Saklar Pengatur Mood

Sorry, lagi ngga mood nih,” enteng saja dia berujar kepada sahabatnya, yang protes terhadap sikap jutek dan uring-uringannya sepanjang hari ini. Sebagai sahabat yang baik, ia pun berusaha memaklumi sikap itu. Walau sebenarnya sebal juga menghadapi orang yang lagi in the bad mood. Pastinyaaa… 😀

Tapi apa iya, bad mood itu demikian sakti hingga orang  merasa terperangkap dan seolah dibuat tak berdaya, lalu menyerah begitu saja dengan excuse, “Sorry, I’m not in the mood.” Lantas ia bisa seketika berperilaku nyebelin dan ngeselin dengan alasan sedang ngga mood. Olala, enak juga ya! Bagi kaum hawa, syndrome jutekinisme dan beteisme bisa dijelaskan secara ilmiah, lantaran pengaruh hormon yang tidak seimbang menjelang datang bulan. Tapi di luar itu, apakah alasan bad mood bisa dimaklumi?

Manusia, setidaknya, punya tiga komponen penggerak yakni pikiran, perasaan dan nurani. Bad mood adalah bagian dari perasaan. Bahasa gaulnya : bête, jutek, uring-uringan dsb. Nah, ketika seseorang dikuasai oleh si bad mood itu artinya perasaannya sedang mendominasi. Lantas kemana dua komponen lainnya, yakni pikiran dan nurani? Jika bad mood melanda hingga yang keluar adalah segala aura negatif tadi, itu artinya pikirannya telah takluk pada perasaan, sedangkan nuraninya ia abaikan. Berdasarkan perenungan dan pengalamanku, pikiran, perasaan dan nurani bekerja dengan cara berbeda. Pikiran adalah logika rasional yang terukur dan terarah, sementara perasaan adalah kumpulan emosi dan hasrat yang mudah berubah dan tak terprediksi, sedangkan nurani adalah tuntunan kebaikan yang mutlak dan absolut. Ketiganya punya peran masing-masing yang sama penting. Pikiran berfungsi mengarahkan dan membimbing, perasaan memberi energi dan semangat, sedangkan nurani menuntun dan memandu.

Apabila bad mood menguasai perasaan, apa yang bisa dilakukan pikiran dan nurani untuk mengatasinya? Mudah saja, arahkan pikiranmu untuk menghentikan segala pikiran negatif yang menyebabkan bad mood itu datang. Pasalnya,  perasaan buruk timbul akibat pikiran yang buruk.

Begini polanya:  sensasi  —  persepsi  —  emosi  —  reaksi.

Awalnya, situasi tertentu dipersepsikan oleh pikiran sebagai hal yang negatif, alhasil perasaan ikut menjadi negatif, dan akhirnya kita pun dibuat bersikap negatif. Ujung pangkalnya ada pada tahap persepsi, yakni proses internal dalam pikiran manusia. Jadi, kuncinya ada pada pikiranmu. Ya, dia itulah saklar pengatur mood!

Sebagai manusia, tentu wajar merasakan sedih, kecewa, kesal atau marah. Segala emosi itu adalah anugerah, merekalah yang menggerakkan manusia untuk tumbuh dan berkembang. Ketika kamu kesal atau kecewa dengan situasi yang tidak menyejahterakanmu, misalnya, kamu akan dibuat berupaya untuk mengubah keadaan. Yang merusak, jika perasaan negatif itu dibiarkan berlarut-larut sehingga menimbulkan reaksi yang negatif, seperti bête, jutek, uring-uringan, marah, hingga depresi.

