Berkaca pada Hoegeng

“Hanya ada tiga polisi yang tak mempan disogok yaitu Hoegeng, polisi tidur dan patung polisi.”

Ini guyonan populer di kalangan penggiat anti korupsi, sekaligus ungkapan sinisme terhadap mentalitas aparat hukum negeri ini.

Siapa sih Hoegeng? Seberapa istimewanya dia hingga seolah digadang sebagai ‘satu-satunya’ sosok polisi bersih? Buatku, Hoegeng adalah nama yang asing.

Pertama kali aku ‘mengenal’ Hoegeng lewat acara Kick Andy di Metro TV yang mengupas peluncuran buku biografinya, berjudul Hoegeng Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa. Pengarang buku, keluarga, kerabat dan sejumlah tokoh yang hadir dalam acara itu mengenang Hoegeng sebagai sosok yang bersih, sederhana dan memiliki integritas. Mendengar itu, aku dibuat terkesima dan seketika ‘jatuh hati’ pada sosok ini. Rupanya perasaan ‘jatuh hati’ bukan monopoli sejoli yang tengah kasmaran saja 🙂 Agak lebay mungkin menyebut perasaaku ini sebagai ‘jatuh hati’, tapi saat itu aku sampai menitikkan air mata haru, membayangkan ada sosok seperti Hoegeng. Jadi, memang sungguh-sungguh pakai hati nih hehe…

Sejak menonton acara itu, aku mulai intens mencari tahu soal Hoegeng. Rupanya dia mantan Kapolri era Soeharto, tepatnya pada masa transisi Orde Lama ke Orde baru. Pertama-tama hanya lewat googling. Rupanya Hoegeng memang bukan orang biasa, dia membuat sejarah. Hasil pencarianku di dunia maya menunjukkan sepak-terjangnya sebagai polisi yang keras ‘menghajar’ pelaku kejahatan dan tegas menolak segala bentuk godaan yang bisa menodai integritasnya.

Buku biografinya bicara lebih banyak soal betapa istimewanya sosok lelaki kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 ini. Buku itu bercerita bahwa nama asli Hoegeng adalah Iman Santoso, nama pemberian sang ayah. Sedangkan Hoegeng berasal dari panggilan kanak-kanaknya, Bugel, karena badannya yang gemuk. Lama kelamaan berubah menjadi Bugeng, lantas setelah dewasa menjadi Hugeng. Setelah menduduki jabatan tertinggi di Polri, orang mengenalnya sebagai Jenderal Hoegeng.

Sejarah mencatat nama Hoegeng dengan tinta emas, berkat prestasi, sumbangsih dan integritasnya. Salah satu yang paling dikenang dari seorang Hoegeng adalah sepak-terjangnya saat menjabat Kepala Reskrim Polda Sumatera Utara. Ia berhasil menggulung banyak sindikat penyelundupan dan perjudian di sana. Kali pertama kedatangannya sebagai pejabat baru di Medan, Hoegeng menolak ‘sambutan selamat datang’ dari seorang cukong perjudian yang menghadiahinya rumah, mobil dan aneka perabotan rumah tangga mewah. Hoegeng memerintahkan anak buahnya mengeluarkan semua perabotan mewah sogokan si cukong dari rumah dinasnya, lalu ditaruh begitu saja di pinggir jalan. Ini menjadi insiden yang menggemparkan masyarakat Medan saat itu.

Tidak hanya berbekal mentalitas luhur, Hoegeng pun seorang perwira yang cakap dan berprestasi, alhasil karirnya pun terus menanjak. Ia kemudian didaulat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Pada jabatan barunya ini, Hoegeng lagi-lagi menunjukkan integritasnya. Ia tidak mau mengambil gaji dan fasilitas dari Jawatan Imigrasi, sebab Hoegeng yang berstatus sebagai anggota Polri, saat itu, masih menerima gaji dari Polri. Bahkan Hoegeng juga meminta istrinya menutup toko bunganya. “Bapak tidak ingin orang-orang itu beli bunga di kios saya karena jabatan Bapak,” ujar Merry, istri Hoegeng.  Prinsip ‘bersih’ memang tidak hanya diterapkan pada dirinya sendiri, tapi juga lingkungannya. Hoegeng melarang Istri dan anak-anaknya memanfaatkan fasilitas jabatan Negara.

Tahun 1965, Hoegeng dipromosikan sebagai Menteri Iuran Negara dalam Kabinet Seratus Menteri. Jabatan ini kira-kira serupa dengan Dirjen Pajak. Hoegeng bertindak keras menghukum para penyelundup, bahkan ia tak gentar menghajar penyelundup yang mendapat backing oknum aparat. Ia juga tegas membersihkan instansinya dari budaya katabelece yang sudah meruyak dalam sistem birokrasi.

