Be a Manager and a Leader

A manager versus a leader, dua hal yang menjadi studi panjang tinjauan berbagai teori kepemimpinan. Berikut ini adalah kutipan sejumlah tokoh tentang esensi perbedaan keduanya:

“Pemimpin adalah orang yang melakukan hal-hal yang benar, manager adalah orang yang melakukan hal dengan benar,” kata Warren Bennis, pelopor studi kepemimpinan kontemporer.

“Kepemimpinan berurusan dengan upaya untuk menghadapi perubahan, manajemen berurusan dengan upaya untuk menghadapi kompleksitas,” ujar John Kotter, profesor dari Harvard Business School.

“Pemimpin peduli terhadap apa makna berbagai hal bagi orang-orangnya, manager peduli pada bagaimana hal-hal dikerjakan,” kata Abraham Zaleznik, profesor Harvard Business School.

“Pemimpin adalah arsitek, manajer adalah pembangun,” ujar John Marotti, CEO The Enterprise Group.

“Pemimpin berfokus pada penciptaan visi bersama, manajemen adalah disain pekerjaan, berurusan dengan kontrol,” kata George Weathersby, CEO American Management Association.

Melihat definisi di atas maka terang-benderang apa perbedaan antara pemimpin dan manajer. Pemimpin berurusan dengan visi dan pemberdayaan, sedangkan manajer berurusan dengan sistem dan pengaturan. Dua hal itu sama pentingnya, akan pincang  jika yang satu tidak disertai dengan yang lain.

Stephen Covey menjelaskan hal ini dalam bukunya The 8th Habit dengan amat baik, “Anda memimpin (memberdayakan) orang-orang dan Anda mengelola dan mengontrol barang dan hal.” Setiap organisasi (keluarga, kantor, bisnis bahkan negara) berurusan dengan orang dan barang, maka kepemimpinan dan manajerial harus bekerja berdampingan. Kunci perbedaan antara keduanya ada pada objeknya, manusia dan barang. Manusia mempunyai  jiwa yang mutlak dihargai agar bisa mendapat manfaat maksimal dari orang bersangkutan, ini disebut memberdayakan. Barang adalah benda mati yang perlu dikelola dan dikontrol, sebab kita tidak bisa memimpin barang.

Memimpin dengan baik berarti bisa  memahami ‘unsur pembentuk’ manusia, ini lagi-lagi diambil dari The 8th Habit, yakni tubuh, pikiran, hati dan jiwa. Semua itu mencerminkan empat dimensi kehidupan yang universal, yang juga mencerminkan empat kebutuhan motivasi dasar manusia : hidup (bertahan hidup), menyayangi (perasaan keterhubungan), belajar (tumbuh dan berkembang) dan meninggalkan nama baik (makna dan sumbangan). Jadi, pastikan bahwa Anda membayar anak buah dengan adil, memperlakukannya dengan baik, memanfaatkannya secara kreatif, dan memberi kesempatan untuk bertumbuh dengan cara-cara yang berprinsip.

Manusia mempunyai kehendak bebas memilih, sehingga orang-orang Anda pun bisa memutuskan seberapa besar bagian dari diri mereka yang akan diabdikan dalam pekerjaannya, dan itu tergantung pada bagaimana mereka diperlakukan.

Buku The 8th Habit banyak memberi inspirasi tentang kepemimpinan. Uraian Covey soal empat dimensi manusia utuh tersebut lantas aku terapkan dalam organisasi yang kupimpin. Hasilnya membawa perubahan yang berarti. Pertama, memastikan anak buah digaji secara adil, cukup kebutuhan istirahatnya, kesehatan dsb. Kedua, memperhatikan kebutuhan emosionalnya, pemimpin harus menyempatkan hadir di tengah-tengah anak buah baik dalam artian fisik maupun spirit. Berkomunikasilah dengan mereka dan beri perhatian personal pada tiap-tiap individu. Pemimpin pun sesekali harus turun ke lapangan membantu hal-hal teknis pekerjaan, ini selain membawa spirit juga memberi kesempatan anak buah untuk bisa mencontoh bagaimana ‘standar kinerja’ yang diharapkan. Ketiga, melibatkan anak buah dalam diskusi-diskusi terkait perkembangan usaha, meminta saran, mendengarkan pendapat mereka. Hilangkan pemikiran ‘pimpinan selalu benar’ bahkan akui secara terbuka jika Anda membuat kesalahan. Beri juga keleluasaan pada anak buah untuk mengambil tindakan dan keputusan, pada hal-hal yang tidak krusial jangan membatasi dengan sistem prosedural teknis. Hal ini akan berdampak signifikan terhadap peningkatan inisiatif dan tanggung jawab anak buah. Keempat, mudah memuji dan menghargai kinerja yang baik, namun tegas menghukum kesalahan. Warnai kinerja perusahaan Anda dengan prinsip kejujuran dan kebaikan.

Hal penting lainnya adalah mengubah cara pikir atau mindset. Jika Anda menginginkan seseorang berubah, maka ubahlah pemahamannya terhadap sesuatu. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi penurunan kualitas pelayanan dalam organisasi. Aku putuskan me-recharge orang-orangku dengan berbicara  person to person soal perkembangan perusahaan, bagaimana standar kinerja yang diharapkan dari karyawan dan mengapa itu penting, apa tugas dan kewajiban employer dan employee, apa visi dan misi usaha ini dsb. Hasilnya, lagi-lagi, perbaikan yang signifikan. Pemimpin tidak bisa sekedar memerintah ini dan itu, tanpa memberi pemahaman mengapa hal itu penting dikerjakan. Sesuatu yang dilakukan karena kewajiban hanya akan berjalan jika ada pengawasan, berbeda halnya jika dilandasi kesadaran.

Saya akan menutup tulisan ini dengan mengutip perkataan Harold S. Greenen, mantan CEO perusahaan global ITT, “Cara terbaik mengilhami orang agar mencapai kinerja yang unggul adalah meyakinkan mereka, dengan segala yang Anda lakukan dan dengan sikap Anda setiap hari, yang menunjukkan bahwa Anda mendukung mereka dengan sepenuh hati.”

Iklan

Satu pemikiran pada “Be a Manager and a Leader

  1. Ping balik: “Modal” Jadi Wirausahawan « Dance with Style

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s