Sehat dengan Tradisi Pernapasan Cimande

Jika Anda penggemar ragam olah tubuh dan pernapasan seperti Tai Chi, Waitankung ataupun Yoga, boleh jadi Anda akan tertarik mencoba Senam Hijaiyah yang berakar pada tradisi ilmu Cimande ini. Layaknya olah tubuh tradisi lainnya, senam ini juga mengusung filosofi kesehatan tradisi yang memandang manusia sebagai kesatuan utuh antara fisik, pikiran dan jiwa.

*****

Lelaki itu berdiri tegak dengan kedua tangan merapat di depan dada, kakinya dibuka melebar sedikit melebihi bahu, kemudian mengambil napas dalam sebanyak tiga kali. Kedua tangannya lantas dikembangkan dan diayun ke sisi kanan sembari menarik dan menghembuskan napas. Layaknya orang menari, tubuhnya pun ikut mengayun lembut dan perlahan mengikuti gerak tangannya. Sementara kedua kakinya menjejak kuat ke tanah dengan posisi kuda-kuda. Tak lama berselang, ia meninju kuat-kuat ke arah depan sambil bersuara lantang menyebut sebuah huruf Hijaiyah, “Zha!” sambil membuang napas.

Meski usianya sudah 63 tahun, Jatnika Nanggamihardja masih tampak bugar dan kuat. Gerak meninju, menangkis hingga kuda-kuda dilakukannya dengan mantap dan bertenaga. Tak heran, sebab selama puluhan tahun ia mendapat gemblengan ilmu bela diri tradisi Jawa Barat, Cimande.

Gerakan yang ia peragakan tersebut merupakan bagian dari gerakan Senam Hijaiyah ciptaannya, yang memadukan gerak silat klasik Cimande dengan teknik pernapasan dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an atau huruf Hijaiyah.

Jatnika adalah wedalan atau murid yang mewarisi ilmu tradisi Cimande langsung dari trah pendiri Cimande. Dua orang gurunya yakni Haji Djarkasih dan Haji Lukman adalah keturunan langsung, generasi kelima, dari pendiri Cimande yaitu Eyang Khair atau Eyang Rangga. Dari kedua gurunya itu pula, pada tahun 1974, Jatnika mendapat surat mandat yang memberinya kewenangan untuk mengajarkan ilmu Cimande kepada masyarakat. Ikatan Keluarga Besar Cimande pun telah menunjuknya sebagai nara sumber sekaligus ketua tim penelusuran sejarah riwayat seni budaya dan falsafah Cimande.

Manipulasi Oksigen untuk Kesehatan

Tiap generasi keturunan Cimande, menurut Jatnika, memiliki kekhasan sumbangsih tersendiri bagi masyarakat. Gurunya, Haji Djarkasih, misalnya sebagai generasi kelima memfokuskan pada penyebaran ilmu Cimande di bidang seni dan budaya, generasi kedua mengkhususkan pada penguatan spiritualitas, sedangkan generasi ketiga menitikberatkan pada ilmu pengobatan dan falsafah hidup. “Sebagai orang yang menerima mandat langsung dari sesepuh Cimande lantas saya berpikir apa yang bisa saya lakukan, maka lahirlah senam Hijaiyah ini,” ujar Jatnika.

Haji Djarkasih sebagai generasi kelima keturunan Cimande tersohor lantaran kepiawaiannya membawakan tarian penca Cimande igel Buhun. “Jika beliau menari semua orang spontan ikutan terbawa, itu saking indahnya,” kata Jatnika. Rahasianya ada pada keselarasan gerak tubuh dan rasa. Saat menari ia tidak mengikuti gendang penca melainkan degup irama jantungnya sendiri sembari berdizikir kepada Allah. Igel Buhun ini pulalah yang kemudian menjadi akar gerakan Senam Hijaiyah ciptaan Jatnika.

