A Journey to Curug Cibadak yang Mencerahkan

Suatu hari di bulan Desember 2010, aku dan dua sahabatku, Mutia dan Desi, mengadakan perjalanan ke kawasan Gunung Halimun, di kaki Gunung Salak, Jawa Barat. Niatnya mau melihat suaka elang disana. Selain liburan, aku punya misi membuat liputan feature untuk kantorku, sedangkan Mutia dan Desi murni untuk senang-senang. Membaca informasinya di sebuah majalah wisata Bogor, aku membayangkan perjalanan ini akan mudah saja. Menurut majalah itu, untuk sampai kesana hanya butuh waktu 30 menit berjalan kaki dari pintu masuk. Sip!

Gunung Halimun letaknya lumayan jauh dari pusat kota Bogor, untuk itu kami harus mencarter mobil angkutan. Perjalanannya nyaris 2 jam, lantaran lalu-lintas menuju kesana yang macet. Maka ada baiknya Anda yang berminat melancong kesana berangkat paling telat pukul 7 pagi, demi menghindari macet. Lantaran mencarter mobil, kami diantar hingga pintu gerbang kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Jika memakai angkutan umum, Anda harus menyambung memakai ojek.

Kedatangan kami disambut hujan gerimis. “Yaaaa….” Kami pun berseru kecewa. Untunglah ada payung dan topi sebagai pelindung. Meski begitu, jalanan yang becek cukup mengganggu kenyamanan perjalanan kami. Namun, keindahan panorama pegunungan dan udara yang sejuk segera saja membuat kami kembali bersemangat. Bergaya ala turis, Desi dan Mutia sibuk berfoto. Sedangkan aku, yang saat itu ‘on duty’ lebih memilih merekam gambar untuk liputan. Termasuk merekam sesi ‘narsisme’ Desi dan Mutia, yang khusus aku ‘kontrak’ sehari penuh sebagai model video liputan ku πŸ˜€

Mengikuti petunjuk dari beberapa warga, kami pun sampai ke kawasan Suaka Elang. “Itu dia plang nya!” seru kami gembira, saat melihat sebuah plang besar bergambar seekor burung elang dari kejauhan. Kami bergegas mempercepat langkah. Tambahan lagi, lantaran hujan rintik-rintik yang masih turun.

Akhirnya, sampailah kami di tujuan. Tapi Oh My God! Bangunan yang kami duga sebagai kantor petugas penjaga kawasan suaka itu rupanya tutup! Waaaa…. kesal sekali mendapati bahwa perjalanan berjam-jam ini harus berujung begini. Setelah berdiskusi, akhirnya kami sepakat mendaki ke atas perbukitan, sekedar menikmati pemandangan pegunungan, daripada pulang dengan ‘tangan kosong’.

Rupanya perjalanan mendaki kaki gunung ini pun tak kalah menariknya. Pertama-tama, kami melintasi sebuah jembatan gantung. Ini selalu jadi hal yang mengasyikkan! Berjalan di ketinggian dengan berayun-ayun, sedangkan nun di bawah sana air sungai yang jernih tampak mengalir deras. Huhuyyyy!!!

Sesampainya di atas, kami menemukan papan petunjuk bertuliskan “Curug Cibadak 3 kilometer” (aku agak lupa angka persisnya, tapi yang jelas dekat). Jadilah aku, yang sepanjang jalan dibuat pusing memikirkan rencana liputanku yang gagal, mengajukan ide untuk pergi ke curug tersebut. “Toh jaraknya tidak jauh,” ujarku meyakinkan. Untungnya, Mutia dan Desi setuju hehehe….

Jadilah kelompok ‘ibu-ibu arisan’ ini melanjutkan pendakian dengan misi mencapai air terjun Curug Cibadak. The Mission Begin. Eng ing eng…..

Sayangnya, kenyataan tak seindah pengharapan. Duh… Jarak yang hanya beberapa kilometer di papan petunjuk tadi rupanya tidak menggambarkan kondisi medan. Semakin ke atas, jalanan semakin mendaki dan sempit. Yang paling membuat keki, ini rasanya melebihi jarak yang terpampang di papan penunjuk!! Protes saya sepanjang perjalanan.

Nyaris sejam lamanya berjalan, dan belum juga sampai di tujuan, kami pun memutuskan memasang target waktu. Jika sampai pukul 1 siang kami belum juga sampai maka kami akan menyudahi perjalanan dan turun gunung. Pasalnya kami akan dijemput pada pukul 3 sore. Hitung punya hitung, target jam 1 siang cukup masuk akal.

