Read Aloud, Mendongeng Sekaligus Membacakan Cerita

Wajah itu sungguh berubah menjadi tak karuan. Mata membelalak, mulut dimonyong-monyongkan, pipi dan cuping hidung sengaja dibuat serba mengkeret.

Itulah sejumput ekspresi aneh para peserta workshop mendongeng di sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Para peserta, yang kebanyakan generasi muda, sedang berlatih ekspresi dan mimik wajah. Mereka datang dengan beragam tujuan, namun intinya ingin bisa mendongeng dengan baik. “Mendongeng adalah komunikasi dengan menciptakan pengalaman bersama melalui sebuah cerita,” begitu kata Mochamad Ariyo, seorang praktisi dongeng yang juga pendiri komunitas read aloud “Reading Bugs.”

Serepot itukah? Teorinya, mendongeng memang harus memperhatikan beberapa hal teknis, suara yang baik, ini termasuk nada suara, intonasi dan tinggi-rendah suara; kontak mata antara pendongeng dengan audiens sehingga audiens merasa diperhatikan dan diajak berinteraksi; ekspresi dan mimik wajah yang dapat menggambarkan suasana dan karakter dalam cerita; dan gerak tubuh yang merefleksikan apa yang dilakukan oleh tokoh dalam cerita.

Saat menyampaikan dongengan kepada audiens, butuh persiapan dan latihan khusus. Pertama, pendongeng tentu harus hafal isi cerita. Tidak perlu kata per kata, cukup garis besar cerita berikut tokoh-tokohnya.

Lalu cerita pun harus diberi “nyawa” dengan memainkan intonasi dan nada suara, mimik, ekspresi dan gerak tubuh. Rangkaian kata berirama dan berdinamika, merupakan kekuatan dongeng sebagai sastra lisan. Mereka yang mendengar, baik anak-anak maupun dewasa, akan menginterpretasikan kisah yang didengarnya, sehingga juga dapat menikmati dongeng sebagai sebuah seni.

Masalahnya tidak semua orang menjadi percaya diri untuk mendongeng. Bercerita di hadapan banyak orang tanpa membaca teks, memang bukan hal mudah. Belum lagi semua perhatian audiens yang tertuju hanya pada si pendongeng, makin membuat ia grogi. Di sini read aloud menjadi solusinya. Kita mendongeng dengan menggunakan bacaan.

Bukan Sekedar Membacakan

Di situs internet Youtube, ada sebuah video yang menggambarkan tentang keampuhan read aloud. Disana digambarkan bagaimana sekelompok anak duduk rapi bersila membentuk setengah lingkaran, memandang penuh rasa ingin tahu kepada seorang perempuan dewasa yang duduk di hadapannya. Judy Nichols, pengarang buku “Storytimes for Two Years-Old” dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, tengah mendongeng. Cukup mencengangkan melihat bagaimana anak-anak kecil ini bisa duduk tenang dan tertib.

Judy duduk di atas kursi sambil memegang buku cerita bergambar di dadanya. Pertama-tama ia membacakan judul bukunya, “The Greedy Old Fat Man,” ujarnya lantang, lalu berturut-turut nama pengarang dan ilustratornya, sambil memperlihatkan buku bergambar tersebut ke arah anak-anak itu. “Pada suatu hari, hidup seorang lelaki tua gemuk yang serakah, ia tak pernah berhenti makan,” begitu Judy memulai kisahnya dengan suara jelas dan berirama.

Sepanjang pembacaan cerita, anak-anak dapat melihat tulisan dan gambar pada buku yang dibacakan. Judy membacakan cerita layaknya mendongeng. Beragam ekpresi dan mimik wajah digunakan untuk menggambarkan suasana dan emosi dalam cerita. Ia pun memakai suara berbeda untuk untuk setiap karakter.

Judy juga menirukan suara dan bunyi tertentu, seperti saat ia bercerita bahwa lelaki tua gemuk itu tanpa henti meminum bergelas-gelas susu hingga tandas. “Sluruuupp!” ucap Judy sambil menguncupkan kedua bibirnya. Di tengah-tengah cerita, sesekali ia berhenti untuk mengajak anak-anak mengeja sebuah kata atau menirukan bunyi-bunyian.

Ia menghentikan cerita ketika ada anak yang bertanya atau berkomentar. “Itu bukan rubah tapi seekor serigala!” seru seorang anak menginterupsi cerita. “Oh ya, ini memang seperti serigala, tapi ini berwarna oranye seperti rubah,” jawab Judy ramah lalu kembali melanjutkan cerita. Meski sambil membaca, Judy pun tak lupa menjaga kontak mata dengan anak-anak.

