Si Misterius

Aih.. aih… sosoknya sungguh misterius. Sumpah mati bikin penasaran!

Seperti apa gerangan bentuknya? Rupawan kah atau biasa-biasa saja? Baik hati atau justru sosok yang kasar dan suka main tangan? Hiyyyy… amit-amit! Makmur bergelimang harta atau sederhana dan bersahaja? ”O o… siapa diaaa…” begitu kata theme song sebuah kuis jadul di televisi.

Dari segudang tanya itu, jawabannya cuma : “Au ah gelap!”
Loh kok?”
“ Bukan apa-apa, soalnya dia memang sungguh misterius.”
“Siapa sih dia?”
“Jodohku”
“Hahaha… pantesan! Jelas aja, wong orangnya aja belum ketahuan.”

Itulah jodoh, misteri yang berselimut kabut hitam, pekat dan tebal. Saking misteriusnya tuh! Aku berpendapat jodoh itu sama misteriusnya dengan kematian. Kita ngga tahu seperti apa bentuk ‘si dia’, kapan waktu bertemu ‘si dia’, dan kalau sudah kesampaian lalu ‘what next’, apakah bahagia dan langgeng atau menderita hingga berujung cerai. Begitu pun kematian, kita ngga tahu bentuknya, kapan kejadiannya dan berakhir di surga atau neraka.

Pernahkah dengar pameo ini: “Jodoh, rejeki dan maut di tangan Tuhan.” Aku setuju, tapi menurutku ada perbedaan diantara ketiganya. Kematian itu pasti, dia akan datang tanpa kita perlu repot-repot mencari atau mengundangnya. Sedangkan jodoh belum tentu, bisa saja dia ogah datang, meski segala upaya sudah dikerahkan. Begitu pun rejeki. Mengapa? Karena selain hak prerogatif  Tuhan, ada juga peran manusia di situ. Tentu kamu pernah mendengar juga ayat Al-Qur’an berikut: ”Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila mereka sendiri tak mengubahnya.” Maaf kalau redaksinya kurang tepat, tapi intisarinya begitu—red. Artinya, ada peran upaya manusia bersangkutan untuk mendapat rejeki dan jodoh. Sementara kematian, cepat atau lambat, dia pasti datang. Nah, mungkin pada ukuran cepat atau lambatnya itu unsur manusia turut berkontribusi. Misalnya, apakah dia menjaga kesehatan tubuhnya, sehingga tidak sakit-sakitan lalu mati muda, atau apakah dia selalu berhati-hati, contohnya saat menyeberang jalan, sehingga ngga ketabrak mobil dan berakhir di kamar jenazah.

Karenanya, aku meyakini bahwa rumusan takdir itu adalah kolaborasi kehendak Tuhan dan upaya manusia.

Dalam hal perjodohan, repotnya, upaya mencarinya ngga sesederhana cara mencari rejeki. –Kalau upaya mencari kematian sih ngga perlu kamusnya kan:-) Rejeki datang kepada siapa pun yang bekerja keras dengan cara-cara yang baik, tekun dan sabar. Sementara jodoh, bagaimana ya usahanya? Tebar pesona, tembak kanan-kiri, begaul, biro jodoh, pasang iklan di koran, radio atau tv… Wah wah, udah mulai ngawur nih kayaknya hahaha…

Seorang teman, yang lumayan religius, bilang kalau jodoh harus diupayakan. Nah, bentuk upayanya itu adalah dengan cara memperbaiki kualitas diri kita agar menjadi pribadi yang pantas menemukan jodohnya. Yaitu pribadi yang siap menjadi istri atau suami yang baik. Jadi, sarannya untukku, berupayalah untuk memiliki kualitas-kualitas istri dan ibu super, seperti mengurus rumah tangga, mengasuh anak dsb. Dia menambahkan, kalau ingin mendapat jodoh yang baik berupayalah menjadi pribadi yang baik juga. Aku sih senyum-senyum saja mendengar nasihatnya. Ada benarnya juga:-)

Teman lain urun pendapat berbeda. Dia percaya konsep law of attraction dalam hidup, sehingga jodoh pun sedikit banyak ditentukan oleh law of attraction itu. Artinya, apa yang kita pikirkan dan yakini maka akan kejadian. Nah, mungkin inilah penjelasan mengapa sampai kini aku belum bertemu jodohku. Aku berencana menikah pada usia 30, karena dulu pikiranku masih disibuki dengan impian karir dan meraih beasiswa ke luar negeri, alhasil kejadian deh:-)

Ada lagi seorang teman yang berprinsip bahwa jodoh itu sudah ditentukan. Jadi, sabar saja menunggunya datang. Temanku itu selalu berkata, “Semua ada waktunya, akan indah pada saatnya.” Sedap!

