Novel Karya Gadis Psikopat

Tak ada anak yang terlahir ke dunia sebagai penjahat. Namun Kemi Adeyoola, puteri seorang milyuner di London, Inggris dianggap sebagai psikopat yang terlahir sebagai pembunuh. Dalam sebuah penggeledahan, petugas menemukan dokumen rencana pembunuhan di sel tempatnya ditahan.

***

Kemi Adeyoola adalah produk keluarga broken home. Kedua orang tuanya, Bola Adeyoola dan Mercuria, memutuskan bercerai di tahun keempat pernikahan mereka. Kemi beserta dua adiknya yang masih balita itu lantas ikut sang ibu.

Bola Adeyoola adalah seorang imigran asal Nigeria dan mantan petinju. Setelah menetap di Inggris, ia bekerja sebagai agen real estate dan menjadi seorang milyuner. Dalam kesepakatan perceraiannya, Bola memberi tunjangan sebesar £4 juta atau sekitar Rp 56 miliar untuk istrinya, Mercuria, wanita kelahiran Barbados, Karibia.

Pasca perceraian, Mercuria dan tiga anaknya  hidup berpindah-pindah di seantero Inggris, mulai dari Cheltenham, Peterborough, Gloucestershire hingga Golders Green. Meski hidup tak menentu,  kehidupan Kemi dan keluarganya relatif mencukupi. Kemi pun disekolahkan di sejumlah institusi pendidikan bergengsi seperti Stamford High School, Gloucestershire dan Wycliffe College atas pembiayaan sang ayah.

Meski kebutuhan materi relatif terpenuhi namun Kemi dan adik-adiknya kehilangan figur seorang ayah. Bola Adeyoola hanya sesekali terlihat mengunjungi keluarganya dengan mengendarai sedan mewah Rolls Royce-nya. Hubungan Bola dengan Kemi, baik berupa pesan ataupun uang, lebih banyak disampaikan melalui sang kakek.

Kemi kecil dikenang sebagai anak yang baik dan menyenangkan. Hingga saat usianya 11 tahun, Bola mengaku putus kontak dengan anak sulungnya itu. Mercuria membawa anak-anaknya pergi gara-gara pertengkarannya dengan Bola soal keuangan keluarga. Di usianya yang beranjak remaja itu Kemi mulai tersangkut perkara kriminal. Ia kerap mencuri barang-barang di sejumlah toko, lalu mengakali kuitansi pembelian untuk mendapatkan ganti rugi atas barang curian tersebut. Sasarannya adalah toko-toko kelas atas. Sampai pada suatu ketika, ia tertangkap basah dan terpaksa mendekam di penjara.

Rencana Pembunuhan

Penjara Bullwood Hall berada di Essex yang diperuntukkan bagi para narapidana lelaki dewasa dan remaja usia 15 sampai 20 tahun. Disini Kemi menjalani hukuman 3 bulan kurungan lantaran kedapatan mencuri barang di sebuah toko.

Dalam suatu inspeksi, Oktober 2004, petugas menemukan dokumen berisi rencana pembunuhan berjudul “Prison and After, Making Life Again ” di sel tahanan Kemi. Sasarannya adalah seorang wanita tua, lemah dan kaya raya.

Dokumen setebal 18 halaman itu ditulis rapi disertai gambar yang menjelaskan secara rinci rencana pembunuhan tersebut.  Pertama, mengawasi gerak-gerik korban dari dekat dengan cara menyamar sebagai gadis sekolahan yang hendak mengajukan kuesioner untuk tugas sekolahnya. Kemudian penyerangan dilakukan saat korban berada di rumah, dengan masuk secara sembunyi-bunyi lalu menyergapnya dari belakang dan membekap mulutnya. Detil selanjutnya adalah deskripsi aksi pembunuhan yang mengerikan.

“Tunjukkan pisau pada korban dan letakkan di lehernya,” demikian salah satu bunyi instruksi dalam catatan Kemi. Selanjutnya lumpuhkan korban dengan cara menyuntikkan obat penenang. Lalu sambil tetap mengancam, tanyakan nomer akun bank milik korban berikut kode pengamannya. “Ini adalah peringatan terakhir buatmu!” tulis Kemi.

Guna menghilangkan jejak, paksa korban menulis surat untuk suaminya yang menjelaskan bahwa ia pergi bersama lelaki lain. Korban lantas dibunuh. “Dengan pisau daging penggal bagian kepala dan bebat dengan plastik untuk menahan perdarahan. Potong-potong bagian tangan dan kaki, lalu masukkan dalam kantung plastik hitam dan buang ke dalam peti.”

