Willpower Kunci Menuju Sukses

Judul: Willpower, Rediscovering The Human Strength
Penulis: Roy F. Baumeister
Penerbit: The Penguin Press, New York, 2011
Sejumlah penelitian membuktikan bahwa willpower itu ada, suatu kekuatan yang benar-benar eksis, malah terbukti dapat dilatih. Semuanya dipaparkan dalam buku Willpower Rediscovering the Human Strength.
***

Setting: laboratorium. Sejumlah mahasiswa yang telah berpuasa dan jelas sedang kelaparan ditempatkan dalam ruangan. “Siksaan” mereka adalah aroma biskuit cokelat fresh from the oven. Di hadapan mereka tersaji tiga jenis makanan: biskuit cokelat hangat, permen, dan sayur lobak mentah. Sebagian mahasiswa dipersilahkan makan kue dan permen, tetapi sebagian lainnya hanya boleh makan lobak. Roy F. Baumeister, Direktur Program Psikologi Sosial di Florida State University, akan menguji ketahanan mereka terhadap godaan.

Lewat jendela observasi terlihat bagaimana mahasiswa yang menjalani “uji lobak” berjuang mati-matian melawan godaan untuk tidak memakan kue. Ada yang mengambil kue cokelat yang lezat itu, menghirup aromanya, lalu menaruhnya kembali di atas piring. Ada pula yang pura-pura tak sengaja menjatuhkan kue ke lantai lalu cepat-cepat menaruhnya kembali ke piring. Godaan kue cokelat sungguh begitu kuat sehingga mereka harus mengerahkan segenap willpower untuk menolaknya.

Para mahasiswa lantas dibawa ke ruangan lain untuk menyelesaikan puzzle yang sebetulnya tidak ada pemecahannya. Eksperimen ini bertujuan menguji sejauh mana ketahanan mereka sebelum akhirnya menyerah. Ternyata mahasiswa yang memakan kue menyerah setelah 20 menit, sama halnya dengan grup kontrol yakni mahasiswa yang lapar tapi tidak memakan apapun. Sementara mereka yang memakan lobak menyerah setelah 8 menit. Rupanya upaya menolak godaan kue coklat cukup menguras energi, sehingga mereka kesulitan untuk bertahan menyelesaikan puzzle.

Willpower rupanya bukan sekedar metafora, ia serupa otot yang bisa kelelahan lantaran pemakaian terus-menerus.

Ego Depletion

Psikolog Don Baucom, terapis pernikahan berpengalaman, mengatakan bahwa penelitian Baumeister tersebut memperkuat dugaannya soal penyebab keretakan dalam rumah tangga. Ia kerap mendapati cerita pertengkaran pasangan suami istri, yang keduanya bekerja, di malam hari. Baucom menduga jam kerja panjang telah menguras energi keduanya, sehingga ketika di rumah tak ada lagi kekuatan untuk menghadapi kelakuan pasangannya yang mengganggu, bersikap toleran atau bersabar atas mood yang buruk, atau menahan emosi atas perkataan pasangan yang menyinggung. Karenanya ia menyarankan pasangan bekerja agar pulang ke rumah dalam keadaan masih cukup punya energi. Banyak orang yang menghabiskan willpower pada pekerjaannya di kantor, sehingga orang rumah harus menanggung dampaknya.

Sejumlah eksperimen lanjutan pun menunjukkan hasil serupa bahwa upaya mengontrol reaksi emosi bisa melemahkan willpower dan menyebabkan ego depletion yakni kondisi melemahnya kemampuan untuk mengatur pikiran, perasaan dan tindakan. Hendaknya Anda tidak mengambil keputusan penting dalam kondisi seperti ini.

Guna mengenali munculnya ego depletion perhatikan intensitas perubahan suasana hati Anda secara menyeluruh, baik perasaan kesal, sedih atau gembira.