Jatnika meyakini kalau tradisi Cimande yang terjaga secara turun-temurun itu, baik dalam hal olah tubuh, pengobatan, ritual batin maupun falsafahnya, bermanfaat bagi kesehatan. “Karena jasmani dan rohaninya terus dibugarkan maka para sesepuh Cimande hidup sehat dan kebanyakan berumur di atas 100 tahun,” ujarnya. Gerak igel Buhun Cimande tersebut lantas digabung dengan sistem pernapasan lafal 30 huruf Hijaiyah, sehingga terciptalah Senam Hijaiyah. “Kalau kita membaca Al-Qur’an dengan pengucapan makhraj yang betul maka bisa menjadi obat,” ujarnya.

Senam Hijaiyah memiliki lima teknik pernapasan yakni napas yaitu menarik dan mengeluarkan udara secara seimbang, nipis yaitu menarik udara sebanyak-banyaknya lalu mengeluarkannya sedikit demi sedikit, nupus yakni menarik udara sebanyak-banyaknya lalu menahan sekuat-kuatnya, anpas yakni menarik dan mengeluarkan udara sebanyak-banyaknya, dan napsi yakni bernapas dengan menggunakan diafragma.

Olah napas memang bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia. Banyak yang mempelajarinya, lewat berbagai jenis olah raga tradisional, baik untuk tujuan kesehatan maupun ilmu kanuragan atau tenaga dalam.

Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, Sigit Nugroho, dalam tulisannya yang berjudul “Senam Pernapasan Menurut Sudut Pandang Ilmu Faal Olahraga” mengatakan bahwa secara fisiologis senam pernapasan dapat melatih seluruh sel tubuh agar tetap bertahan dalam kondisi kekurangan oksigen. Melalui latihan senam pernapasan, sel-sel tubuh dipuasakan dari oksigen sembari melakukan jurus-jurus.

Teknik menahan dan menekan napas di bawah perut, sambil bergerak, menyebabkan keadaan hipoksik atau kekurangan oksigen pada organ paru, darah hingga berlanjut pada sel jaringan tubuh. Jika sel mampu bertahan dalam kemiskinan oksigen maka fungsi sel-sel menjadi semakin baik dalam keadaan oksigen normal. Manipulasi oksigen, dengan membuat sel-sel tubuh kekurangan oksigen, merupakan cara fisiologis guna merangsang sel-sel tubuh meningkatkan dirinya.

Potensi Manusia Utuh

Ilmu Cimande yang berasal dari Kerajaan Pajajaran, dalam sejarahnya, bersinergi dengan nilai-nilai spiritualitas Islam dari Kesultanan Cirebon. Kepiawaian olah tubuh dan kedigjayaan kanuragan pendekar Kerajaan Pajajaran berpadu dengan spiritualitas Islam gemblengan para wali Kesultanan Cirebon.

Falsafah Cimande pun kerap menggunakan huruf-huruf Hijaiyah. Seperti falsafah jurus kelid yang berbunyi “Cicing panceg dina tangtungan Alif. Ulah unggut kalindungan, ulah gedak kaanginan ku jalan istiqomah,” yang artinya berdiri kokoh dalam pendirian huruf Alif. Jangan tergoda oleh pemberian atau berubah karena ancaman dan tetap konsisten.

Huruf “Alif” sendiri menjadi gerakan awal dalam tingkat pertama Senam Hijaiyah yang bermanfaat memperbaiki fungsi saraf, menyehatkan kulit dan memperbaiki rasa. Gerakan tersebut diawali dengan melakukan teknik “tiga napas” yakni menarik napas dalam-dalam lewat hidung dan menghembuskannya kembali lewat hidung, sebanyak dua kali, lalu menghembuskannya lewat mulut pada hitungan yang ketiga. Sementara itu, kedua telapak tangan saling menempel di depan dada.