Kemi juga menulis rencana pembunuhan alternatif dengan membawa korban ke puncak tebing menggunakan mobil. Disana korban akan dihabisi dengan cara menggorok lehernya, lalu mobil dibakar dan didorong hingga masuk jurang.

Ada pula daftar belanja berisi barang-barang yang diperlukan untuk memuluskan rencana pembunuhan tersebut. Diantaranya pistol otomatis, pisau daging, sarung tangan, borgol, serum kebenaran dan obat-obatan untuk melumpuhkan dan menghapus ingatan korban.

Ringkasnya, “Prison and After, Making Life Again ” memuat rencana-rencana kriminal untuk memperoleh “kebahagiaan” versi Kemi yakni hidup bergelimang harta dan memiliki bentuk tubuh yang ideal. Itu artinya mempunyai uang £3 juta atau sekitar Rp 40 miliar dengan cara membunuh wanita tua tak berdaya yang kaya raya, memiliki rumah mewah yang didapatnya dengan melakukan penggelapan, serta mempunyai pekerjaan bagus dengan cara membeli ijazah palsu berstandar nilai A dan memanipulasi daftar riwayat hidupnya. Kemi juga menulis keinginannya menghilangkan bobot tubuhnya sebanyak 25 kg.

Penemuan dokumen itu tak ayal membuat Kemi harus menjalani serangkaian pemeriksaan. Dalam sebuah sesi tanya jawab, psikolog forensik Lidya Sear menggambarkan Kemi sebagai sosok yang defensif, arogan dan asertif.

“Apakah ini adalah sesuatu yang hendak kau perbuat?”
“Aku mau tulisanku kembali! Itu hanyalah draft novel thriller yang akan kubuat.”
“Apa niatmu sesungguhnya saat menulis cerita ini?”

Namun alih-alih menjawab, Kemi malah pergi meninggalkan ruangan.

Belakangan laporan pemeriksaan psikiatri menyimpulkan Kemi tidak memiliki potensi melakukan aksi pembunuhan semacam itu. Ia malah digambarkan sebagai anak cerdas dan berkelas. Di bawah bimbingan yang baik Kemi dinilai dapat berubah dan menjadi siswa berstandar nilai A.

November 2004, Kemi dibebaskan dan menjalani 3 bulan masa percobaan dalam pengawasan. Sang ayah telah menyiapkan apartemen untuk tempat tinggal Kemi dan seorang temannya. Tapi Kemi menolaknya mentah-mentah. “Mereka datang ke kantorku dan mencampakkan tawaran itu. Mereka sama sekali tidak punya rasa hormat terhadapku, kupikir mereka tidak punya rasa hormat terhadap siapapun,” ujar Bola gusar.

Kedua gadis remaja itu lantas memutuskan tinggal di sebuah apartemen mewah bertarif £800 atau sekitar Rp 11 juta perbulan. Kemi menyombongkan diri bahwa mereka membayar sewa dengan  bekerja sebagai gadis penghibur berpenghasilan £500 perminggu. Namun gaya hidup bermewah-mewah itu tak bertahan lama, Kemi pun kembali tinggal bersama ibunya.

Tewas dengan 14 Tikaman

Memiliki keluarga yang tak utuh dan kerap hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bukanlah kehidupan ideal bagi pertumbuhan seorang anak. Hal ini sedikit banyak tentu mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Perubahan perilaku Kemi sendiri mulai terlihat saat ia beranjak remaja. Bahkan sejumlah tetangga menganggap kehadirannya sebagai  “teror” dan bertingkah rasialis.

Saat tinggal di daerah Gloucestershire ia pernah membunuh ikan peliharaan di kolam milik tetangganya, lalu berbohong dengan mengatakan ikan itu dimakan kucing. Di lingkungan tempat tinggalnya yang baru, Elmcroft Road, Golders Green, ia pun berulah. Kemi ditahan lantaran melakukan teror terhadap sebuah keluarga keturunan Asia. Ia meninju seorang anggota keluarga Asia itu hingga hidungnya patah dan berusaha meracun anjing milik mereka. Ia pun kerap berperilaku nakal seperti mengganggu anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya dan mengoleskan kotoran manusia ke jendela rumah milik seorang warga.