Semakin Anda berjuang melawan godaan atas sesuatu, maka di saat kemampuan untuk menolaknya melemah, akan semakin kuat pula keinginan terlarang itu. Ego depletion bisa melemahkan willpower dan menguatkan keinginan atas sesuatu daripada sebelumnya. Itu pula yang terjadi pada kekambuhan berbagai kasus adiksi.

Glukosa Bahan Bakar Willpower

Manusia memiliki willpower dalam jumlah tertentu yang bisa habis seiring pemakaiannya untuk menangani berbagai hal dalam hidup. Karena itu, berfokuslah pada satu hal dalam satu waktu. Jika Anda menetapkan lebih dari satu target dalam satu kesempatan, bisa jadi Anda berhasil, namun itu akan menguras energi yang bisa menyebabkan kesalahan serius nantinya. Penelitian menunjukkan bahwa para pecandu alkohol cenderung gagal menghentikan kebiasaannya minum ketika pada saat bersamaan mereka menetapkan target lain yang juga memerlukan kontrol diri.

Lantas darimanakah willpower berasal? Teori Mardi Gras beranggapan willpower datang dari pemenuhan kesenangan pribadi. Dalam sebuah eksperimen mengukur willpower di laboratorium Baumeister, sekelompok subjek diharuskan mengisi waktu istirahat dengan melakukan sejumlah hal dengan derajat kesenangan berbeda. Kelompok pertama menyantap es krim susu, kelompok kedua membaca majalah lawas dan kelompok ketiga meminum segelas besar susu tawar rendah lemak, yang dinilai merupakan hal paling tidak menyenangkan dibanding dua opsi sebelumnya.

Sesuai perkiraan, mereka yang saat jeda menyantap es krim susu menunjukkan penguatan willpower, mereka memiliki kontrol diri lebih baik dibandingkan kelompok yang membaca majalah lawas. Namun di luar dugaan, kelompok yang meminum susu tawar rendah lemak juga menunjukkan penguatan willpower yang signifikan. Rupanya willpower tak terkait dengan kesenangan.

Selama puluhan tahun, para psikolog mempelajari performa kekuatan mental tanpa pernah khawatir bahwa hal itu dapat dipengaruhi oleh segelas susu. Mereka memandang pikiran manusia seperti halnya komputer yang berfokus pada pemrosesan informasi di bagian chip dan circuit. Sayangnya mereka abai pada bagian mesin lainnya yang juga teramat penting yakni sumber energi.

Chip dan circuit tak berguna tanpa energi. Begitupun otak manusia. Kesadaran ini diperoleh bukan lewat model sistem komputer melainkan biologi. Akhir abad ke-20 menandai awal masa transformasi ilmu psikologi, yang mulai memasukkan pemahaman-pemahaman keilmuan biologi. Para ahli menemukan bahwa aspek genetik mempengaruhi kepribadian dan kecerdasan, hormon dapat mengubah perilaku, teori evolusi bisa menjelaskan perilaku seksual dan sebagainya.Para psikolog disadarkan bahwa pikiran manusia berada dalam tubuh biologis.

Komedian Jim Turner, seorang penderita diabetes, mengatakan bahwa anak lelakinya kerap menyaksikan dirinya kehilangan kontrol diri, sehingga harus memaksanya minum segelas jus untuk mendapat tambahan energi. Penjelasan ilmiahnya begini, energi dalam jus diubah menjadi glukosa, yakni zat gula sederhana, yang diperoleh lewat proses pencernaan makanan. Glukosa lalu dibawa oleh darah untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh.
Otot, jantung dan hati paling banyak memakai glukosa, begitu pun sistem imun tubuh apabila sedang sakit. Itulah mengapa orang sakit banyak tidur lantaran sebagian besar energinya digunakan untuk melawan penyakit sehingga hanya menyisakan sedikit energi untuk beraktivitas, bercinta, berdebat bahkan untuk berpikir.

Berbeda dengan organ lainnya, otak tidak secara langsung menggunakan glukosa melainkan dalam bentuk neurotransmiter yakni zat kimia yang diperlukan sel otak untuk mengirimkan sinyal. Anda akan berhenti berpikir jika kehabisan neurotransmiter.

