Menengok Kabar Museum Zoologi Bogor

Museum peninggalan Belanda ini mengoleksi ribuan jenis satwa khas Indonesia, termasuk jenis hewan langka yang hampir punah. Tetap menarik untuk ditengok!

*****

Bocah lelaki itu menandak-nandak gembira seraya berpindah dari satu sudut ruangan ke sudut lainnya. Di sebuah lemari kaca yang tinggi dan besar, Mukti, 10 tahun, berhenti sejenak sambil melongok isi di dalamnya. “Kasuari kasuari!” serunya berulang-ulang membaca tulisan yang tertera pada papan display. Ia merapatkan wajahnya pada kaca, lantas memandang lekat sosok seekor burung besar di hadapannya, bulunya berwarna hitam dengan bentuk khas yang memendek seperti kawat. Burung raksasa ini diketahui hidup di Irian dan Australia.

Buat Mukti ini adalah pengalaman pertamanya berkunjung ke Museum Zoologi Bogor. Ia sangat senang bisa melihat langsung aneka macam hewan dalam wujud aslinya. Masih ada sekitar 1300-an koleksi hewan awetan lainnya, mewakili 954 jenis fauna Indonesia, yang dipamerkan disini. Jumlah tersebut hanya meliputi 3,5% dari jumlah jenis kekayaan fauna yang ada di Indonesia.

Museum Zoologicum Bogoriense, begitu nama museum ini saat masih menjadi pusat penelitian jaman Belanda. Ketika berdiri tahun 1894 sudah mulai menampung koleksi hewan awetan dalam bentuk spesimen. Awalnya sekedar meneliti hewan-hewan, khususnya jenis serangga, yang berpotensi sebagai hama perusak tanaman perkebunan milik Belanda. Namun selanjutnya berkembang menjadi pusat penelitian kekayaan fauna Indonesia. Sekitar tahun 1960, berkat bantuan dana dari UNESCO, Museum Zoologi Bogor akhirnya bisa memiliki ruang pameran yang menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Museum Zoologi Bogor kini sedang ‘mempercantik’ diri.  Ia memang menjadi bagian dari tempat tujuan wisata di Kebun Raya Bogor yang sedang berbenah. Dinding-dinding di sekitar pintu masuk dicat dengan aneka gambar pepohonan dan satwa sehingga tampak menarik, pencahayaan di dalam ruangan pun diperbaiki agar tak terkesan suram dan ‘menakutkan’, maklum ini adalah bangunan tua peninggalan Belanda, ada juga sebagian ruangan yang direnovasi.

Sayangnya Museum Zoologi Bogor tidak memiliki mesin pendingan udara atau AC sehingga pengunjung kurang nyaman berlama-lama di dalam. Saya pun merasakan itu. Tak sampai satu jam berada di dalam, saya sudah merasa kegerahan. Apalagi saat itu museum sedang ramai pengunjung, lantaran bertepatan dengan waktu liburan sekolah.

Tingginya Kelembaban Udara Jadi Kendala

Keberadaan mesin pendingin udara teramat penting untuk menjaga kondisi koleksi hewan awetan. “Untuk kelangsungan koleksi harusnya ada AC, tapi karena biayanya besar jadi terpaksa disiasati,” ujar M.H.Sinaga selaku manajer pameran Museum Zoologi Bogor. Sinaga menjelaskan standar penyimpanan ideal bagi benda-benda organik adalah pada suhu 21-23 derajat Celcius dan kelembaban 50% – 65%. Sementara kota hujan Bogor memiliki kelembaban udara yang tinggi yakni sekitar 85% – 90%. “Dulu waktu jaman Belanda, kelembaban udara Bogor ini juga jadi masalah. Berbeda dengan di Eropa, disana kan kering,” kata Sinaga.

Menurut Sinaga anggaran negara untuk penelitian basic science seperti ilmu zoologi memang minim. Baru pada tahun 1997, berkat bantuan dana dari pemerintah Jepang, pusat penelitian Museum Zoologi Bogor akhirnya dipindah ke Cibinong Science Center dengan kelengkapan riset berstandar internasional, termasuk mesin pendingin udara. Namun untuk ruang pameran tetap minus AC. Untuk menyiasatinya maka pihak museum menaruh batu kapur di dalam lemari kaca pameran yang berfungsi menyerap kelembaban.

Selain pengaturan suhu dan kelembaban, prasyarat lainnya adalah pencahayaan yang tidak terlalu terang untuk mencegah terjadinya perubahan warna pada koleksi. Pemeriksaan juga rutin dilakukan setiap hari untuk mendeteksi adanya gangguan yang dapat merusak koleksi, seperti jamur dan semut. Untuk menghilangkan debu digunakan kuas dan sikat berbulu halus. Perawatan memang harus ekstra hati-hati sebab sebagian besar merupakan koleksi peninggalan Belanda yang sudah berusia puluhan tahun.

Awet Ratusan Tahun dengan Arsenik

Badak Jawa Rhinocerus sondaicus merupakan salah satu koleksi hewan awetan tertua di Museum Zoologi Bogor, usianya sudah hampir 80 tahun, dengan bobot lebih dari dua ton, panjang tiga meter dan tinggi 1,5 meter. Kulitnya tebal berwarna hitam legam, sehingga tampak seperti memakai tameng baja, berikut sebuah cula di bagian kepala.