Tak jauh dari tempat tinggal Kemi di Golders Green tinggal pasangan suami istri Mendel. Pasangan keturunan Yahudi ini telah menikah selama 50 tahun, mempunyai dua anak dan 14 cucu serta cicit.  Anne Mendel, 84 tahun, dikenal sebagai sosok yang ramah, dermawan dan baik hati. Wanita murah senyum itu kerap aktif dalam berbagai kegiatan amal, mengunjungi warga yang sakit dan suka menolong. Sedangkan Leonard Mendel, 81 tahun, adalah seorang pensiunan pegawai kantor pos.

Pada suatu sore di bulan Maret 2005, Leonard tiba di rumahnya sepulang dari bepergian. Ia merasa ada yang tak beres ketika mendapati kabel telepon rumahnya putus dan menemukan bekas darah pada dinding. Di ruangan tengah, ia menemukan tubuh istrinya yang masih berbalut baju tidur terbujur kaku, bersimbah darah, dengan ditutupi sehelai mantel.

Berharap istrinya masih hidup, Leonard berusaha memberikan napas buatan namun tak membuahkan hasil. Lukanya demikian parah. Ada 14 tikaman pisau yang menghujam tubuhnya, pada dada, perut dan tangan kanannya. Pada bagian punggung tampak luka sayatan dalam sepanjang 5 inchi dan lebar 1 inchi.

Kemi Adeyoola, 18 tahun, menjadi tersangka utama pelaku pembunuhan berdarah tersebut. Namun banyak yang tak percaya kalau seorang remaja putri seperti Kemi bisa melakukan perbuatan sedemikian kejam. Gadis keturunan Nigeria itu dituduh melakukan pembunuhan berencana lantaran tulisannya yang berkisah tentang rencana pembunuhan yang mirip dengan kasus pembunuhan terhadap Anne Mendel. Namun Kemi menyangkalnya, menurutnya itu hanyalah draft novel thriller yang hendak ia buat.

Manipulatif dan Bermuslihat

Polisi yang tiba di tempat kejadian tidak menemukan barang apa pun yang bisa menjadi petunjuk pelaku pembunuhan. Alhasil kasus ini tetap menjadi misteri. Sampai sebulan berselang, polisi menemukan bukti baru. Pemeriksaan DNA terhadap bercak darah pada tangan korban memberi petunjuk tersangka pelaku pembunuhan.  Mei 2005, polisi menahan Kemi Adeyoola atas tuduhan melakukan pembunuhan terhadap Anne Mendel. Sedangkan dokumen rencana pembunuhan yang ia tulis dahulu menjadi bukti yang memperkuat dugaan adanya aksi pembunuhan berencana.

Pada persidangan di Old Bailey, Kemi lagi-lagi membantah keras tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tulisan itu hanyalah draft novel thriller yang terinspirasi dari kegemarannya membaca cerita-cerita kriminal karya James Patterson and Martina Cole. Sementara soal urusan  bercak darah pada tangan Anne, menurutnya hanyalah ketidaksengajaan. Sehari sebelumnya, Kemi mengaku membantu tetangganya itu menyeberang jalan dan secara tak sengaja Anne melukai tangannya hingga berdarah.

Namun jaksa penuntut umum, Allan Green, menilai ucapan Kemi itu omong kosong.

“Adeyoola adalah pembunuh yang penuh tipu muslihat, manipulatif dan tidak jujur.”

“Nyonya Mendel begitu kecil, tua dan tak berdaya, ia adalah target yang mudah untuk sebuah eksperimen pembunuhan.”

Meski begitu ada yang sedikit berbeda, Anne bukanlah wanita kaya raya sebagaimana target yang dihendaki Kemi dalam dokumen rencana pembunuhannya. Pasangan Mendel hanyalah pensiunan yang hidup sederhana. Untuk hal ini Allan berargumen bahwa pembunuhan Anne layaknya latihan buat Kemi, sebelum ia menemukan sasaran yang sebenarnya. Henry Blaxland selaku penasihat hukum mengatakan Kemi mengalami gangguan emosional, “Dia merasa benar-benar sendirian, seluruh keluarganya seolah meninggalkannya.”

Kemi sendiri tampak tenang menjalani persidangan. Mengenakan baju bergaris-garis merah muda dan celana berwarna senada, ia tersenyum dan tampak tak terbebani oleh kasus yang menimpanya. Saat jeda ia sibuk memainkan ponselnya dan berkirim pesan singkat. Kemi bersikukuh bahwa ia tak bersalah.

