memarkir mobil di tepi jalan, menunggu perintah lanjutan. Komunikasi hanya instruksi-instruksi lewat telepon dari para petinggi di Jakarta, minim detil dan penjelasan. Sejam berlalu, belum juga ada kepastian, dua jam… tiga jam… hingga empat jam kami ditelantarkan. Bosan menunggu, kami pun pergi berkeliling di pinggiran Magelang, namun tak banyak yang bisa kami lihat. Suasana kota sungguh sepi. Sudah jam 10 malam. Tapi kemudian ponsel Insan berbunyi. Rupanya dari Uni Lubis, “San, kayanya nggak jadi malam ini. Bawa tim masuk hotel aja. Tapi pastikan mereka siap berangkat lagi anytime.”

Maka disinilah kami berada, sebuah hotel sederhana di Magelang.

Sekitar pukul satu dini hari, Insan mendapat telepon lagi. “San, gue Cuma mau ngetes loe doang. Ternyata loe alert, ya udah, loe gue kasih waktu 1 jam dari sekarang buat tidur. Siapin tim ya,” kata Uni.

Busyet, bangunin gue buat ngomong gitu doang. Gayanya udah kayak Mossad Israel banget,” ujar Insan.

***

Hampir pukul 02.00 dini hari. It’s the show time. “Bangunin semua teman, berangkat ke Wonosobo, kalau udah sampai sana telpon saya lagi,” komando dari Uni.

Menumpang dua mobil Suzuki APV dan satu mobil obi van, sesuai perintah, tim ANTV pun meninggalkan hotel di Magelang yang disinggahi tak sampai 3 jam itu, dan melaju menuju Wonosobo. Meski samar, setidaknya kami sudah punya bayangan, ini perburuan mengejar teroris. Kata Uni, diduga Noordin M. Top ada di sana.

Duo teroris, Noordin M. Top dan DR. Azhari, telah lama menjadi buruan Polri pasca peristiwa bom Bali I pada 12 Oktober 2002 yang merenggut lebih dari 200 nyawa. Sepanjang masa pelariannya, kedua warga negara Malaysia ini diduga mendalangi serangkaian aksi pengeboman lainnya, seperti bom di hotel JW Marriot Jakarta, 5 Agustus 2003, Bom Kuningan, 9 September 2004, dan Bom Bali II, 1 Oktober 2005. Bekerja sebagai tim, di balik berbagai aksi teror bom, Azhari dan Noordin berbagi peran. Azhari meracik bom, sedangkan Noordin bertugas merekrut pelaku bom bunuh diri. Upaya pengejaran selama 3 tahun baru membuahkan hasil, saat tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menembak mati DR. Azhari dalam penyergapan di sebuah rumah kontrakan di Batu, Malang, Jawa Timur, awal November 2005 silam. Sedangkan Noordin M. Top, masih misterius keberadaannya.

IRING-IRINGAN MOBIL TIM ANTV melaju kencang berkejaran dengan waktu. Di tengah jalan ada instruksi lanjutan, rombongan harus menemui pemimpin redaksi ANTV, Karni Ilyas, di hotel Asiana di Wonosobo. Menjelang pukul 3 dini hari, tim ANTV tiba di hotel. Mobil Suzuki APV masuk ke pelataran parkir yang berada di lantai basement, sedangkan mobil obi van diparkir agak jauh dari lokasi hotel supaya tak mengundang perhatian.

Sejumlah anggota polisi sedang ngopi saat mobil ANTV memasuki area parkir basement. “Ayo Mbak, Mas, sini kita ngopi-ngopi dulu,” ujar salah seorang polisi sambil menyeruput kopi panasnya. Ada sekitar 5 perwira polisi berpakaian preman, memakai celana panjang dan kaos oblong berwarna gelap. Pandangan saya langsung terpaku pada sejumlah pistol yang bertebaran di atas kap-kap mobil yang parkir, ada juga beberapa pucuk lainnya di kursi kayu tempat sejumlah polisi yang sedang mengopi. Tak jauh dari tempat saya berdiri, seorang polisi sedang mengencangkan tali sepatu lars nya, sambil mengangkat sebelah kakinya ke atas kap sebuah mobil yang terparkir, sebatang senapan revolver hitam menyembul dari balik ujung bawah celananya. Mendadak ketegangan mulai merayapi perasaan saya, rasa tegang bercampur kegairahan.