Badak Jawa merupakan hewan yang dilindungi, dan dianggap sebagai mamalia paling langka di dunia. Populasinya di alam bebas kini tinggal puluhan ekor saja yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Hewan bercula satu ini pernah menjadi badak Asia yang paling menyebar, namun kini keberadaannya kritis lantaran kerap diburu untuk diambil culanya yang amat berharga dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

Sekitar tahun 1900-an terdapat dua ekor badak, jantan dan betina, di sekitar Priangan, Jawa Barat yang hidup terpisah dari kelompoknya di Taman Nasional Ujung Kulon. Tak lama berselang, badak betina tewas ditembak para pemburu liar sehingga tinggallah badak jantan hidup sendirian. Hingga dalam sebuah misi studi keanekaragaman fauna, tahun 1934, petugas museum menewaskan si badak jantan dan menjadikannya koleksi untuk kepentingan pengetahuan.

Sebagian besar koleksi Museum Zoologi memang berasal dari hewan asli yang diawetkan yakni pada jenis mamalia, burung, dan serangga. Sedangkan jenis reptilia, amphibi dan ikan hanya merupakan replika dari hewan aslinya.

Proses pengawetan hewan mamalia dan burung lebih sulit dibandingkan serangga. Pertama-tama, kulit dipisahkan dari bagian daging dan lemak yang bisa menyebabkan pembusukan, lalu direndam dalam larutan fenol untuk membunuh bakteri. Selanjutnya bagian dalam kulit dibalur dengan bahan pengawet seperti arsenik, boraks atau formalin.

Arsenik adalah bahan pengawet yang paling kuat, daya tahannya bisa mencapai ratusan tahun. Namun sayangnya bahan ini amat beracun. Semua koleksi hewan awetan peninggalan Belanda di Museum Zoologi Bogor memakai bahan arsenik. “Arsenik dipakai oleh banyak museum di dunia sebagai bahan pengawet yang daya tahannya sudah teruji sampai ratusan tahun,” ujar Sinaga.

Namun sejak tahun 1986, penggunaan arsenik untuk kepentingan riset dilarang lantaran dianggap berbahaya bagi pekerjanya. Karena itu proses pengawetan kini memakai boraks, meski pengawetan dengan bahan ini tidak tahan serangan semut.

Kulit hewan yang telah diawetkan selanjutnya dikeringkan, dengan cara diangin-angin, selama 1 sampai 2 bulan. Setelah proses pengawetan selesai maka tinggal membuat manekin untuk keperluan mounting atau penampang tubuh hewan.

Berbeda dengan burung dan mamalia, pengawetan hewan serangga lebih sederhana karena ia tidak berdaging. Cukup dengan menyuntikkan alkohol atau formalin ke bagian rongga perut serangga, lalu mengeringkannya di dalam oven dengan suhu 50oC.

Ilmu Taksidermi dalam Awetan Mamalia

Museum Zoologi Bogor menempati bangunan tua peninggalan Belanda seluas 1.000 meter persegi dengan tujuh ruang pamer. Memasuki gedung museum, Anda akan disambut oleh beragam koleksi hewan awetan burung yang disimpan dalam lemari-lemari kaca berbahan kayu jati. Berbelok ke kanan, terdapat koleksi hewan awetan mamalia, kali ini dengan deretan lemari kaca berukuran lebih besar. Maklum, sejumlah hewan di dalamnya pun berukuran ekstra seperti badak bercula satu, banteng dan harimau.

Berjalan lebih jauh ke bagian dalam, terdapat ruang pameran reptilia dan amphibi yang sebagian besar berupa aneka jenis ular. Mounting reptilia ini bukanlah hewan awetan melainkan tiruannya saja, dibuat dengan cara mencetak kulit ular pada gips lalu diberi warna serupa aslinya. Meski hanya imitasi, berkat keahlian para ilmuwan dari Belanda, bentuknya betul-betul mirip aslinya.

Guna menghasilkan mounting serupa hewan aslinya diperlukan ilmu dan keahlian khusus, salah satunya adalah ilmu Taksidermi. Seorang ahli Taksidermi harus mempelajari berbagai perilaku hewan, baik melalui observasi langsung atau foto, antara lain saat ia makan, beristirahat, bercengkerama, berburu dan sebagainya.

Pembuatan mounting jenis hewan mamalia adalah yang paling sulit karena memerlukan manekin atau badan tiruan. Pengerjaannya sendiri terdiri dari beberapa tahap, yakni membuat rangka dari kayu dan kawat, lalu mengisinya dengan serutan kayu, melapisinya dengan gips dan membentuknya sesuai struktur otot tubuh hewan mamalia tersebut. Setelah manekin siap maka tinggal memakaikannya “baju” berupa kulitnya yang telah diawetkan.

Mounting hewan selanjutnya diletakkan dalam diorama pameran yang dibuat serupa habitatnya. “Diorama itu ibarat miniatur habitat hewan. Contohnya harimau, ia hidup di habitat dengan tumbuhan alang-alang sehingga mudah ngumpet ketika sedang mengintai mangsanya,” ujar Sinaga.

Guna memperkaya pengetahuan pengunjung, dalam diorama juga disertakan teks berisi penjelasan singkat antara lain terkait spesifikasi, populasi dan habitat hewan. Para pengunjung, mayoritasnya pelajar, mengaku amat senang bisa melihat langsung aneka binatang yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya. “Saya senang dan takjub melihat hewan-hewan disini yang kelihatan seperti aslinya, ” ujar Desi Fitriani seorang pelajar yang datang jauh-jauh dari Lampung.

Museum Zoologi Bogor memang tidak sekedar menawarkan kegembiraan berwisata, namun juga dapat menambah pengetahuan dan menumbuhkan kecintaan anak terhadap alam. (end)

Note: Versi penyuntingan dari tulisan ini dimuat dalam majalah Intisari edisi Agustus 2011.
Foto: Search from Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s