Keisengan yang Bikin Dag Dig Dug

“Jreng jreng,  yeah… Sunday morning rain is falling…” intro musik lagu Maroon Five bernyanyi lewat dering ponselku.

Sebuah panggilan masuk dari nomer Jakarta.

“Halo selamat pagi, dengan mbak Rahmi?” sapa seorang wanita dari ujung telepon.
“Ya, saya sendiri,” jawabku berpikir ini mungkin salah seorang klien bisnisku.
“Saya dari Matchactually,” ujarnya ramah.
Jeda sejenak. Beberapa detik berselang seperti ada kilatan yang menyambar pikiranku. Olala!!!

***

Belakangan, topik populer yang sebetulnya agak ‘basi’ di kalangan peer groupku adalah soal jodoh. Topik ini baru masuk dalam daftar agenda hidupku sejak dua tahun belakangan. *kemana aje jeng hehe…* Tapi repotnya, sekarang pun ia rupanya belum menempati top priority dalam agendaku. Ia masih timbul tenggelam dalam lautan rencana-rencana bisnis dan karir yang mendominasi perhatianku. Haduh, padahal kalau dilihat dari ‘deadline‘ usia, ini seharusnya sudah menempati daftar paling atas!

Beberapa bulan lalu jodoh sempat bertengger di urutan puncak rencanaku, kurang lebih selama 2 minggu saja. Nah, saat sedang hot-hotnya itu aku sempat membaca sebuah artikel di Kompas tentang biro jodoh bernama Matchactually. Yang membuat aku tertarik lantaran biro jodoh ini dikelola secara profesional dengan target sasaran kalangan menengah ke atas, artinya ‘para peserta’ akan berasal dari latar belakang yang tak serampangan. Buat kriteriaku, minimal mereka adalah orang yang terpelajar dan mapan. Pikir-pikir, ini bisa jadi merupakan salah satu bentuk usaha juga kan? Pasalnya banyak orang bilang, jodoh itu bisa didapat dengan cara berdoa dan berusaha.

Berbekal prinsip “usaha” tadi ditambah rasa penasaran bercampur iseng, jadilah aku membuka situs Matchactually dan browsing cepat seputar informasi menyangkut perusahaan, visi misi, hingga sampailah pada tata cara perjodohan. Rupanya aku harus mengisi formulir dahulu. Jujur agak dag dig dug juga sih…  Apa iya aku mau menempuh cara yang extraordinary ini? Tapi lantaran aku orangnya cenderung nekad, malah terkadang tanpa pikir panjang, aku memberanikan diri mengisi formulirnya. Tapi sepertinya tindakanku ini lebih dominan unsur isengnya deh. Alhasil formulir aku isi sekedarnya tanpa banyak pikir, meski aku tahu ini adalah informasi yang akan jadi bahan pertimbangan untuk mencarikan jodohku. Hah… dasar! Tak sampai 2 menit, formulir sudah selesai kuisi dan langsung kukirim.

Lalu muncul keterangan soal biaya berikut tata cara pembayarannya. Meski sudah menduga soal biaya yang mahal, toh tetap saja membuatku kaget. Biayanya memakai kurs dolar, persisnya lupa, cuma kalau dirupiahkan sekitar 3 juta rupiah. Aku yang semula ragu-ragu kini dibuat yakin 100% untuk membatalkan “usaha” lewat jalan ini 😀 Sampai di situ, aku berpikir proses ini telah batal.

Hingga sampai  hari ini, ketika aku mendapat sebuah telepon yang mengejutkan itu. Akhirnya aku hanya bisa nyengir sendirian mengingat keisenganku.

Nah, buatmu yang masih pusing tentang urusan jodoh seperti halnya aku, menarik juga kiranya mencermati resep Maia Estianty soal urusan jodoh. Sebuah resep yang juga dianut oleh beberapa sahabat dalam peer groupku. “Saya ngga mencari, kalau nyari yang udah-udah malah ngga karu-karuan dapatnya. Saya sih yakin, suatu saat nanti Allah akan mengirimkan jodoh terbaik untuk saya,” kata Maia dalam sebuah wawancara di acara televisi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Keisengan yang Bikin Dag Dig Dug

  1. Ping balik: The Mr. Right or Prince Charming? | Dance with Style

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s