Sebuah mobil kijang hitam mengkilat tiba-tiba datang meluncur. Dari dalamnya keluar pemimpin redaksi ANTV, Karni Ilyas, dan Wakabareskrim Mabes Polri, Irjen (Pol) Gregorius Mere, yang akrab disapa Gories Mere, serta beberapa perwira polisi. Saya dan teman-teman sempat dibuat kaget menyaksikan Karni yang datang dengan tangan terbalut perban. Ada apa gerangan? Jangan-jangan ia terluka dalam perburuan teroris kali ini. Karni langsung menghampiri tim ANTV dan menyapa hangat kami satu-persatu.

“Kenapa Pak tangannya kok diperban?” tanya kami penasaran.

“Saya jatuh di kamar mandi hotel,” jawab Karni singkat.

Saya mengangguk prihatin sembari menahan senyum, lantaran mengingat pikiran saya tadi. Kemudian Karni pun memperkenalkan seluruh tim kepada Gories Mere.

Karni dan Gories sejak lama berkawan dekat. Hubungan istimewa antara Karni dan Gories, membuat sosok Karni begitu moncer dengan berbagai liputan eksklusifnya seputar terorisme. Wartawan senior kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 56 tahun silam ini, memang punya lobi khusus dengan para petinggi Polri. Suatu hubungan yang telah dibangunnya semenjak ia mengawali karir sebagai wartawan harian Suara Karya, pada tahun 1972. Perburuan kelompok teroris jaringan Noordin M. Top di Wonosobo pun adalah satu lagi bukti kepiawaian Karni membina hubungan dengan nara sumber. Begitu pun dengan liputan tim ANTV kali ini. Eksklusif. Tak ada wartawan lain yang ikut dalam operasi penyergapan kelompok teroris di Wonosobo ini.

Gories adalah pemburu teroris jitu. Semasa hampir 3 tahun jabatannya sebagai Wakabareskrim Mabes Polri, sebagian besar waktunya didedikasikan untuk mengejar dan menangkapi teroris-teroris Jamaah Al-Islamiyah –sebuah organisasi yang bercita-cita mendirikan sebuah Daulah Islamiyah atau pemerintahan Islam di kawasan Asia Tenggara– meski keberadaan organisasi ini sempat dibantah oleh Amir Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba’asyir, di persidangan. Kini Gories menjabat Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN), dengan pangkat Komisaris Jenderal.

Tak lama berselang, Wakapolri Komjen (Pol) Makbul Padmanegara datang. Berpakaian dinas lengkap, Makbul lalu menghampiri Karni yang segera menyambutnya hangat. Tidak sekedar berjabat tangan, keduanya berpelukan erat layaknya kawan dekat yang lama tak jumpa. Sambil berbincang akrab, keduanya berjalan menjauh, tak lama, Gories bergabung dan ketiganya terlihat berbicara serius, entah apa yang diobrolkan.

Lima belas menit kemudian, Karni dan para perwira tinggi Polri itu pergi meninggalkan hotel, menggunakan mobil yang sama, diikuti sejumlah mobil polisi lainnya. Meninggalkan tim ANTV tanpa pengarahan apa pun. Lagi-lagi kami hanya bisa menunggu.

Sekitar setengah jam menunggu, telpon dari Karni masuk, “Susul segera ke jalan raya Kretek. TKP ada di pinggir jalan raya. Ini udah mulai dar der dor”.

Supaya cepat, cameraman, Jhon Ardiansyah, diutus sendirian ke sana menumpang ojek.

