Buku Pintu Surga

Membaca masuk salah satu daftar hobiku. Paling tidak, itu yang kutulis dalam ‘buku kenangan’ milik teman-teman masa kanak-kanakku ataupun curriculum vitae lamaran kerja. Kamu tahu tidak apa itu buku kenangan? Semasa SD, itu tahun 80-an, setiap saat perpisahan kelas sesama murid akan bertukar buku untuk mengisi biodata dan menuliskan kata kenangan di dalamnya. Itulah sebab disebut ‘buku kenangan’.

Semasa sekolah, koleksi buku bacaanku adalah komik, novel remaja karya Enid Blyton, macam kisah sekolah asrama Malory Towers, atau kelompok detektif cilik Pasukan Mau Tahu dan Lima Sekawan. Saat menginjak bangku kuliah, mulai bertambah jenis dengan buku-buku soal jurnalistik dan komunikasi. Selepas kuliah dan bekerja, lantaran kesibukan, praktis aku jarang membaca dan membeli buku. Tapi tentu tetap aku sempatkan membeli barang satu-dua. The 8th Habit : Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan karya Stephen Covey adalah salah satunya. Buatku, ini buku yang amat inspiratif.

Aku bersyukur buku setebal 571 halaman ini punya versi terjemahan, kalau tidak, pasti aku dibuat repot membolak-balik kamus demi bisa paham isinya. Itu pikirku. Tapi nyatanya, selesai membaca aku malah dibuat bingung. Serius, aku ngga mendapat makna dari buku ini. Buku Covey ini banyak bicara dalam tataran filosofis, topik yang aku sukai tapi terkadang bisa bikin mumet. Sempat menggerutu lantaran sudah mahal membeli, capai membaca tapi tidak mendapat apa-apa. Malah aku sempat mempertanyakan kapasitas berpikirku hehe… Tapi pantang menyerah, aku pun membaca ulang buku ini, dan betul-betul membaca kembali lembar demi lembarnya plus tambahan spidol dan stabilo untuk menandai poin-poin penting. Saat aku sampai pada bab 3 berjudul Pemecahan Masalah, disini aku temukan jawabannya. Eureka! Rupanya aku ngga bodoh-bodoh amat kok, sampai aku dibuat senyum-senyum sendiri.

Rupanya si empunya buku, Stephen Covey, sudah mahfum soal masalah yang akan dialami para pembaca buku ini, seperti halnya aku. Coba simak uraian ini. Ada sekurangnya empat pendekatan yang dapat Anda ambil dalam menerapkan hal-hal dalam buku ini pertama, membaca saja buku ini sampai akhir lalu memutuskan apa yang akan Anda terapkan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan Anda. Ini adalah cara yang akan diambil oleh kebanyakan orang. Kedua, membaca seluruh buku ini lalu memanfaatkan pemahaman umumnya serta motivasi yang terkumpul sejalan dengannya, lalu kembali membaca buku ini untuk kedua kalinya, kali ini dengan maksud menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, ini pendekatan yang Covey yakini memberi manfaat paling besar adalah memakai buku ini sebagai program pengembangan pribadi selama setahun, ambil satu bulan untuk masing-masing dari 12 bab. Keempat, menyesuaikan pendekatan ketiga dengan kerangka waktu yang cocok dengan irama hidup yang Anda sukai.

That’s it!

Berarti aku mempraktekkan pendekatan kedua. Sebelumnya, aku pakai pendekatan pertama dengan melalap habis buku dalam hitungan hari. Pada kali kedua, aku mulai mendapat pencerahan dari buku ini. Pertumbuhan kesadaran dan inspirasi. Dan percayakah kamu, aku bahkan membaca ulang buku ini untuk ketiga kalinya, bukan karena kebingungan tapi untuk lebih meresapkan nilai-nilai di dalamnya. Hasilnya, aku mulai membuat program yang aku terapkan dalam kehidupanku sehari-hari.

Ada begitu banyak pencerahan dalam buku ini, yang kalau dipilah-pilah bisa menjadi bahan ratusan tulisan inspiratif. Berikut aku kutipkan sekelumit bagian yang menurutku istimewa, soal kebiasaan memanfaatkan waktu.

Saya berkeyakinan kuat bahwa seharusnya kita mengurangi sebanyak mungkin waktu untuk nonton TV dan memanfaatkannya untuk membaca — membaca secara luas, mendalam, di luar bidang-bidang yang telah kita ketahui dan di luar bidang pekerjaan kita. Kita harus menilai secara seksama untuk apa saja pemakaian waktu kita dan seberapa banyak waktu yang kita sia-siakan, dan kemudian membentuk disiplin mental yang amat kuat untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Amat banyak bukti bahwa orang menghabiskan hampir setengah dari waktu mereka untuk melakukan hal-hal tidak penting. Tetapi semakin kuat disiplin seseorang dalam berfokus pada hal-hal yang penting maka semakin besar keyakinan dalam hatinya, sehingga akan menjadi amat  mudah untuk mengatakan “Tidak” dengan senyum bahagia terhadap segala gangguan yang sudah pasti akan datang.

Orang yang melakukan komitmen untuk pembelajaran, pertumbuhan dan perbaikan diri secara terus-menerus akan menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk berubah, beradaptasi dengan perubahan kenyataan kehidupan, dan secara fundamental akan memiliki kemampuan untuk memberi hasil. Jika kita memiliki pikiran yang kuat, aktif, waspada, tumbuh dan selalu belajar, kita akan mampu “melompat dengan mantap.”

Ini adalah kutipan yang diambil dari bagian lampiran 1 tentang Pembelajaran dan Pendidikan Terus-Menerus Sistematis dan Disiplin. Ada banyak lagi nilai-nilai inspiratif yang terkandung dalam buku ini. Satu hal yang bisa saya pahami, pada dasarnya kehidupan ini adalah untuk memenuhi panggilan jiwa manusia, yang bermuara pada kesadaran spiritualitas yaitu the 8th habit. Coba simak bagaimana Covey kemudian menutup bukunya, ia mengutip petuah almarhum sang kakek, Sthephen L. Richards, yang berbunyi : Kehidupan adalah misi dan bukan sebuah karir, dan tujuan dari semua pendidikan maupun pengetahuan kita adalah agar kita bisa lebih baik mewakili Dia dan melayani misi kehidupan itu dalam nama-Nya dan menuju tujuan-tujuan-Nya. Maka menurut saya, buku bukan saja jendela dunia, bahkan bisa jadi pintu surga.


Iklan

4 pemikiran pada “Buku Pintu Surga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s