Early to Bed Early to Rise

“Early to bed early to rise makes a man healthy, wealthy and wise,” adalah peribahasa populer yang diucapkan oleh tokoh Amerika Serikat, Benjamin Franklin. Ini terdapat dalam salah satu kumpulan kata-kata bijak Franklin yang dimuat dalam kalender Poor Richard’s Almanac, tepatnya pada lembaran kalender bulan Oktober 1735. Aku sendiri mengenalnya lewat tagline salah satu radio swasta di Jakarta. Lantas apa pentingnya tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi sehingga seorang tokoh seperti Franklin perlu mengucapkannya? Tak tanggung-tanggung, menurutnya kebiasaan tersebut berpengaruh terhadap kesehatan, kesejahteraan dan kebijaksanaan seseorang. Untuk memahami hal itu, aku lebih suka  menelaahnya dari sisi kesehatan sebab paling terukur.

Tidur adalah aktivitas yang amat penting perannya dalam kesehatan. Berbagai penelitian telah membuktikan hal itu. Dalam Wikipedia, tidur dijelaskan sebagai keadaan kesadaran yang berubah ditandai dengan berhentinya aktivitas sensorik dan motorik. Saat tidur terjadi proses pertumbuhan dan regenerasi sel dan jaringan, menyangkut sistem kekebalan tubuh, sistem saraf, otot dan tulang.

Waktu tidur dikontrol oleh jam sirkadian, keseimbangan tidur-bangun, dalam batas tertentu, juga dipengaruhi oleh perilaku. Jam sirkadian adalah sistem internal tubuh, berupa siklus 24 jam, terkait proses biokimia, fisiologis dan perilaku dari sebuah entitas hidup. Namun siklus ini bersifat adaptif terhadap lingkungan berdasarkan petunjuk-petunjuk eksternal, seperti siklus terang-gelap bumi, suhu, interaksi sosial, manipulasi farmakologis dan pola makan atau minum.

Cahaya adalah petunjuk eksternal yang paling kuat mempengaruhi ritme sirkadian. Agaknya ini disebabkan oleh kehadiran hormon melatonin yang menimbulkan rasa kantuk dan menurunkan suhu tubuh. Pasalnya cahaya akan menghambat pembentukan melatonin yang hanya berproduksi di saat kegelapan. Itulah sebab hormon melatonin disebut hormone of darkness. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa dalam siklus 24 jam manusia, malam adalah waktu berisitirahat dan siang beraktivitas.

Bagaimanakah tidur yang efisien dan efektif  agar berfaedah bagi kesehatan? Dalam buku “Functional Genomics of Sleep and Circadian Rhythm Invited Review: Integration of human sleep-wake regulation and circadian rhythmicity” dijelaskan seseorang dianjurkan tidur setidaknya enam jam sebelum suhu tubuh terendahnya, dengan catatan, itu ditentukan oleh adanya dua penananda sirkadian, yakni kadar melatonin maksimum pada saat pertengahan episode tidur dan suhu tubuh minimum sesaat menjelang bangun. Menurut buku The Secret of 5 Elements karya Aleysius Gondosari, tidur sehat sebaiknya dimulai pukul 21.00, sebab pada waktu tersebut hormon melatonin mulai dilepaskan tubuh. Sedangkan Wikipedia mengatakan bahwa melatonin hanya dilepaskan pada malam hari dan mencapai kadar maksimumnya pada tengah malam, lalu semakin menurun hingga pagi hari.

Tidur merupakan obat alami yang penting untuk penyembuhan. Dokter pun selalu menyarankan orang sakit untuk banyak beristirahat, bahkan menambahkan obat agar pasien bisa tidur nyenyak. Kekurangan tidur dapat menyebabkan kelelahan mental, emosional dan fisik. Penelitian oleh Universitas California menunjukkan mereka yang tidur selama 6-7 jam setiap malam berusia lebih panjang. Namun tidur berlebihan pun tidak baik. Studi lain menunjukkan tidur lebih dari 7-8 jam sehari dapat mengurangi harapan hidup, tetapi ini ditengarai dipengaruhi pula oleh adanya faktor depresi.

Jika diandaikan waktu tidur terbaik adalah pukul 21.00 atau 22.00, lalu ditambah 6-7 jam, maka waktu bangun tidur terbaik adalah pukul 4 atau 5 pagi. Ringkasnya adalah “Early to bed early to rise.”

Dalam pemahamanku, ini selain mengingatkan untuk tidak banyak begadang, juga tidak lagi melewatkan shalat Subuh, syukur-syukur bisa bertahajud juga 😉

Iklan

Satu pemikiran pada “Early to Bed Early to Rise

  1. Aku setuju dengan tulisan ini. Bagi muslim, sangat dianjurkan untuk bangun di 1/3 terakhir malam untuk qiyamullail, menyongsong shubuh, dan dilanjutkan dengan beraktifitas untuk meraih berkah Allah.
    Sebenarnya ada saat kritis datangnya kantuk yaitu antara pukul 11 malam hingga pukul 1 dini hari. Secara alami, rasa kantuk yang hebat ini mungkin dipicu juga oleh menurunnya suhu di saat transisi malam dan dini hari.
    Konon, bila kita tidur sebelum saat kritis dan bangun setelah saat kritis lewat maka badan akan segar dan tidak akan merasa begadang.
    Sebagai contoh, saya sering melakukan tidur menjelang pukul 23 dan bangun pukul 02, atau tidur pukul 22 dan bangun pukul 01. Tidur hanya 3 jam, dan saya bisa menjalani aktifitas keesokan harinya tanpa merasa habis begadang.
    Hasilnya akan beda bila saya tidur pukul 01 dan bangun pukul 06 atau 07 pagi, saya akan merasa lemas kerna habis begadang walaupun sudah tidur 5 atau 6 jam. Begitu. Ada yang mau mencoba ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s