Secara perlahan dan lembut selanjutnya kedua tangan dikembangkan, mulai dari arah bawah, sembari menarik napas, lalu bergerak melingkar ke atas hingga bertemu tepat di puncak kepala. Jeda sejenak. Lalu ucapkan, “Aliffff!” Huruf “f” dibunyikan mendesis panjang sambil mengeluarkan napas, sembari menurunkan kedua tangan ke depan dada.

Sesuai huruf Hijaiyah maka terdapat 30 macam gerakan dalam Senam Hijaiyah, yang dibagi ke dalam empat tingkatan. Semakin tinggi tingkatannya maka energi yang dihasilkan pun semakin besar. Menurut Jatnika senam ini melatih kelima potensi manusia secara utuh, yakni fisik, pikiran, emosi, hati dan ruh, melalui olah gerak, napas dan dzikir mengingat Allah.

Senam Hijaiyah memang bertujuan menciptakan manusia yang sehat secara jasmani dan rohani. Gerakan senam pada tingkat pertama dan kedua berfokus pada kesehatan fisik dan pengobatan penyakit, sedangkan pada tingkat ketiga dan keempat mulai menambahkan faedah keselarasan pikiran, emosi, hati dan spiritualitas. Seperti gerakan huruf “Mim” yang bermanfaat memperbaiki kebijaksanaan dan mengendalikan emosi, atau huruf “Ha” yang bermanfaat membuang racun, baik fisik maupun non fisik, dan kemampuan mengakses energi Ilahi.

Tingkatan tidak hanya dibedakan menurut gerakan fisiknya, namun juga kemampuan dalam melatih empat potensi diri lainnya yakni pikiran, rasa, hati dan ruh. “Apabila kelima potensi manusia ini diterapkan sepenuhnya pada Senam Hijaiyah maka akan menghasilkan energi yang luar biasa,” ujarnya. Ia menambahkan, meski menggunakan huruf-huruf Al-Qur’an senam ini bisa dipraktekkan oleh siapa saja, tidak hanya umat Islam.

Perijinan yang Bikin Rumit

Sejatinya Cimande adalah tradisi turun-temurun warisan leluhur yang menyeluruh, mencakup falsafah hidup, budi pekerti, tasawuf, ilmu pengobatan dan ilmu bela diri. Tradisi kuno yang berusia lebih dari 5 abad ini pun masih lestari sampai sekarang.

Sayangnya Cimande kini hanya dikenal sebatas pada perkampungan atau ilmu pencak silatnya. Sampai era 70-an pencak silat Cimande memang punya pamor moncer di seantero Jawa Barat, namun belakangan peminatnya semakin berkurang. Alih-alih melestarikan tradisi budaya negeri, masyarakat kini lebih gandrung terhadap ilmu olah tubuh dari negeri seberang seperti Cina, Jepang atau India.

Sementara ilmu pengobatan Cimande pun hanya dikenali sebatas pada pengobatan patah tulangnya. Padalah menurut Jatnika, ada 30 macam ilmu terapi dalam pengobatan Cimande seperti pengobatan saraf, urat, otot, peredaran darah, suhu tubuh dan ilmu herbal dengan disiplin ilmu yang tersendiri.

Jatnika sendiri telah malang-melintang mendalami dan mengajarkan ilmu pencak silat dan pengobatan Cimande sejak tahun 70-an. Pada tahun 1985, ia mulai membuka praktek pengobatan Cimande di Jakarta dan Bekasi.

Pengalaman unik ditemuinya saat ia diminta berpraktek di sebuah klinik pengobatan tradisional di Jakarta. Klinik ini sebelumnya sudah mempekerjakan para profesor ahli pengobatan tradisional Cina dan Jepang, seperti akupunktur, shiatsu dan tuina, namun belum mempunyai ahli pengobatan tradisionalIndonesia. Karenanya Jatnika diajak bergabung. Repotnya ia tidak punya ijin praktek dari instansi kesehatan yang berwenang. Saat mengajukan ijin, petugas Departemen Kesehatan malah dibuat kebingungan lantaran tidak punya ahli yang kompeten untuk menguji ilmu pengobatan ala Cimande.

