Yuk, Menulis Artikel!

Ehm… rasanya gimana gitu waktu mau membuat tulisan ini, secara aku masih anak bawang dalam kancah dunia penulisan 😉 Tapi pengalaman dan pengetahuan yang belakangan, sedikit demi sedikit, aku peroleh ini rasanya sayang kalau tidak dibagi. Siapa tahu bermanfaat.

Awal mulanya adalah kesempatan mendapat beasiswa kursus penulisan yang dibimbing oleh tiga penulis dan jurnalis kawakan Andreas Harsono, Fahri Salam dan Anugerah Perkasa. Thanks to sahabatku Mutia Muliasih untuk infonya. Berlanjut dengan datangnya peluang membuat tulisan reportase panjang, mewawancarai lebih dari 30 narasumber, mengenai KDRT yang dialami oleh seorang anak, di Madiun, Jawa Timur, bernama Endy Tegar Kurniadinata.

Semua kesempatan luar biasa itulah yang menjadi cikal-bakal tumbuhnya ketertarikanku terhadap dunia penulisan.

Kemudian seorang teman yang juga sekaligus guruku, Fahri Salam, menyarankan aku untuk mengajukan diri sebagai kontributor majalah Intisari. Alasannya karena ia melihat topik-topik tulisanku selama ini sejalan dengan konsep majalah terbitan Gramedia tersebut. Wah, aku girang bukan main mendengar ide itu! Hasilnya, aku diterima.

Buatku itu adalah cara bagus untuk bisa terus “menajamkan penaku”. Dan betul, pengalaman tujuh bulan berkarya di Intisari membuat kosa kataku lebih kaya dan berwarna, irama penulisan mengalir lebih lancar, alur cerita lebih fokus dan terarah dan kecepatan kerja yang lebih baik. Bravo! Thanks to Tjahjo Widyasmoro untuk kesempatan dan bimbingannya.

Nah, berdasarkan apa yang kupelajari menurutku menulis sebuah artikel akan lebih mudah apabila mengikuti tahapan-tahapan berikut ini:

1. Buka mata dan telinga, perhatikan apa-apa yang ada di sekitarmu. Be sensitive. Sebab seringkali hal-hal sederhana yang ada di sekitarmu bisa menjadi inspirasi topik tulisanmu.

2. Setelah mendapatkan topik yang pas di hati, lalu lakukan riset. Bisa lewat buku, media massa, internet dsb. Ini penting dilakukan untuk menjadi panduanmu ketika turun lapangan meliput, sehingga kamu tahu data apa yang perlu kamu cari, pertajam atau klarifikasi di lapangan, hal apa yang akan kamu tanyakan pada nara sumber, dan satu lagi, kamu tentu tidak mau kelihatan bodoh di depan nara sumbermu kan 😉

3. Turun lapangan untuk meliput : observasi dengan mengerahkan kelima panca indera, wawancara dan studi dokumen.

4. Membuat transkrip wawancara, kemudian merapikan, mengorganisasi dan menganalisa semua data yang didapat (hasil wawancara, observasi dan studi dokumen). Ini akan amat membantu dalam membuat angle dan struktur tulisan.

5. Membuat kerangka tulisan. Meski kita kerap mengabaikan tahapan yang satu ini, tapi percaya deh membuat kerangka teramat penting untuk membuat tulisan yang baik. Ibarat membangun rumah, kerangka adalah struktur bangunan yang akan memandu tukang bangunan untuk membangun rumah yang baik sekaligus menggambarkan bentuk akhir rumah itu nantinya. Ngga kebayang kan kalau kita bangun rumah dan tiba-tiba jadinya doyong kayak Menara Pisa 😉

6. Selanjutnya tinggal mengisi kerangka tulisan dengan detil-detil informasi yang sesuai dan berkaitan. Ini merupakan bagian yang terberat. Awalnya memang terasa sulit, tapi jangan khawatir asalkan sering berlatih segala sesuatunya akan terasa lebih mudah kokCause practice makes perfect!  Tipsnya: perhatikan angle tulisan, harus fokus dan tidak  melebar kemana-mana. Jangan segan membuang data yang tidak relevan, meski kamu menganggap informasi itu bagus. Gunakan kalimat dan pilihan kata yang ramah bagi pembaca, jangan terlalu formal dan kaku, karena kamu sedang membuat artikel loh bukan makalah seminar apalagi skripsi 😉

Nah, selanjutnya selamat menulis kawan!

Ingat, proses belajar tak pernah berhenti. Semakin sering kita menulis  semakin tajam pula pena kita.

Iklan

7 pemikiran pada “Yuk, Menulis Artikel!

  1. lama rasanya sudah aku tidak berkunjung kemari… ngomong-ngomong tentang reportase, aku ingin membaca tulisan reportase mendalamnya mba rahmi nih… kok ga ditayangkan disini yah mba? ;D hehhee

    Fika

    • Halo Fika, trims sudi mampir kemari 🙂

      Reportase mendalam itu maksudnya liputan ETF ya? Tentu dunk aku publish, itu kan penuh perjuangan ngerjainnya hehe.. Ada di kategori reportase, judulnya Kisah Tegar dari Robahan.

  2. Lagi iseng-iseng melihat statistik blog, ada salah satu pengunjung datang dari halam ini. Udah Ge-Er aja kok blogku di-refer dari url tentang tips menulis. Sepertinya dari blogroll itu datangnya 🙂

    BTW, jadi baca deh ini tulisannya. Thanks ya udah sharing yang bagus ini.

    Ada satu pertanyaan ni Mi, panjang tulisan artikel itu berapa kata atau huruf ya? 800, 1000, 2000 kata?
    Terus kalau menurut Rahmi, baiknya panjang tulisan di blog itu seperti tulisan artikel atau lebih pendek dan singkat?

    • Alo Mamun,

      Iya tempo hari aku sempat mampir:)

      Jumlah kata perartikel biasanya tergantung kebijakan redaksi. Seperti di Intisari u artikel liputan sekitar 1.500 kata, kalau cerita kiminal atau cukilan buku bisa 2.500-3.000. Untuk di blog jumlahnya sebaiknya lebih sedikit, karena karakteristik audiens di internet adalah untuk mendapat info yang dibutuhkan dengan secepat mungkin. Alias intinya aja. Jadi sebaiknya persempit fokus tulisan pada satu gagasan.

      Begitu mun 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s