Kejutan “Sebatang Sam Soe”

Minggu pagi, 18 Desember 2011, aku terbangun dan mendapati “sebatang sam soe” di samping tempat tidur. Kuhisap aromanya, kuresapi rasanya hmm… ini benar asli sam soe! Ya, umurku saat ini tepat 34 tahun alias sam soe! Tahu dong, merek rokok terkenal Dji Sam Soe alias 234. Konon katanya, angka itu mengandung filosofi kesuksesan yang dipercayai oleh sang pemilik. Jika dijumlahkan, hasilnya 9 yang dipercaya sebagai angka hoki.

Hari itu, aku betul-betul menghayati rasanya menjadi 34 tahun. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk kepalaku dan berkata, “Hey, wake up girl! You are not as young as you felt!” *wooopsss* Yah, begitulah aku kerap lupa dengan umur dan berasa muda aja gitu 😉 Walhasil, di ulang tahunku yang ke-34 ini aku mulai memasukkan pernikahan dalam daftar prioritasku. Dan ngga tanggung-tanggung, langsung melesat ke posisi puncak! *Siuuuuutttt*

Rupanya angka sam soe alias 34 sukses membuatku tersadar 😀

“Sebatang sam soe” di ulang tahunku ini memang mengejutkan. Tidak saja soal besaran angkanya, tapi juga kejadian berikutnya yang sukses membuatku emosi berat!

***

Pukul 08.15 WIB. Dering telepon membuatku tergopoh-gopoh meninggalkan panci penggorengan berisi telur dadar setengah matang yang sedang kumasak. Rupanya kakakku. Ia bilang ada seorang karyawanku yang membuat ulah. Tanpa mau menjelaskan secara rinci, aku disuruh datang cepat-cepat kesana. Kaget pasti, tapi aku relatif tenang mendengar berita itu. Sebab kemungkinan terburuknya, menurutku, karyawan tersebut minta berhenti. Jika itu benar, aku pasrah saja. Lillahi Ta’ala. Aku percaya Allah akan memberi jalan keluar untuk persoalanku, seperti yang sudah-sudah.

Urusan masak terpaksa ditunda, aku pun berangkat ke Marun Rumah Aromaterapi, tempat usahaku-red. Sesampainya disana, aku masih bersikap tenang. Kulihat karyawanku yang berulah sedang duduk di meja reception, tanpa memakai seragam. Wajahnya direbahkan di atas meja dengan ekspresi tak enak. Aku pernah mendapati eskpresi itu sekitar 3 tahun silam, saat itu ia juga meminta berhenti. Karyawan yang satu ini memang agak emosional dan sensitif, tapi dia merupakan karyawan yang paling bisa kupercayai. Integritas, kinerja dan loyalitasnya telah teruji selama empat tahun kebersamaan kami. Cuma, ya itu tadi, dia punya catatan khusus soal pengendalian emosi.

“Kenapa?” tanyaku baik-baik.
“Saya mau berhenti, Mbak,” ujarnya singkat.
“Apa alasannya?” tanyaku lagi masih tenang.
“Udah ngga kuat lagi. Capek, Mbak,” jawabnya.

Aku kaget bukan kepalang mendengar alasannya. Sangat ngga masuk akal! Meski tidak rutin, aku selalu menyempatkan diri berkomunikasi dengan semua karyawanku lewat rapat-rapat kecil untuk mengevaluasi segala hal terkait day to day bisnis ini, termasuk soal jam kerja, beban kerja dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kenyamanan kerja. Tidak sekedar bersifat satu arah, aku pun meminta masukan dan umpan balik dari para karyawanku. Yang paling membuatku kaget, kemarin kami baru saja mengadakan rapat kecil membahas banyak hal termasuk soal beban kerja. Dan semua karyawanku sepakat mengatakan tidak ada yang memberatkan.

Mendengar jawaban tak masuk akal itu, toh aku tak menggugat balik. Aku pikir, ya sudahlah, jika memang dia tak lagi nyaman bekerja disini. Asalkan ikut aturan main.

“Baik, kalau kamu mau berhenti ngga apa-apa. Cuma kamu tahu kan aturannya, resign bisa diberikan minimal tiga bulan.”
“Wah, kalau tiga bulan kelamaan, Mbak.”
“Ya sudah, buat kamu saya beri satu bulan.”
“Saya maunya besok sudah berhenti.”

Mendengar jawaban itu, emosiku kontan tersulut. Aku mulai bicara dengan nada keras. “Kalau begitu apa alasannya? Jangan bilang capek, karena kalian bilang ngga ada masalah soal beban kerja,” ujarku sambil menahan emosi.

“Yah, banyak yang saya ngga sreg aja, Mbak.”
“Seperti kalau ngga masuk tiga hari harus pakai surat dokter.”

Kali ini, cukup sudah. Aku betul-betul dibuat naik pitam. Bisa-bisanya dia memakai alasan itu! Padahal ketentuan menyertakan surat dokter itu dibahas dalam rapat khusus lantaran ada seorang karyawan yang kerap sakit, sampai tujuh hari dalam sebulan, sehingga aturan itu dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Aku pun selalu membuka forum diskusi untuk menyampaikan saran maupun keberatan.

“Jangan cari-cari alasan! Itu kemarin sudah dibicarakan di rapat dan tidak ada yang keberatan.” Ujarku dengan suara bergetar menahan amarah. “Beri saya alasan yang jujur, dan kalau itu bisa diterima kamu boleh resign. Tapi jangan cari-cari alasan, saya bisa marah!” Sekujur badanku bergetar, air mata mulai merebak pelan-pelan. Di saat aku nyaris meledak, seorang karyawanku yang lain tiba-tiba datang sambil membawa sebuah kue tart. “Selamat ulang tahun, Mbak!” ujarnya. Semua yang hadir disitu sontak bertepuk tangan dan bernyanyi lagu “Selamat Ulang Tahun”.

“Mbak, selamat ulang tahun. Jangan marah ya, Mbak,” ujar karyawanku “yang berulah” itu seraya memberikan selamat. Rupanya kejutan ulang tahun ini telah direncanakan dari jauh-jauh hari. Para karyawanku ini berencana patungan untuk membelikan kue tart ulang tahunku, plus mengajak serta kakakku agar mau ikut partisipasi mengerjaiku.

Waduh… Seumur-umur, baru kali ini aku kena dikerjai begini. Meski amat berkesan, tapi ngga lagi-lagi deh 😀

Iklan

2 pemikiran pada “Kejutan “Sebatang Sam Soe”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s