OPERASI POLISI SEBENARNYA DIMULAI sejak pukul 3 pagi. Sabtu dini hari, 29 April 2006, Sutejo, salah seorang warga, sempat dikejutkan oleh kedatangan sejumlah aparat polisi ke rumahnya di pagi buta.

“Saya dari Mabes Polri, mau menangkap maling. Bapak tenang saja, jangan keluar rumah sampai selesai pekerjaan,” ujar seorang petugas Polri.

Sementara tetangga Sutejo, Badrani, yang rumahnya berada persis di sebelah rumah kontrakan para tersangka teroris, sudah diungsikan sehari sebelumnya. Rumah itu lalu dijadikan tempat pengintaian aparat. Namun hanya sedikit warga yang tahu soal operasi berbahaya ini, sebagian besar lainnya justru sedang lelap dalam tidur. Sekitar pukul 4 dini hari, penyergapan dimulai. Rentetan tembakan sontak membangunkan seisi desa.

“treet…treeet…treet……”

“treet…treet….treeet……”

Adu tembakan terjadi antara polisi dan teroris. Waluyo, warga sekitar, memberi kesaksian, “Bunyinya seperti mercon renteng, saya takut dan masuk ke kamar.” Lalu, BUMMM!!! Granat membahana lima kali, “Suasananya ngeri sekali,” ungkap Waluyo lagi.

Hasilnya, dua orang di dalam rumah itu tewas, mereka adalah Abdul Hadi dan Jabir. Menurut Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto, Abdul Hadi dan Jabir adalah dua sosok yang berbahaya, Abdul Hadi adalah instruktur peracik bom, sedangkan Jabir terlibat dalam peledakan bom di hotel JW Marriot dan Kedubes Australia. Namun polisi tidak menemukan Noordin M. Top yang diduga sempat tinggal di kontrakan tersebut.

Baku tembak antara petugas tim Densus 88 Anti Teror dan para tersangka teroris berlangsung sekitar 1 jam. Seorang warga, Sutejo, yang mengintip dari jendela mengatakan ia melihat belasan orang berpakaian hitam-hitam menembaki rumah kontrakan berwarna biru itu. Setelah tidak ada tembakan balasan dari dalam rumah, aparat lalu menyerbu masuk.

Hingga pukul 5 pagi, suara tembakan sesekali masih menyalak mengisi udara. Cameraman ANTV, Jhon Ardiansyah, akhirnya sampai juga di sekitar lokasi penyergapan, setelah sempat kesasar sana-sini. Mendengar bunyi tembakan, Jhon mempercepat langkahnya hingga setengah berlari, sambil memeluk kamera. Bukan pekerjaan mudah, karena jalur yang diambil melewati sawah dan menerobos pepohonan. Jalanan utama praktis sudah diblokir sejak jam 4 pagi.

Nyaris satu jam berjalan, akhirnya Jhon berhasil melihat rumah kontrakan tempat persembunyian para tersangka teroris itu. Sepenglihatannya, ada puluhan pasukan tim Densus 88 Anti Teror yang mengarahkan senjata ke arah rumah. Sejumlah polisi bersiaga di depan rumah, 3 hingga 5 lainnya masing-masing tersebar di atas bangunan yang berada di sisi kiri dan kanannya, dan banyak lainnya berada di seberang rumah. Usai sejenak mengambil gambar, Jhon pun beranjak hendak mendekat. Namun baru sejengkal bergerak, tiba-tiba langkahnya dihadang seorang petugas polisi, ajudan Kapolres Wonosobo rupanya.

“Kemarikan kamera kamu!”, bentaknya kasar.

“Gak bisa Pak, saya wartawan, ini kamera saya”, ujar Jhon meradang, sembari menepis tangan polisi itu.