Pada kesempatan lain, Kemi menghadirkan saksi seorang kerabatnya, gadis 16 tahun, yang memberi alibi bahwa ia tak berada di rumah korban pada saat kejadian. Namun pada persidangan lanjutan jaksa Allan mematahkan alibi tersebut. Dari sebuah rekaman pembicaraan dari dalam tahanan, Kemi dan kerabatnya itu diketahui berupaya membuat alibi palsu. Caranya dengan menyuap seorang supir bis agar bersedia mengaku melihat Kemi di depot bis, pada saat kejadian, untuk menemukan dompetnya yang tertinggal dalam bis.

Salah seorang juri, Richard Hone, menilai Kemi sebagai gadis yang cerdas, manipulatif dan seorang pembohong ulung yang jauh melebihi usianya. “Kamu adalah pembunuh berdarah dingin yang membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Membesarkan Monster

Meski bukti-bukti di persidangan menguatkan argumen jaksa namun para juri, tujuh pria dan lima wanita, tampak kesulitan membuat keputusan. Butuh waktu hingga 23 jam bagi juri untuk bersepakat. Akhirnya pada 28 Juni 2006, pengadilan Old Bailey menyatakan Kemi Adeyoola bersalah melakukan pembunuhan berencana dan mengganjarnya hukuman 20 tahun penjara. Kemi pun dibuat shock dan menangis histeris.

Usai pembacaan putusan, seorang sumber yang mengetahui proses penyidikan menyebut Kemi terlahir sebagai pembunuh, “Ia psikopat tak berperikemanusiaan dengan keangkuhan luar biasa.” Sementara Inspektur Polisi Steve Moris menilai Kemi sebagai gadis muda yang tak mengenal belas kasihan dan tidak jujur. Polisi percaya terdapat sejumlah korban lainnya yang sudah ia incar, dan pembunuhan terhadap nyonya Mendel hanyalah pemanasan sebelum ia mendapat target yang kaya raya.

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Namun psikopat berbeda dengan gila atau psikosis karena penderitanya sadar penuh akan perbuatannya. Menurut ahli psikopati dari Universitas British Columbia, Robert D.Hare, seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah dan kebohongan untuk kepuasan dan keuntungannya sendiri. Ada berbagai teori penyebab psikopati yakni anomali struktur otak, genetik dan lingkungan. Psikolog dari Universitas California, Professor Adiane Raine, mengatakan  orang tua yang tak memberikan rasa empati kepada anaknya dapat memicu berkembangnya gangguan personality antisosial yang agresif.

Sementara itu, mengetahui perbuatan putri sulungnya Bola Adeyoola terlihat begitu emosional. “Apa yang ia perbuat amatlah jahat, dia bukan lagi anakku. Aku bahkan tak menyukainya!” katanya. Bola mengaku tak sanggup mengendalikan kecenderungan perilaku menyimpang anaknya itu. Kakek Kemi bahkan menasehati menantunya itu, “Cuci saja tanganmu, anak perempuanku telah membesarkan seorang monster. Dia bukan lagi gadis cilik yang pernah kau kenal.”

Bola mengaku tak sudi mempunyai hubungan apapun dengan anaknya itu. “Aku bahkan menyesali hari dimana aku pernah bertemu ibunya,” kata Bola mengenang pernikahannya dengan Mercuria yang kandas. Ia berpendapat perilaku Kemi itu disebabkan oleh pengaruh buruk ibunya yang materialistis.

***

Awal Juli 2008, bunyi alarm meraung-raung memecah keheningan pagi di penjara Bronzefield di Ashford, Middlesex. Petugas menemukan sel tempat tahanan narapidana wanita tidak terkunci dan Kemi Adeyoola menghilang. Padahal dalam pemeriksaan rutin di malam harinya, petugas melihat Kemi sedang tidur di selnya. Namun rupanya mereka dikibuli, itu hanyalah tumpukan batal yang sengaja ditata menyerupai bentuk orang yang sedang tidur. Belakangan Kemi ditemukan berada di sel tahanan narapidana lain. Ia mengaku meninggalkan selnya untuk mencari pesawat televisi. (end)

Note: Kisah ini dimuat pada majalah Intisari edisi November 2011

Iklan

2 pemikiran pada “Novel Karya Gadis Psikopat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s