So, this is the trick whenever you are in the bad mood, pertama, sadarilah suasana hatimu yang sedang ngga enak, kenali perasaannya apakah sedih, marah, kecewa dsb, kemudian telaah apa penyebabnya, lalu terima dan berdamailah dengan perasaanmu itu. Semua pekerjaan tersebut dilakukan oleh pikiran. Perlu kejujuran dan kesabaran. Ia ibarat si sulung yang sedang menenangkan perasaan, si bungsu, yang sedang ngambek. Aku suka menggambarkan perasaan sebagai “anak kecil yang susah di atur”, tapi bukan berarti tidak bisa diatur.  Selanjutnya, setelah timbul perasaan menerima, maka pikiran bertugas memberikan nasihat dan pandangan bijak, yang bersumber dari nilai-nilai kebaikan nurani. Inilah saatnya mengubah cara pandangmu, bahasa sederhananya adalah berpikir positif. Pada tahap ini, dibutuhkan ketegasan dan kedisiplinan untuk membuat ‘si bungsu’ mau mematuhi perkataan pikiran, apabila membandel, paksa dan perintahkanlah!  Awalnya mungkin sulit, tapi percaya deh, apabila dilakukan dengan konsisten akan terasa mudah.

Rumus ini juga berlaku terhadap perasaan senang, hasrat atau pun gairah. Tentunya, dalam hal ini, yang dikendalikan adalah kesenangan terhadap sesuatu yang salah. Manusia seringkali membiarkan dirinya dikuasai nafsu, perasaan yang digambarkan sebagai gairah terhadap sesuatu yang tidak baik. Aku lebih suka memakai istilah ‘membiarkan’, sebab manusia sebenarnya punya kuasa mengendalikannya. Cukup nyalakan saklar pengatur mood mu dan fungsikan untuk mengendalikan perasaan yang tidak semestinya itu.

Ini bukan proses sekejap, bahkan bisa jadi proses seumur hidup.  Just keep doing it, cause practice makes perfect 😀

“There is nothing either good or bad, but thinking makes it so,” said Shakespeare.


Catatan:

Pola terbentuknya perasaan : sensasi — persepsi — emosi — reaksi seperti dijelaskan di atas, pada prakteknya bisa jadi tak berlangsung linear begitu. Ada sejumlah psikolog yang berpendapat perasaan bisa diubah melalui tindakan, sehingga mereka menyarankan formula “tersenyumlah maka perasaanmu akan menjadi lebih baik.” Ini salah satu resep lain, yang lebih sederhana dan kasat mata untuk mengubah mood.

Iklan

5 pemikiran pada “Saklar Pengatur Mood

  1. nice writing.

    Setelah bertahun-tahun bekerja di Industri, saya berusaha melatih diri menjadi pekerja dan bukan seniman… tapi mood ternyata memang ada. kalau mood sedang buruk, butuh beberapa menit untuk mengembalikannya ke posisi awal.
    anyhow.. nice writing

  2. Rahmi, isi tulisannya menantang. Let me think. Intinya, pikiran dan nurani bisa mengendalikan bad mood (yang lahir dari rahim perasaan), suatu tanda simpel dari keseharian manusia. Saking simpelnya, bad mood jadi sering muncul. Bisakah ia dikendalikan? Hmm… Let me think. I will back again in fews hours . Hehehe *sementara ini komenku :))

  3. Iya, mood memang ada. Gue juga mengalaminya, yang penting ngga membiarkan itu mendominasi seluruh pikiran dan tindakan kita yang jadi kebawa-bawa negatif. Meski mungkin dalam kenyataan ada faktor-faktor lain yang membuatnya jadi ngga sesederhana ini. Temanku mempertanyakan bagaimana dengan kegilaan? Well, menurutku, itu perlu teori psikologi tambahan lain yang lebih kompleks, seperti pikiran bawah sadar etc.

    Tapi berhubung gue adalah sarjana komunikasi, bukan psikologi, maka pesannya: terimalah tulisan ini sebagai ceracau seorang psikolog gadungan hehe…

    Thank you dit, udah mampir 😀

  4. Kenalilah emosi yang muncul dan terimalah dengan menerimanya secara utuh. Kemudian, sadarlah bahwa di dunia masih ada emosi-emosi lain untuk dicoba.. *Tuesday with Morrie”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s