Tapi apa daya, Jhon tak bisa melawan manakala polisi itu mengambil paksa kaset di dalam kameranya. Beruntung, akhirnya Jhon bisa lolos dari pengawasan aparat yang berjaga, dan mendekat ke lokasi. Di sana, ia melihat seorang lelaki kurus, kulit sawo matang, dan berambut gondrong, di bawa keluar dari dalam rumah dengan tangan di borgol. Lelaki itu adalah Mustafirin, yang diduga salah satu kaki tangan Noordin M. Top. Selain Mustafirin, polisi juga menangkap Sholehudin.

Selain menangkap sejumlah tersangka pelaku teror bom, Kapolri Sutanto mengatakan, pihaknya juga menemukan sejumlah barang berbahaya di dalam rumah kontrakan itu, yakni dua detonator bom siap ledak, senapan laras panjang beserta amunisinya, dan rompi berikut tas ransel yang diduga merupakan perlengkapan aksi bom bunuh diri.

MENJELANG SUBUH, OBI-VAN ANTV mulai bergerak mencari lokasi penyergapan yang, menurut Karni, berada di Desa Binangun, Kecamatan Kretek, Wonosobo. Tak dinyana, jalan menuju lokasi telah diblokir. Negosiasi berulang kali tidak membuahkan hasil, kami tetap dilarang melintas. Matahari semakin meninggi. Kesal sekali rasanya menunggu begini, sementara kami tahu beberapa puluh kilometer di depan sana momen-momen berharga aksi penyergapan teroris jaringan Noordin M. Top sedang berlangsung. Sampai di sini, tidak ada lagi instruksi maupun informasi dari para pimpinan di Jakarta, begitu pun dari Karni.

Sekitar pukul 05.30 WIB kami diperkenankan melintas, tapi kemudian lagi-lagi terhenti lantaran pemblokiran jalan. Ada 3 kali pemblokiran polisi yang menghadang kami, terakhir, hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari lokasi penyergapan.

“Duar…duar…duar…,” bunyi tembakan memecah keheningan pagi.

“Bummm!” kali ini mirip bunyi ledakan.

Mendadak kami sadar, kami telah kehilangan momen berharga itu. Tapi masih ada harapan pada cameraman ANTV, Jhon Ardiansyah, yang belum ketahuan kabarnya.

Hampir pukul 07.00 WIB, pemblokiran akhirnya dibuka. Semua kendaraan berebut melintas, jalanan dijejali mobil dan motor, berikut ratusan warga yang ingin mendekati lokasi. Mobil obi van ANTV yang berukuran besar dibuat kerepotan menerobos padatnya jalan. Padahal perintah terakhir dari kantor adalah melakukan ‘live report’ secepat mungkin dari lokasi kejadian.

Lokasi penyergapan adalah sebuah rumah kontrakan kecil, berada di jalan utama yang menghubungkan Banjarnegara dan Semarang. Letaknya tidaklah menyendiri, di kanan dan kirinya terdapat rumah warga dan pool DAMRI, di belakang terbentang hamparan kebun dan pepohonan dengan lembah yang rimbun di sisi baratnya, sementara di seberang terdapat garasi bus Sinar Jaya.

Saat kami tiba, rumah kontakan itu sudah dipasangi garis polisi. Kaca-kaca rumah pecah dan kepingannya berserakan terkena tembakan. Sebagian plafon rumah hancur, begitu pun dengan pintu di bagian depan. Pada radius 10 meter dari rumah, sejumlah anggota tim Densus 88 Anti Teror berjaga sambil mengokang senjata. Mereka berpakaian hitam-hitam, mengenakan rompi anti peluru dan pelindung kepala yang juga berwarna hitam.

Setelah sempat membuka jalan selama 15 menit, pemblokiran kembali dilakukan. Petugas polisi pun membuat barikade ketat dalam radius sekitar 25 meter dari lokasi, untuk memperlancar pekerjaan polisi melakukan penyisiran. Diduga, di dalam rumah terdapat bahan peledak.