Itu pula sebabnya kebanyakan wanita yang mengalami pre-mentrual syndrome (PMS) suka ngemil karena cadangan energi dan glukosa banyak tersedot untuk kerja sistem reproduksi, diantaranya memproduksi hormon dalam jumlah lebih banyak. Namun kebanyakan wanita tidak cukup memperoleh asupan kalori ekstra lantaran takut kegemukan, sehingga mereka hanya memiliki sedikit cadangan glukosa untuk willpower dan mudah kehilangan kontrol diri.

Kita terkadang merasa terjepit oleh timbunan masalah. Namun kita tidak akan bisa mengatasinya sampai kita dapat mengontrol emosi kita sendiri. Itu dimulai dengan mengatur kadar glukosa dalam tubuh. Sejumlah strategi yang dapat Anda lakukan yakni penuhilah kebutuhan asupan makanan, terutama sarapan di pagi hari, apalagi pada kondisi dimana Anda mengalami kelelahan fisik dan mental. Karenanya jangan beradu argumen dengan bos empat jam sesudah makan siang dan jangan membicarakan masalah serius dengan pasangan menjelang waktu makan malam.

Makanlah makanan sehat seperti sayuran, kacang-kacangan, buah, keju, ikan, daging, minyak zaitun yang dapat memberi kelangsungan kontrol diri jangka panjang yang lebih stabil. Sebab dibandingkan gula, jenis makanan tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk diubah menjadi glukosa. Konsumsi gula berupa minuman dan makanan manis, untuk mendongkrak energi, hanya dilakukan dalam eksperimen laboratorium dan bukan dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak baik sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan energi, pasalnya kemanjuran efek instan gula tersebut biasanya segera diikuti dengan perasaan ketidakberdayaan yang lebih buruk lagi.

Beristirahatlah yang cukup, terutama di saat Anda lelah atau sakit. Dengan beristirahat kita meminimalkan kebutuhan tubuh akan glukosa, sekaligus memperbaiki efektivitas pemakaian glukosa dalam peredaran darah. Kekurangan tidur terbukti mengganggu pemrosesan glukosa, yang mempengaruhi kemampuan kontrol diri, dan dalam jangka panjang memperbesar resiko diabetes.

Buat Rencana dan Sasaran

Langkah awal membangun kontrol diri adalah menetapkan sasaran yang jelas. Secara teknis, mengontrol berarti mengatur, dan ia berimplikasi pada adanya perubahan yang diniatkan dengan mengacu pada sasaran tertentu. Mengatur artinya memberi arahan agar sesuai dengan sasaran atau standar yang diinginkan. Kontrol diri tanpa menetapkan sasaran dan standar tidak akan menghasilkan apa-apa, seperti halnya berdiet tanpa tahu makanan apa saja yang bisa menggemukkan.
Bagi kebanyakan kita, masalahnya bukan karena kurangnya sasaran melainkan justru terlalu banyak. Setiap harinya, kita membuat begitu banyak rencana kerja yang mustahil diselesaikan. Hingga menjelang akhir pekan, pekerjaan yang belum terselesaikan itu pun semakin menumpuk. Tapi kita tetap melakukannya dan berharap bisa menyelesaikannya dengan kecepatan luar biasa.

Bapak Pendiri Amerika Serikat, Benjamin Franklin, membuat daftar rencana kebaikan yang kini dikenal sebagai “13 Weeks to Total Virtue.”Ada begitu banyak daftar kebaikan dan sasaran yang ia buat seperti kesabaran, keheningan, resolusi, ketulusan, keadilan dan sebagainya. Namun ia menyadari keterbatasannya. “Saya berpendapat akan lebih baik untuk tidak memecah perhatian dengan berupaya melakukan semuanya sekaligus, namun memperbaikinya satu-persatu,” ujarnya.

