Ketamakan yang Membungkam Nurani

Media sekarang sedang ramai. Ada kabar bencana yang sambung-menyambung, politisi yang senang plesiran menghabiskan uang negara, kunjungan Obama yang meski sebentar tapi bikin euforia dan kerepotan di sana-sini, dan ‘lagu lama’ seputar korupsi dan kolusi.

Kabar paling gres adalah soal suap ratusan juta rupiah oleh seorang mafia pajak bernama Gayus Tambunan kepada kepala rumah tahanan Brimob, Depok, Kompol Iwan Siswanto.

Awalnya publik dikejutkan dengan munculnya foto lelaki berwajah bundar, berkulit sawo matang dan berkacamata. Agak ganjil, karena potongan rambutnya terlihat aneh, sepertinya memakai wig. Namun yang bikin kaget lantaran wajah lelaki itu mirip sekali dengan Gayus Tambunan, terdakwa kasus mafia pajak yang sedang ditahan di rumah tahanan Brimob, Depok. Padahal foto itu diambil oleh wartawan Kompas, dalam acara turnamen tenis Internasional di Bali! Wah, kok bisa ya tahanan plesiran juga? Anggota DPR bisa saja plesiran ke luar negeri dengan mengatasnamakan tugas negara, tapi ini tahanan!

Publik bereaksi keras, marah dan kecewa, bisa jadi sakit hati. Lagi-lagi, rakyat Indonesia mendapati aparat dan pejabat negeri ini yang bertingkah tidak amanah. Korupsi dan kolusi adalah bentuk pengkhianatan kepada rakyat. Gayus menyogok kepala rutan, Kompol Iwan Siswanto, dengan uang 368 juta rupiah agar bisa leluasa keluar masuk tahanan. Bukan main! Perilaku aparat negeri ini sudah begitu tamaknya, hingga nuraninya tak lagi bisa bicara.

Tak hanya sampai disitu. Pengusutan kasus keluarnya Gayus dari tahanan pun tampak setengah hati. Kepolisian seolah enggan mengusut tuntas soal kepergian Gayus ke Bali. Ini bisa dilihat dari komentar petinggi Mabes Polri yang cenderung bernada menunda penyelidikan saat ditanyai wartawan, seperti “belum perlu bekerjasama dengan Polda Bali” atau “belum menyelidiki kemana Gayus pergi tapi fokus pada penyuapan terhadap petugas rutan dahulu.” Padahal andaikan saya Kapolri, untungnya bukan, ini adalah aib maha besar yang mencoreng muka. Bayangkan, dalam sebuah institusi penegak hukum telah terjadi pengkhianatan hukum. Apa itu bukan sebuah kegagalan namanya? Kapolri mestinya bertindak sigap mengusut tuntas pelanggaran berat ini. Lain hal apabila ini dianggap kasus biasa, yang memang sedari dulu begitu adanya.

Alhasil semua bergerak lamban. Namun tekanan publik yang terus-menerus, seperti biasanya, bisa membuat aparat mau bergerak. Kepala rutan, Iwan Siswanto, beserta sejumlah bawahannya ditetapkan sebagai tersangka, Polda Bali mulai bergerak memeriksa CCTV hotel Westin Nusa Dua Bali dan meminta manifes penumpang dari bandara Ngurah Rai. Publik menunggu gerak cepat dan kesungguhan Polri menuntaskan kasus ini, yakni menjelaskan bagaimana dan mengapa Gayus bisa sampai ke Bali.

Masihkah rakyat bisa berharap terhadap Polri? Institusi yang seharusnya menjadi tempat rakyat mencari kebenaran dan keadilan. Ataukah institusi hukum ini pun sudah kadung terkena karat ketamakan korupsi yang membungkam nurani. Semoga tidak.

Iklan

2 pemikiran pada “Ketamakan yang Membungkam Nurani

  1. Rasa keadilan di negri ini semakin tercabik…Institusi yang seharusnya menjadi penegak dan penjaga keadilan, justru yang paling sering melakukan tindakan menzalimi keadilan itu sendiri dengan terang2an..entah pertanda apa ini. Pertanda akhir zaman mungkin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s