Meneguhkan semangat, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan. Medan pendakian semakin berat, kami pun mulai kelelahan. Tak hanya itu, bongkahan bebatuan besar yang bertebaran semakin menyulitkan perjalanan kami. Komposisinya begini, Desi di depan, Mutia di tengah dan aku paling belakang. Komposisi ini juga, sedikit banyak, mencerminkan kekuatan fisik kami masing-masing hahaha…. (Just info, tante Desi ini rajin fitness loh! Kalau treadmil bisa setengah jam non stop. Jadi, no wonder kalu ia selalu ‘memimpin’). Tante Mutia, sedari dulu hobi dengan kegiatan-kegiatan adventure jadi cukup terlatih. Sementara aku, ehm… cukup berbahagia bisa memantau ‘keselamatan’ dua temanku itu dari belakang :p

Tak lama kemudian, sampailah kami pada sebuah tanjakan yang amat terjal berikut bongkahan bebatuan besar yang menghadang, seketika nyali kami dibuat ciut! Aku dan mutia lantas berpikir menyudahi perjalanan. Aku, lantaran sudah amat kecapekan, sedangkan Mutia, entah apa alasannya. Mendengar itu Desi terdiam. Ia sudah berada beberapa meter di atasku. Lantas ia menanyakan jam, rupanya belum jam 1. “Kenapa kita ngga lanjut aja, kayanya sebentar lagi. Belum jam 1 kan?” ujar Desi mantap. Aku dan Mutia dibuat teringat dengan ‘janji’ awal kami soal target waktu. Akhirnya kami pun sepakat. Ya, lanjuuuttt!

Susah payah mendaki jalanan yang teramat terjal dan licin itu, sembari menguatkan hati, kami pun terus merayap naik. Meski di dalam batin saya terasa ada yang mengganjal, “Masa iya medan pendakiannya begini sulit, kan curug Cibadak adalah tempat wisata yang kerap dikunjungi wisatawan.” Perasaan heran terus menjalari saya. “Rute ini terlihat tidak seperti jalan yang sering dilewati,” pikir saya lagi.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tawa sekelompok orang. Kami pun saling pandang, menyadari kami sudah semakin mendekati curug. “Wooiiii…. ada orang disana? Woiiii….!!” Teriak kami bergantian, berharap ada respon dan petunjuk. Selang beberapa menit, ada sekitar 4 orang ABG muncul dari sisi tebing di bawah kami. Wah, rupanya kami salah jalan! Muka kami mendadak berseri-seri, menyadari bahwa kami tak harus menempuh jalan terjal yang ‘mengerikan’ ini. Kami pun bergegas turun, sambil tak henti-henti mengucap syukur.

Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kami πŸ™‚

Kami pun lantas menyusuri rute yang benar, jalanan sempit dengan jurang menganga di sisi kiri dan tebing penuh semak belukar di sisi kanan. Aku berjalan pelan-pelan, khawatir tergelincir masuk jurang. Maklum selain sempit, jalannya pun licin. Kami pun saling bantu untuk melewati pepohonan yang kerap menutupi badan jalan atau melintasi jalanan yang sedikit curam.

Lamat-lamat terdengarlah suara gemuruh air terjun, kami pun mempercepat langkah, tentu dengan tetap berhati-hati. Sampai terlihatlah air terjun itu. Subhanallah, bagus sekali! Bagai sebuah keran raksasa yang menggelontorkan air tak habis-habisnya, lalu jatuh bertingkat-tingkat dari ketinggian. Semua lelah ini terbayar sudah.

. . . . . . Fast moving forward

(perjalanan turun, acara foto-foto, akhirnya berhasil menemukan Suaka Elang yang dicari-cari, perjalanan pulang, dilihatin orang-orang di sepanjang jalan gara-gara penampilan kami yang kotor belepotan lumpur, makan mie kocok untuk mengisi perut yang kelaparan, dan akhirnya sampai rumah dengan selamat).

Horeee… Mission accomplished!

Foto: Karya Mutia Muliasih http://mutiamuliasih.blogspot.com

***

Buat saya, perjalanan ini membawa hikmah dan pencerahan tersendiri, pertama untuk selalu bersyukur atas pertolongan Tuhan yang selalu melindungi dan menemani dalam setiap kesulitan. Kedua, disaat aku hampir putus asa dan menyerah, justru disaat itulah aku harus semakin kuat bertahan demi mencapai tujuan. Itulah gunanya target dalam hidup, agar membuat kita bertahan dan tetap fokus pada tujuan, betapapun halangan yang menghadang. Sebab, yakin, Tuhan selalu membantu hambanya yang tekun berupaya dengan cara-cara yang baik.

Jadi… Mut, Des kapan kita adventure lagi? *mengenang tiga pasang sepatu kets yang dibuat ‘hancur-lebur’*

Iklan

5 pemikiran pada “A Journey to Curug Cibadak yang Mencerahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s