Penulis Buku “Getting Things Done: The Art of Stress Free Productivity”, David Allen, menilai pikiran manusia moderen seperti “pikiran monyet” yang begitu sibuk lantaran kerap berpindah dari satu hal ke hal lainnya, ibarat monyet yang melompat-lompat dari satu cabang pohon ke cabang lainnya. “Kebanyakan orang tak pernah tahu rasanya tidak memikirkan apapun, selain berfokus pada apa yang sedang dilakukannya. Mereka menjadi mati rasa, bodoh atau gila lantaran kecemasan,” ujarnya.

Allen menawarkan sistem “folder harian” yang memuat daftar rencana kerja setiap harinya. Isinya bukan berupa pesan pengingat seperti “kado untuk mama” atau “menghubungi akuntan” melainkan menentukan tindakan konkrit yang harus dilakukan seperti “menyetir ke toko perhiasan (membeli kado untuk mama)” atau “menelepon akuntan”. Menurutnya cara ini bermanfaat mengurangi kecemasan bawah sadar yang bisa menguras energi.

Rencana kerja seperti “menghubungi akuntan” misalnya, bisa jadi membebani pikiran Anda sepanjang hari sebab Anda akan akan berpikir bagaimana harus mengubunginya. “Apakah saya sudah punya nomor telefon atau alamat emailnya? Apakah saya akan menghubungi lewat telefon atau email?” dan sebagainya. Ini lantaran Anda masih belum bisa memutuskan akan melakukan hal apa berikutnya, dan kecemasan bawah sadar ini terus menghantui.

Teori psikologi Efek Zeigarnik mengatakan bahwa pekerjaan yang belum selesai dan sasaran yang belum tercapai akan kerap tercetus dalam pikiran, dan alarm pengingat itu baru berhenti ketika semuanya selesai dan tercapai.

Sejumlah penelitian membuktikan bahwa menuliskan rencana secara spesifik, untuk menuntaskan pekerjaan tertentu, dapat menghilangkan Efek Zeigarnik dan menjernihkan pikiran. Efek Zeigarnik bukan semacam pengingat yang akan terus berulang hingga pekerjaan dilakukan, melainkan bentuk permintaan dari pikiran bawah sadar agar pikiran sadar membuat rencana, sebab pikiran bawah sadar tidak bisa melakukannya. Membuat rencana yang spesifik meliputi waktu, tempat dan kesempatan akan menghentikan “rengekan” pikiran bawah sadar tersebut. Dan itu pulalah yang diterapkan oleh sistem ala David Allen yakni menenangkan “pikiran monyet” dengan membuat “folder harian” berisi rencana tindakan-tindakan yang konkrit.

Langkah selanjutnya untuk membangun kontrol diri adalah melakukan pemantauan, mencakup monitoring dan pengukuran diri (self-quantification) agar tercipta kesadaran diri (self-awareness). Sebuah eksperimen yang mengamati perilaku sekelompok orang dalam sebuah ruangan dengan sebuah cermin besar, sehingga mereka bisa melihat diri mereka sendiri, ternyata menimbulkan efek berbeda. Mereka cenderung bertindak mengikuti kata hatinya ketimbang kehendak orang lain atau cenderung berperilaku mengikuti aturan. Kesadaran diri membuat kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini, dibandingkan dengan yang seharusnya.

Kesadaran diri, mencakup pengukuran dan monitoring, lambat-laun terbangun karena ia berperan dalam pengaturan diri (self-regulation) dan perubahan perilaku. Mengubah perilaku sesuai dengan standar atau sasaran tertentu memerlukan willpower, namun willpower tanpa kesadaran diri tidaklah berguna. Pakar internet terkenal, Esther Dyson, mengamini pentingnya kesadaran diri, ”Itu mengubah perilaku saya untuk mencapai standar. Saya menggunakan tangga lebih sering ketimbang eskalator, sebab saya sadar akan mendapat lebih banyak poin dengan banyak berjalan,” ujar Dyson soal rencana hidup sehatnya.

Membangun kesadaran diri adalah melihat apa yang sudah dan harus Anda lakukan. Keduanya memberi manfaat berupa kepuasan pribadi atas hal-hal yang telah dicapai, dan memberi motivasi atau ambisi ke depan.

