My Oldest Dream

What is your oldest dream that hasn’t been come true?


Musik adalah sarapan pagiku. Ritualnya, setelah membuka jendela kamar lebar-lebar untuk menyesap sejuknya udara pagi, aku menyalakan radio tape, menggonta-ganti gelombang radio mencari lagu yang enak di kuping, menyetel volumenya cukup keras hingga bisa terdengar penghuni kamar sebelah, lalu berjoget dan bernyanyi.

Pilihan paling pas memulai hari adalah up-beat music, paduan lengkingan gitar yang dinamis, betotan bass yang rapat dan bersemangat, diimbuhi gebukan drum yang menghentak. Sedap! Rasanya seperti mendapat suntikan energi instan.

Buatku, tiada hari tanpa musik. I love music since I was a child. Aku ingat benar, waktu masih kanak-kanak, sebelum tidur aku biasa menyanyikan keras-keras lagu Gelas-gelas Kaca milik Nia Daniati. Padahal itu sekitar jam 9 malam! Aku juga pernah dimarahi ayah karena menyetel musik kencang-kencang di saat semua orang tidur siang. Lama-kelamaan, tidak sekedar menikmati musik, aku ingin juga bermain musik. Alat musik yang bikin aku kesengsem adalah gitar, gara-gara melihat kakak perempuanku yang ikut kursus gitar. Dia terlihat keren sekali menenteng gitar, yang besarnya mungkin nyaris sama tinggi dengan badannya sendiri. Sesekali pernah juga aku melihatnya berlatih gitar di kelas, aku dibuat semakin terpesona. Dentingan gitar klasiknya terdengar amat nyaman di kuping. Sejak saat itu, bermain gitar jadi salah satu impianku.

Ketika kuliah, kegemaranku bermusik tersalurkan lewat band kampus, bukan sebagai pemain musik apalagi gitaris, tapi vokalis. Maklum hingga sepuluh tahun kemudian sejak mimpiku dulu itu, aku belum juga punya kesempatan belajar main gitar. Biar begitu, menjadi vokalis band adalah salah satu pengalaman paling asyik dan berwarna dalam hidupku.

Sampai suatu hari di Bandung, aku nekad membeli gitar di sebuah toko alat musik, meski belum bisa memainkannya. Harganya 500.000 rupiah, sebuah gitar akustik berwarna coklat. Rasanya senang sekali! Buatku, ini langkah awal mewujudkan impianku itu.

Tak lama berselang, gitaris band-ku bersedia mengajariku bermain gitar. Tentu saja tawaran itu kusambut suka cita. Setidaknya ada 5 atau 6 kali sesi latihan. Lumayan, aku bisa membawakan dua-tiga lagu, tapi tentu saja, levelnya masih teramat sangat amatiran!!! Sayangnya, lantaran kesibukan, kursus gratisan itu berhenti di tengah jalan. Alhasil kemampuan bergitar-ku mentok, hanya bisa gonjrang-gonjreng membawakan tiga buah lagu yang itu-itu juga. Hingga lima belas tahun kemudian, aku sampai sudah lupa semua kunci-kunci permainan gitar.

Gitarku satu-satunya itu, kini masih tersandar manis di pojok kamar. Nyaris tak pernah dimainkan. Gagang atasnya retak karena terjatuh, sepertinya kesenggol si bibi waktu menyapu kamarku, dua buah senarnya putus karena tidak pernah aku kendorkan, ini lantaran aku khawatir tidak bisa menyetelnya kembali. Maklum, waktu kursus gratisan dulu, aku lupa belajar bagaimana cara menyetel senar-senar gitar supaya bunyinya tidak fals.

Sampai sekarang, tiap kali melihat gitar itu, aku tahu, aku belum melupakan impian masa kecilku, bisa bermain gitar. Yup, that’s my oldest dream that hasn’t been come true.

Iklan

8 pemikiran pada “My Oldest Dream

  1. Ya ampuun. Ayo sini..sini, kuberi ingat 3 kunci dasar main gitar. Ku jamin, dengan 3 kunci itu kau bisa mainkan semua lagu yang pernah dibuat. Ayo Rahmi, kuatkan tekad. Wujudkan mimpi kecilmu itu. Semangat !!

  2. CGF itu kunci ajaib Rahmi. Begini, pada saat mulai menyanyi biasanya kita menggunakan nada normal yang disesuaikan dengan ‘genjrengan’ di kunci C. Pada saat lagu mulai naik nadanya ‘genjreng’ dengan kunci F. Dan bila kalimat yang dinyanyikan mulai turun nadanya ‘genjreng’ lagi di kunci G. Kemudian saat nada balik normal kembalikan ‘genjreng’annya di kunci C. Begitu seterusnya :-D. Untuk belajar gitar mandiri, bisa ikuti ‘guitar lessons’ di utube. Tapi syaratnya senar gitarnya dilengkapi dulu.
    Soal ‘nyetem’ gitar, juga bisa ikuti video orang nyetem di utube. Tinggal menyesuaikan suara senar per senar nya. Gampang kan, yang penting bulatkan tekad. Ingat, Man Jada Wajadda !!
    Semoga bermanfaat.. hehehehe…

    • Petikan-petikan cerita kecil ami sungguh menarik. Terutama soal gitar, seorang ibu di film Benjamin Buton mengatakan, yang penting bukan keahlian anda menguasai alat musik, tapi mainkan dia dengan hatimu. Musik itu akan mengalun indah. Coba mainkan lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s