Hidup Itu Sulit

Kalimatnya pendek saja, “Hidup itu sulit.”

Namun membaca kalimat pertama buku The Road Less Travelled karya M. Scott Peck ini, aku dibuat sejenak berpikir dan terjeda melanjutkan membaca. Ungkapan ini agak aneh. Sejauh pengetahuanku, kebanyakan buku motivasi akan memberi kata-kata positif dan menyemangati pembacanya, bukan menebar pesimisme apalagi menakut-nakuti.  Penasaran, aku lanjutkan membaca paragraf demi paragrafnya. Pada halaman ketiga, terdapat kutipan tokoh Amerika Serikat, Benjamin Franklin, berikut ini, “Ajarilah hal-hal yang menyakitkan.” Wah wah!

Buku setebal 416 halaman ini kudapat dari hasil berburu di pasar buku loak Senen, tempo hari. Niatnya mencari buku biografi mantan Kapolri, Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan karya Ramadhan KH, tapi seharian mencari tidak kunjung ketemu. Aku akhirnya membeli 4 buku lawas lain, total seharga Rp 100.000-an saja, salah satunya buku karya M. Scott Peck ini.

Menurut Peck, hidup memiliki serangkaian masalah tanpa akhir, maka hidup itu selalu sulit dan dipenuhi rasa sakit. Itu adalah kebenaran luar biasa dan salah satu kebenaran terbesar. “Bukan main… ini buku motivasi yang aneh,” gumamku berkerut dahi sambil terus membaca. Peck, dalam bukunya, mengatakan begitu kita mengakui kebenaran bahwa hidup itu sulit maka  hidup menjadi lebih mudah untuk dijalani, sebab kita telah bisa menerima fakta tersebut, sehingga itu tidak lagi menjadi masalah. Namun banyak orang yang tidak melihat kebenaran itu. Justru selalu mengeluhkan masalah, hambatan, dan kesulitan hidup. Seolah-olah hidup itu biasanya mudah, malah seharusnya mudah.

Nah, pada bagian ini sedikit-sedikit aku mulai memahami landasan berpikirnya.

Hal yang membuat hidup menjadi sulit, menurut Peck, adalah karena proses untuk menghadapi berbagai permasalahan akan menimbulkan rasa sakit seperti frustasi, kesedihan, kemarahan, ketakutan, penyesalan, penderitaan dsb. Rasa sakit dalam diri itulah yang membuat kita menyebutnya sebagai masalah. Namun dalam semua proses penemuan dan pemecahan masalah itu, justru hidup memiliki maknanya. Masalah menciptakan keberanian dan kebijaksanaan bagi kita, sebab dengan masalah kita berkembang secara mental dan spiritual. Karenanya orang bijak belajar untuk tidak takut, melainkan menerima masalah dan rasa sakit yang ditimbulkan oleh masalah.

Masih menurut Peck, kebanyakan dari kita memilih menghindari masalah dan bukan menghadapinya secara langsung. Padahal dalam kasus apapun, ketika kita menghindari penderitaan logis yang timbul karena mengatasi masalah, maka kita juga menghindari perkembangan jiwa kita. Kita berhenti berkembang, dan jiwa kita akan semakin menyusut. Jadi, mari ajari diri kita tentang kebutuhan untuk menderita dan menghargai nilai dari penderitaan itu.

Well, buatku, ini wawasan yang menarik dan bagus. Meski terkesan keras dan menakutkan, tetapi selalu ada hal yang bisa dicermati dari setiap pemikiran. I think this is so cool. Thumbs up!

Iklan

3 pemikiran pada “Hidup Itu Sulit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s