Willpower Ibarat Otot yang Bisa Diperkuat

Pesulap terkenal, David Blaine, kerap melakukan berbagai pertunjukkan yang mempertontonkan kekuatan willpower ketimbang ilusi. Seperti berdiri selama 35 jam di atas tiang berdiameter 56 sentimeter dengan ketinggian lebih dari 24 meter dari permukaan tanah di New York’s Bryant Park, tanpa memakai pengaman, lalu bertahan tidak tidur selama 63 jam dikelilingi sebuah balok es raksasa di Times Square, dan selama 42 hari berada dalam peti transparan bersuhu di bawah 0 sampai 46 derajat celcius yang digantung di atas sungai Thames, tanpa makan.

Bagaimana ia bisa melakukannya? “Latihan memberimu keyakinan untuk mengatasi situasi yang sulit,” ujar Blaine. Ia percaya willpower ibarat otot yang bisa diperkuat. Sejak kecil ia terbiasa menetapkan sasaran-sasaran yang harus ia capai, seperti berlari sekian meter setiap hari, melompat untuk meraih daun dari cabang pohon di ketinggian tertentu, atau tidak makan selama beberapa hari. “Melatih otakmu dengan menetapkan sasaran-sasaran kecil lalu mencapainya, akan membantumu mencapai sasaran yang lebih besar yang sebelumnya tak bisa kau lakukan,” ujarnya. Namun tak sekedar berlatih hal tertentu, tetapi selalu membuatnya lebih sulit daripada yang seharusnya, sehingga Anda dapat maju melebihi sasaran Anda sendiri. Bagi Blaine disiplin adalah soal pengulangan dan latihan.

Tapi mungkinkah Blaine merupakan perkecualian, lantaran ia memang terlahir dengan otot yang kuat. Bagaimana halnya dengan yang lain, bisakah teknik ini diterapkan pada kebanyakan orang?

Para ilmuwan sosial umumnya memang skeptis dengan ide soal memperkuat willpower. Lagipula, penelitian “kue coklat versus sayur lobak” di laboratorium Baumeister menunjukkan bahwa pengerahan willpower justru menyebabkan menurunnya kontrol diri. Bertahan menolak godaan kue coklat dan tetap memakan sayur lobak bisa melemahkan willpower. Sehingga tak ada alasan untuk percaya bahwa latihan berulang dapat membawa pada penguatan willpower dalam jangka panjang.

Namun belakangan sejumlah penelitian membuktikan bahwa willpower bisa diperkuat melalui serangkai latihan, kuncinya pada pengubahan kebiasaan sehari-hari. Eksperimen dilakukan terhadap tiga kelompok siswa dengan tiga tugas berbeda, selama dua minggu, guna mengetahui penguatan willpower. Kelompok pertama diharuskan membetulkan postur tubuhnya, berdiri dan duduk dengan punggung lurus, kelompok kedua ditugasi mencatat makanan apa saja yang mereka santap, dan kelompok ketiga diwajibkan selalu memelihara emosi dan mood positif dalam dirinya.

Para ahli berasumsi bahwa kelompok ketigalah yang akan menunjukkan hasil positif, namun mereka salah. Pengaturan emosi ternyata tidak bertumpu pada willpower, ia sepertinya bergantung pada upaya yang lebih halus seperti mengalihkan perhatian atau mengubah cara pandang terhadap persoalan. Sehingga melatih kontrol emosi tidak dapat memperkuat willpower.

Peningkatan kontrol diri justru terjadi pada dua kelompok lainnya. Hasil terbaik datang dari kelompok pertama yakni mereka yang terus-menerus melatih postur tubuhnya. Dengan mengubah kebiasaan membungkuk, para siswa dilatih memperkuat willpower mereka sehingga dapat melakukan berbagai pekerjaan dengan lebih baik. Semakin sering mereka melatih postur tubuhnya semakin baik pula pengaruhnya.