Kalau pendapatku? Ehm… terus terang, aku baru serius berpikir soal jodoh sekitar dua tahun belakangan. Kemana aja yah? Hehehe… Kalau diamat-amati, didalam peer group ku, aku memang yang paling santai menyikapi urusan jodoh. Nah, sekarang mau mulai berpikir serius ah! Versi aku, jodoh itu bisa diupayakan, bukan harus loh, tapi kalau pada akhirnya tak jua menemukannya maka berpasrahlah pada Tuhan, sambil terus berdoa. Rumus jalan tengah nih ye hehe…

Tapi berhubung menikah bukanlah tujuan hidup, maka ngga perlu khawatir berlebihan andaikan tak kunjung bertemu sang jodoh. Masih banyak cara lain agar bisa memiliki hidup yang bermakna, yaitu hidup yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya orang. Bukankah Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Amin.

Dedicated to my beloved friends. Always be happy and forever young:-)

Iklan

5 pemikiran pada “Si Misterius

  1. Wah, selamat berupaya Rahmi. Memang, jodoh itu harus diperjuangkan. Percayalah, di luar sana lelaki juga sedang berjuang untuk menemukan jodohnya, yang diam-diam seringkali diwarnai tangis dan doa.

    Jadi ingat masa lalu, bermodalkan mata hati dan ilmu yang minim, aku pun serabutan bertahun-tahun, dari pintu ke pintu mencari wanita yang bersedia mendampingi hidup, dan akhirnya…Alhamdulillah..

    Dari beberapa nasehat sebenarnya ada beberapa ikhtiar yang dapat ditempuh muslimah untuk menemukan jodohnya. Antara lain selalu berdoa kepada Rabb diantara Shalat Hajat agar diberikan jodoh seperti janji Allah dalam An Nuur ayat 32.

    Muslimah bisa juga minta tolong orang tua atau wali untuk mencarikan jodoh yang baik, sebab hal ini sebenarnya juga masih menjadi tanggung jawab orang tua ataupun wali.

    Minta tolong teman atau saudara yang dapat dipercaya untuk menjadi mediator juga bisa, mengingat dulu orang mukmin yang memiliki budak atau orang2 kaya, didorong untuk menikahkan budak yang dimiliki atau membantu menikahkan orang yang miskin, seperti yang diperintahkan Allah dalam An Nuur 32-33.

    Terakhir, tidak boleh berputus asa dalam jodoh, berikhtiarlah selalu, dan dampingi ikhtiar dengan doa yang sungguh-sungguh tanpa ragu. Menurutku, bila kita ragu-ragu meminta, maka Allah pun akan ragu-ragu memberikan karunianya.

    Satu hal yang sebaiknya diyakini, bahwa sudah menjadi janji Allah bahwa semua makhluknya akan berpasang-pasangan. Yakin !

    Tenang saja, bahkan seorang Siti Khadijah yang agung dan mulia itu saja baru bertemu lelaki idaman setelah berusia 40 tahun, dan kamu kan baru 30 tahun. Jadi masih ada cukup waktu kan ? 😀

    Tapi semua hal diatas itu kalau kau tak mampu lagi cari sendiri Rahmi hehehe…

  2. Assalamualaikum,

    secara garis besar saya setuju dengan paparan mbak. tapi, pernyataan mbak yg terakhir :

    “Tapi berhubung menikah bukanlah tujuan hidup, maka ngga perlu khawatir berlebihan andaikan tak kunjung bertemu sang jodoh. Masih banyak cara lain agar bisa memiliki hidup yang bermakna, yaitu hidup yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya orang”.

    Mohon maaf lho mbak, bukan maksud saya menggurui. menurut saya itu pernyataan yg melambangkan PESIMISTIS. Yakinlah, setiap manusia Allah sudah tentukan jodohnya. Termasuk mbak. Menikah memang bukan tujuan hidup, namun dia adalah sarana guna
    mencapai tujuan hidup yg sempurna.

    Wassalam

  3. Ping balik: The Mr. Right or Prince Charming? | Dance with Style

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s