Setahun kemudian, Hoegeng dipercaya sebagai Menteri/Sekretaris Kabinet Dwikora. Pada masa ini, Hoegeng mulai intensif bertemu dengan Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Ketua Presidium Kabinet.  Soeharto juga lah orang yang kelak menjadi penentu keberlangsungan karir Hoegeng. Namun posisi menteri hanya ditempatinya beberapa bulan saja, lantaran Hoegeng mendapat panggilan dari Panglima Angkatan Kepolisian, Jend. Pol. Sutjipto Joejodihardjo, untuk kembali ke kepolisian. Jabatannya, Deputi Panglima Angkatan Kepolisian atau orang kedua di Angkatan Kepolisian. Ia setuju. Saat menghadap Presiden Soekarno, Hoegeng diingatkan bila ia menerima jabatan itu sama halnya dengan turun jabatan, mengingat posisinya saat ini adalah menteri.  Hoegeng menjawab dengan mantap, “Dulunya juga saya tidak pernah mimpi jadi menteri, soalnya saya sekolah untuk jadi polisi.”

Hoegeng kembali pada panggilan jiwanya, menjadi perwira polisi. Seperti cita-cita masa kecilnya yang amat mengagumi sosok mantan Panglima Angkatan Kepolisian, Ating Natadikusumah. Ating adalah sahabat karib ayahnya, Sukario Hatmodjo, yang saat itu menjabat Kepala Kejaksaan. Bersama dengan Ketua Pengadilan, Soeprapto, mereka dikenal sebagai trio penegak hukum yang jujur dan profesional.

Pada akhirnya, Hoegeng memang berhasil menjadi Panglima Angkatan Kepolisian pada tahun 1968. Di masa kepemimpinannya, istilah Angkatan Kepolisian RI atau AKRI diganti menjadi Kepolisian RI atau Polri, dan Panglima Angkatan Kepolisian RI menjadi Kepala Kepolisian RI atau Kapolri.

Sebagai Kapolri, Hoegeng menghayati betul pengabdian profesinya. Sebelum pukul 7 pagi, ia sudah tiba di Mabes Polri, saat sebagian besar stafnya belum lagi tiba. Ia pun selalu menempuh rute berbeda saat berangkat  ke kantor, demi mengetahui situasi lalu-lintas dan kesiagaan aparatnya. Hoegeng bahkan tidak segan turun ke jalan mengatur lalu-lintas, dengan baju dinas Kapolrinya, untuk mengatur perempatan jalan yang macet. Buat Hoegeng, polisi adalah pelayan masyarakat maka, hakekatnya, tugas seorang jenderal polisi sama saja dengan seorang agen polisi, hanya saja tanggung jawabnya lebih besar. Hoegeng pun dikenal transparan dan terbuka terhadap pers. Kritik dari pers atau masyarakat baginya adalah masukan, yang terkadang membuat Hoegeng tidak bisa tidur nyenyak.

Sebagai Kapolri, lagi-lagi, Hoegeng bergeming mendapati sogokan seorang pengusaha yang terlibat kasus penyelundupan. Pengusaha ini memohon pada Hoegeng agar menghentikan kasusnya, sembari mengirimkan berbagai hadiah ke rumah Hoegeng. Tak hanya itu, bahkan sejumlah kolega Hoegeng yang sesama aparat penegak hukum pun ikut-ikutan menghadap memohonkan hal yang sama. “Hebat sekali relasi wanita ini,” pikir Hoegeng. Menyadari banyaknya pejabat yang bermental korup, ia terkenang Bung Hatta nan hidup lurus dan bersajaha, sehingga saat mundur sebagai wakil presiden uang pensiunnya saja tak cukup untuk membayar listrik. “Apakah orang yang hidup lurus musti kurus di jaman ini,” ujar Hoegeng membatin. Alhasil, kasus penyelundupan itu tetap diajukan ke pengadilan dan pelakunya divonis hukuman penjara.

Banyak kasus besar lain yang berhasil dituntaskan dalam era kepemimpinan Hoegeng, beberapa diantaranya cukup kontroversial karena bersinggungan dengan kepentingan penguasa dan kroninya. Diantaranya kasus pemerkosaan seorang penjual telur ayam di Yogyakarta, bernama Sumarijem, yang diduga melibatkan sejumlah anak pembesar. Namun Hoegeng tak gentar, ia menginstruksikan dengan tegas agar kasus ini diusut tuntas. “Kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan YME. Jadi, walaupun keluarga sendiri kalau salah tetap kita tindak. Geraklah, the sooner the better,” demikian instruksi Hoegeng kepada anak buahnya.

