Three Times a Cry

Seorang sahabat begitu sering memakai istilah ‘galau’ untuk mengambarkan suasana hatinya yang tak tentu, kebanyakan gara-gara persoalan berbau romansa. Maklum istilah itu adalah bahasa alay yang sedang naik daun. Aku yang mendengar kisahnya cuma senyum-senyum saja lantaran ngga mudeng dengan jenis perasaan itu. “Emang loe ngga pernah galau Mi?” tanyanya. “Emm… kayanya ngga tuh,” jawabku mengernyitkan dahi sambil mengingat-ingat.

Namun rupanya rasa galau itu mampir juga di hati, lantaran melihat status Facebook milik seseorang dari masa laluku. Tiba-tiba saja kenangan romansa bersamanya berputar-putar mengisi kepalaku. Pelan-pelan perasaan hangat menjalari hatiku yang bercampur dengan kesenduan, ah… entah bagaimana mendeskripsikannya. Oh, mungkin begini rasa galau itu. Tanpa bermaksud menghentikannya, kilatan-kilatan masa lalu itu silih berganti mengaduk-aduk kepala dan hatiku.

Tak seperti biasanya, kali ini aku membiarkan pikiran dan perasaanku terbang kemana ia mau. Membiarkan sensasi kegalauan ini membuai-buai diriku. Ya, untuknya pernah ada cinta. Dulu aku menangis saat perpisahan kami. Dia adalah satu dari tiga lelaki yang pernah aku tangisi.

He’s one of my Β three times a cry; lelaki yang kucintai saat kami berpisah, lelaki yang kusukai saat ia menikah dan lelaki yang kuabaikan saat kumenyesalinya.

Sesekali bergalau-galau seperti ABG rupanya tak apa. Asalkan jangan keseringan. Ngga baik buat kesehatan πŸ˜‰

Iklan

11 pemikiran pada “Three Times a Cry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s