Alhasil para profesor ilmu pengobatan Cina di klinik itu sendiri yang menguji Jatnika. Ia dinyatakan lulus dan ijin praktek pun akhirnya dikeluarkan Depkes. “Kemampuan pengobatan kita setara dengan mereka, mulai dari cara mendeteksi penyakit, aliran darah dan ilmu herbalnya,” ujarnya.

Eksis Hingga Kini

Semenjak usia 9 tahun, Jatnika telah mempelajari ilmu pencak silat Cimande dari ayahnya yang merupakan guru senior di perguruan Cimande. Ia selanjutnya melanglang buana ke berbagai daerah di Jawa Barat guna memperdalam ilmu Cimande, termasuk berguru langsung pada trah keturunan pendiri Cimande, Haji Djarkasih dan Haji Lukman.

Berdasarkan mandat kedua gurunya itu pula ia diperintahkan untuk mengumpulkan ilmu Cimande yang telah tersebar di luar lingkungan Cimande. Alhasil sepanjang hidupnya ia telah berguru pada lebih dari 60 orang guru dengan spesialiasi ilmu yang berbeda-beda. Semenjak diperkenalkan ke masyarakat pada tahun 1579 oleh Eyang Khair atau Eyang Rangga, ilmu Cimande memang tidak saja diwariskan pada keturunan pendiri Cimande atau trah, namun juga masyarakat umum atau wedalan.

Hingga kini, keturunan Eyang Khair yang tinggal di perkampungan Tari Kolot, Bogor masih eksis dan mewariskan ilmu Cimande secara turun-temurun. Meski begitu, tak semua keturunan Cimande mau mempelajarinya. Ilmu yang dipelajari pun tidak menyeluruh.

Demi melestarikan tradisi Cimande maka Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Besar Cimande, tahun 2006, memutuskan membentuk  tim penelurusan sejarah riwayat seni budaya dan falsafah Cimande dan menunjuk Jatnika sebagai ketuanya. “Saya diharapkan sebagai museum,” ujarnya. Penggubahan Senam Hijaiyah yang berakar pada seni penca Cimande itu pun merupakan salah satu bentuk darma bakti Jatnika dalam melestarikan tradisi leluhur ini. (end)

Note: Versi suntingan dari tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi Januari 2012.

Iklan

20 pemikiran pada “Sehat dengan Tradisi Pernapasan Cimande

  1. Asalammualaikum Tuan
    Saya sangat beminat untuk mempelajari Senam Hijaiyah ini.
    Boleh tolong bagi saya alamat lengkap untuk belajar Senam Hijaiyah

  2. Alhamdulillah masih ada yg perduli dengan makna huruf hijaiyah…kalau bisa saya minta alamat persisnya perguruan cimande ini dimana ? Atau nomor hp-nya berapa ? Terimakasih

  3. asl kang,saya anak jombang jatim..dulu saya belajar pernafasan tetapi salah penempatan’;dikepala sekarang masih sering pusing kepala;gimana cara menghilangkan rasa sakit itu’mohon bimbingan’dan saya juga belajar jurus cimande buat sarana pengobatan;wasallam wage prayitno jombang jatim no hp 085814385369

  4. Sekarang sudah dibuka SHI Cab. Tangerang. Alamat Sekretariatnya: :Perimahan Dasana Indah Blok SB 1 No. 4 Kel. Bojongnangka, Kec. Kelapa Dua, Tangerang.
    Yang membuka cabang Tangerang adalah Bapak Deden Subagja, beliau adik kandung Bapak Jatnika.
    Jika berminat ingin latihan Senam Hijaiyah silahkan datang kealamat tsb diatas pada setiap hari Minggu pagi Pk. 6.00 WIB dan Rabu malam Pk. 20.00.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s