Kasus lain yang juga kontroversial adalah penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi. Ali Sadikin, salah seorang yang bersama-sama Hoegeng menandatangani Petisi 50, mengisahkan, suatu hari, Hoegeng mau menghadap Soeharto di kediamannya untuk melapor bahwa si penyelundup akan ditahan karena bukti-bukti sudah mencukupi.  Yang mengejutkan, rupanya Hoegeng mendapati si penyelundup tengah berbincang-bincang dengan Soeharto. Sejak saat itu, Hoegeng tidak lagi mempercayai Soeharto. Sebelumnya, Hoegeng mengatakan kepada pers bahwa akan ada kejutan, big news, yakni pembongkaran kasus penyelundupan bernilai ratusan juta rupiah di pelabuhan Tanjung Priok. Namun tak lama setelah pernyataannya itu, dan sebelum kasus itu meledak ke permukaan, Hoegeng telah dilengserkan.  Dalam sebuah surat dinas diberitahukan bahwa ia ditunjuk sebagai duta besar Belgia. Ini ganjil, karena masa jabatannya seharusnya masih dua tahun lagi. Selain itu, ia belum menerima pemberhentian resmi sebagai Kapolri, anehnya sudah ada SK penunjukkan untuk jabatan lain. Hoegeng akhirnya sadar, pemberhentian ini adalah hak prerogatif Presiden Soeharto. “Ya sudah, saya keluar saja,” jawabnya. Jabatan duta besar pun ia tolak. Alasannya, “Duta besar itu harus pintar diplomasi, sedangkan saya tidak bisa: apa yang putih saya katakan putih. Duta besar juga harus bisa minum cocktail, sedang saya tak suka cocktail.”

Selepas pensiun, lantaran kebersahajaan dan kejujurannya,  keluarga Hoegeng dibuat kalang-kabut. Mereka bingung harus kemana pindah dari rumah dinas Kapolri, karena belum punya rumah sendiri. Untung saja, Kapolri pengganti Hoegeng cukup bijak sehingga meminjamkan sebuah rumah untuk ditempati. Sebagai mantan Kapolri, Hoegeng hanya punya sebuah rumah pinjaman dan uang pensiun. Sejumlah kolega dan bekas anak buahnya merasa iba dengan kondisi Hoegeng, mereka lantas patungan membeli mobil Holden Kingswood untuk Hoegeng. Tak lama, Polri lalu membeli rumah yang ditumpangi keluarga Hoegeng dan memberikannya pada Hoegeng.

Hoegeng kini telah tiada. Ia meninggal  14 Juli 2004 silam, pada usia 83 tahun. Namun nama Hoegeng tetap dikenang, berkat keteguhan prinsip yang menyertai setiap gerak pengabdiannya. Seperti namanya: Iman Santoso yakni keimanan yang teguh dan tidak mudah terombang-ambing.

Karakter ‘Iman Santoso’ bisa tergambar dalam wejangannya kepada para perwira polisi pada acara Dies Natalis PTIK, berikut ini :

“Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan, lalu terasa sedikit gatal. Kita akan menggaruknya pelan-pelan. Wuah… nikmatnya luar biasa. Makin sering dan makin banyak yang diterima, gatal itu akan semakin intens dan menggaruknya pun akan semakin keras pula. Pada saat kejadian yang menghentikannya, tentu atas kehendak Allah SWT, kukuran di lengan itu sudah menjadi luka atau koreng yang perih dan bernanah. Maunya setan begitu.  Tentu saja korengnya bisa sembuh, seperti halnya bertobat meminta ampun dosa, tetapi bekas koreng itu akan tinggal dan tidak hilang. Maka hindarilah, itu adalah cara tepat mengukir pengabdian terbaik.”

Sungguh, sosok Hoegeng ibarat oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemipin bangsa. Aku yakin, rakyat Indonesia begitu mendamba sosok pemimpin yang bersih, tegas dan berani serupa Hoegeng.  Tapi masih adakah???

Catatan:

Tulisan ini dibuat di tengah usaha mencari buku lawas biografi Hoegeng berjudul Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan. Ada yang punya info, please let me know yaa…

Iklan

4 pemikiran pada “Berkaca pada Hoegeng

  1. klo boleh sedijit koment soal pak hugeng…. di jaman kaya gini anggota polri klo di tanya siapa idolanya di lingkungan institusinya……aga lama mikirnya trus dia bilang ga tau…. klo di bandingin ama tentara… klo di tanya dengan soal yg sama…ga pake pikir lagi dia pasti bilang ” Jendral SUDIRMAN “…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s