Itulah gambaran tentang metode read aloud, teknik mendongeng memakai teks yang sejak tiga tahun terakhir mulai populer di Indonesia. “Tak sekedar membacakan cerita tetapi dibutuhkan pula intonasi, ekspresi dan kontak mata,” ujar Mochamad Ariyo, seorang praktisi dongeng.

Mengenal Kata Baru

Layaknya mendongeng, dalam read aloud juga diperlukan komunikasi antara pendongeng dan audiens. Misalnya, ketika pendongeng bercerita tentang seekor ayam, sebaiknya ia berhenti membaca dan mengajak anak-anak bersama-sama mencoba menirukan suara ayam. “Yang penting adalah menciptakan pengalaman bersamanya itu,” ujar Ariyo kembali menyinggung hakikat tujuan mendongeng. Namun karena tujuan read aloud adalah menumbuhkan minat baca dan kecintaan anak terhadap buku, maka sebagian besar kegiatannya berfokus pada buku.

Read aloud tidak hanya diperuntukkan bagi anak yang sudah bisa membaca, sebab anak kerap siap memperoleh pengalaman “membaca” bahkan sebelum mereka bisa membaca. Malah read aloud yang merupakan transisi antara cerita lisan dan tulisan dapat menjadi jembatan menuju kebiasaan membaca. Anak diperkenalkan terhadap bahasa buku. Pada mulanya anak “membaca” melalui gambar, lambat-laun mereka mulai belajar bahwa kata-kata mengandung cerita.

Metode read aloud telah lama berkembang di negara-negara maju dan mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Maklum, budaya baca mereka lebih maju dibanding kita. Selain itu, buku-buku bacaan untuk mendongeng dengan kualitas baik, lengkap dengan petunjuk mengenai batasan usia bagi pembacanya, sudah banyak tersedia.

Mendongeng memang banyak memberi keleluasaan untuk mengeksplorasi seni. Tanpa memegang buku, pendongend dapat berfokus pada ekplorasi suara, ekspresi dan gerak tubuh. Ada juga alat bantu atau peraga seperti boneka tangan, serta menggabungkan kegiatan mendongeng dengan aktivitas lain seperti menggambar, menari, menyanyi atau memainkan musik. Walhasil, mendongeng menjadi pertunjukkan seni yang menghibur. Sifatnya yang tanpa teks juga lebih memberi peluang untuk “menguasai” audiens.

Mendongeng, berdasarkan asal muasalnya, memang dipakai untuk menceritakan aneka cerita rakyat yang dapat berkisah secara imajinatif dengan sendirinya, tanpa bantuan ilustrasi gambar. Di zaman moderen ini, situasinya berbeda. Cerita imajinatif merupakan kesatuan antara teks dan gambar sehingga sebaiknya disajikan secara bersama-sama. Anak yang didongengi harus dapat melihat gambar berikut tulisannya.

Ariyo menjelaskan, baik mendongeng maupun read aloud sama-sama memberi manfaat terhadap kecerdasan intelektual dan emosional anak, menanamkan nilai moral dan membangun kedekatan dengan orang tua. Namun metode read aloud mempunyai manfaat tambahan yakni memperluas wawasan dan memperkaya kosakata. “Jika mendongeng dapat memberi anak 5.000 kata baru, maka read aloud memberi tambahan 5.000 kata lagi,” ujar Ariyo.

Memperkenalkan Bahasa Asing

Soal manfaat dongeng bagi kecerdasan anak, jangan diragukan lagi. Saat mendengarkan sebuah cerita, anak menciptakan gambaran imajinasi di dalam pikirannya, inilah yang merangsang daya pikir dan kreativitas anak. Sedangkan metode read aloud secara khusus bermanfaat meningkatkan kemampuan baca anak, keterampilan mendengar dan berbicara, pengenalan huruf dan simbol, kemampuan merangkai kalimat, memahami bahasa dan meningkatkan minat baca.

Seperti kata orang bijak: otak adalah rumah pengetahuan dan kata-kata adalah kerangkanya. Jim Trelease dalam bukunya “The Handbook of Read Aloud” menjelaskan hanya ada dua cara membuat kata-kata masuk ke dalam otak, yakni melalui penglihatan atau pendengaran. Karena butuh beberapa tahun agar anak bisa menggunakan penglihatannya untuk membaca, maka cara terbaik adalah dengan mendengar. Anak menangkap suara yang kelak akan membantunya mengenali kata-kata ketika ia mulai bisa membaca.