Tim ANTV, segera menyiapkan piranti live. Mobil obi van ANTV diparkir tepat di seberang bekas rumah kontrakan para tersangka teroris tersebut. Sementara warga yang berkerumun terus berupaya merangsek mendekati lokasi meski sudah dilarang. Komandan tim Satgas Bom Polri, Brigjen (Pol) Surya Dharma berkali-kali turun tangan menertibkan warga.

“Semuanya mundur!” bentaknya. “Tidak ada yang boleh melintasi barisan polisi.”

“Lokasi ini belum aman, bisa sewaktu-waktu meledak,” teriaknya seraya mengusir warga yang membandel.

Saya dan cameraman yang harus bolak-balik melintas di depan lokasi yang steril untuk mencari data dan gambar, sempat juga kena damprat.

“Dik, sekali lagi saya liat kamu lewat, kamu bisa kena masalah,” hardiknya kesal, setelah sempat sebelumnya membiarkan kami lewat beberapa kali. Ia juga mewanti-wanti anak buahnya supaya rapat-rapat menutup barisan.

Brigjen (Pol) Surya Dharma adalah orang kepercayaan Gories, keduanya telah lama bekerja sama dalam upaya perburuan teroris jaringan Jamaah Al-Islamiyah. Sebagai komandan tim Satgas Bom Polri, Surya Dharma, adalah figur penting di balik keberhasilan penangkapan para teroris kelas kakap, seperti Dr. Azhari, Imam Samudra, atau pun Amrozi, berikut kaki tangannya. Tim Satgas Bom adalah pasukan ‘bawah tanah’, Gories menyebut timnya ini sebagai ‘Silent Warrior’. Lantaran cara operasinya itu, Tim Satgas Bom tidak mendapatkan publikasi luas seperti halnya Tim Densus 88 Anti Teror. Kini tim Satgas Bom telah lebur ke dalam tim Densus 88 Anti Teror.

Tapi apa boleh buat, saya terpaksa berupaya kembali menerobos barikade demi menyelamatkan ‘live’. “Ami, Pak Karni 10 menit lagi mau naik live, mike dimana?” tanya field producer saya, Insan, melalui ponsel. Buru-buru saya menyambar mike dan berlari mengarah obi van. Sayangnya para polisi yang berjaga tak lagi seramah tadi, saya tak diperkenankan lewat.

Tak kehabisan akal, saya berlari ke halaman rumah warga yang letaknya persis di samping atas tempat obi van ANTV parkir. Dari sini saya bisa melihat Karni Ilyas sedang bersiap melakukan laporan langsung, tanpa mike. Untuk mengakalinya, digunakan sambungan ponsel supaya bisa mengirim suara ke studio di Jakarta. Saya melirik jam, tinggal 1 menit lagi.

“Mas Sugeng, ini mike-nya aku lempar dari atas ya, aku masukin tas biar nggak rusak,” ujar saya berteriak memanggil kru ANTV yang ada dekat obi van.

Nyaris bersamaan dengan tas saya yang mendarat di tanah, program director ANTV, Ari Prasetyo, memberi aba-aba, “Stand by, lima… empat… tiga… dua… satu…, cue”.

Akhirnya, Sabtu, 29 April 2006, sekitar pukul 07.50 WIB, ANTV menjadi media pertama yang menyiarkan peristiwa penyergapan tersangka teroris di Wonosobo. Dengan tangan terbalut perban, Karni Ilyas melaporkan langsung peristiwa yang kemudian menjadi headline di berbagai surat kabar keesokan harinya. Mungkin penonton dibuat terkesima dengan penampilan Karni, tidak saja lantaran laporan eksklusifnya tapi juga berkat efek dramatis ‘kecelakaan kamar mandi’ tempo hari. Laporannya, polisi berhasil meringkus sejumlah tersangka teroris yang mengotaki berbagai aksi teror bom di ibu kota, dua diantaranya tewas dalam baku tembak, namun Noordin M. Top yang diduga sempat berada di lokasi penyergapan berhasil lolos.

Jakarta, Mei 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s