Ariyo menjelaskan, mendongeng ataupun read aloud sebaiknya sudah dilakukan ketika anak masih dalam kandungan. Tepatnya dimulai trimester ketiga masa kehamilan, ketika organ pendengaran janin sudah berkembang sempurna. “Anak menangkap getaran suara ibunya sehingga membuat ia nyaman, ketika lahir anak jadi punya keterikatan dengan suara itu.”

Thorne – Thomson, tokoh yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kegiatan mendongeng di perpustakaan, meyakini bahwa latihan berimajinasi dan mendengarkan “cerita yang dibacakan” kelak dapat mempersiapkan anak untuk membaca. Read aloud mengaitkan aktvitas dongeng yang menyenangkan dengan buku, sebab dari sanalah berbagai cerita yang menarik itu berasal. Semakin sering anak diperkenalkan terhadap buku, semakin cepat anak belajar membaca, dan ingin mendapat berbagai pengalaman lewat buku.

Pada anak-anak usia pra sekolah sampai sekolah dasar, read aloud juga berguna untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Inilah periode emas, dimana anak banyak menyerap pengetahuan melalui indera pendengaran dan penglihatan. Para ahli bahkan menyebut usia tersebut adalah waktu terbaik untuk mempelajari bahasa baru selain bahasa ibu. Artinya, metode ini cocok juga untuk mengenalkan bahasa asing kepada anak.

Anak juga dapat mengenal cerita panjang yang mempunyai struktur kalimat yang kompleks, cerita yang mengandung banyak deskripsi ketimbang aksi, dan cerita yang terdiri atas banyak bab.

Apapun pilihannya, mendongeng atau read aloud, keduanya sama bermanfaat dalam mengembangkan imajinasi anak. Saat seorang anak mendengar sebuah cerita, ia menciptakan bermacam adegan, aksi dan karakter dalam benaknya. Karena itu keduanya menjadi cara jitu membangkitkan imajinasi kreatif anak. (end)

Mari Mempraktikkan Read Aloud

• Anak harus dapat melihat gambar berikut teksnya dan wajah pendongeng. Bila audiens banyak, posisi duduk membentuk setengah lingkaran dengan pendongeng duduk di depan dalam posisi lebih tinggi. Bila cuma seorang, posisi duduk berdampingan atau dalam pangkuan.
• Selalu awali dengan membacakan judul, nama pengarang dan ilustrator buku. Meskipun buku itu telah berulang kali Anda bacakan.
• Bacakan cerita dengan suara wajar dan jelas. Gunakan suara berbeda untuk karakter yang berbeda.
• Variasikan kecepatan membaca. Misalnya, perlahan pada bagian yang menegangkan dan cepat pada bagian yang menggairahkan.
• Undang partisipasi anak, misalnya dengan sesekali menanyakan pendapatnya tentang sesuatu dalam cerita, mengeja sebuah kata atau menirukan bunyi bersama-sama.
• Tanggapi komentar anak terkait cerita, bila ada, lalu secepatnya kembali kepada cerita.
• Jaga kontak mata dengan anak.
• Usai membacakan cerita, buat diskusi kecil terkait isi cerita.

Buku-buku Pendamping Read Aloud

• Usia 0 – 4 bulan; jenis bacaan bebas, tujuannya sekedar membiasakan anak terhadap irama suara ibu dan menjadikannya nyaman dengan itu.
• Usia 4 bulan – 1 tahun; bacaan yang menstimulasi penglihatan dan pendengaran, yakni buku dengan aneka gambar berwarna dan sedikit teks dengan banyak perulangan kata atau rangkaian kata berirama. Contoh: Baby Einstein penerbit Wortel Books (bilingual).
• Usia 1 – 5 tahun; bacaan bergambar dengan teks pendek. Contoh: Seri Halo Balita penerbit Mizan.
• Usia 5 – 9 tahun; bacaan bergambar dengan komposisi 70% gambar dan 30% teks. Contoh: Little Mouse, I Love You penerbit Wortel Books (bilingual). Seri Franklin si Kura-Kura penerbit Gramedia.
• Usia di atas 9 tahun; bacaan bergambar dengan porsi teks yang lebih banyak, cerita lebih bervariasi seperti petualangan, kepahlawanan atau cerita rakyat. Contoh: Akulah Spiderman penerbit Gramedia (bilingual). The Wizard of Oz penerbit Atria.

*****

Tulisan ini dimuat di majalah Intisari edisi April 2011
Note: Terimakasih kepada bapak editor.

Foto: Karya Mutia Muliasih http://mutiamuliasih.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s