Berbagai penelitian lanjutan membuktikan bahwa latihan penguatan willpower pada satu hal akan berdampak pada keseluruhan area kehidupan. Tanpa disadari, kita akan meraih manfaat pada berbagai area kehidupan kita, termasuk area yang bahkan tidak berhubungan dengan latihan yang sedang dilakukan. Kuncinya adalah pada kedisiplinan untuk konsisten melakukannya, tidak hanya dalam hitungan hari atau minggu, melainkan tahun.

Memelihara kedisiplinan dalam jangka panjang bukan hal mudah. Salah satu teknik yang dipraktekkan oleh jurnalis dan penjelajah (1871), Henry Morton Stanley, adalah membuat prekomitmen dengan “mengunci dirinya” pada jalan kebaikan sehingga tak pernah terpikir untuk berbuat melenceng. Sebab baginya itu akan memalukan dan berdosa. Prekomitmen bisa dilakukan dengan cara “mengunci diri” pada keadaan tertentu –apapun godaan yang datang– atau menghindar dari godaan yang bisa memalingkan kita dari sasaran.Stanleysendiri bertahan melampaui berbagai godaan demi menjaga nama baiknya.

Di masa moderen kini membuat prekomitmen lebih mudah, Anda tak harus menjadi terkenal seperti Stanley dan membuat prekomitmen demi mempertahankan nama baik. Anda bisa memanfaatkan teknologi jejaring sosial untuk “mengumumkan dosa,” seperti penulis Drew Magary yang mengikuti Public Humiliation Diet. Ia berkomitmen menimbang dirinya setiap hari lalu mengumumkan hasilnya lewat Twitter, dan dalam waktu lima bulan ia berhasil menurunkan 27 kilogram bobot tubuhnya. Anda juga bisa memanfaatkan situs stickK.com untuk membantu menetapkan sasaran tertentu, seperti berdiet, berhenti menggigiti kuku atau memakai lebih sedikit bahan bakar minyak, berikut penaltinya apabila Anda gagal memenuhi sasaran tersebut.

Melibatkan pihak ketiga dalam membuat komitmen, dengan monitoring, penalti dan insentif, terbukti efektif mengubah perilaku dalam jangka panjang, yang berujung pada kebiasaan yang permanen. Willpower pun dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Kita kerap mengaitkan willpower dengan suatu pencapaian yang heroik, sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Padahal semua itu dibangun lewat serangkaian tindakan yang tekun dilakukan secara konsisten.
Pada mulanya memang diperlukan willpower untuk membentuk pola perilaku, namun ketika itu sudah menjadi kebiasaan maka segala sesuatunya akan berjalan dengan sendirinya. Tipsnya, gunakan kontrol diri untuk membentuk kebiasaan harian, dan selanjutnya Anda akan memperoleh lebih banyak hanya dengan melakukan sedikit upaya.

Agama Memperkuat Kemampuan Kontrol diri

Sepanjang hidupnya musisi Eric Clapton bergulat dengan masalah kecanduan alkohol hingga keinginan bunuh diri. “Minuman menghantui pikiranku setiap saat. Aku merasa amat ketakutan dan putus asa,” ujarnya. Dalam kepanikannya, pada suatu malam, ia berlutut memohon bantuan dan berpasrah. “Aku tidak mengerti pada siapa aku bicara, aku hanya tahu bahwa aku telah kehabisan akal.” Sejak saat itu, Clapton mengaku ia mulai meninggalkan kebiasaannya minum, mendadak ia diberkahi dengan kemampuan kontrol diri.

Ia mulai rajin berdoa pagi dan malam, yang dilakukannya sembari berlutut, sebab ia merasakan kebutuhan untuk merendahkan dirinya sendiri di saat meminta pertolongan dari kekuatan yang lebih tinggi.

Psychological Bulletin (2009) mempublikasikan hasil penelitian McCullogh dan rekan, selama 8 dekade, tentang agama dan kontrol diri. Agama diketahui dapat membangun nilai-nilai keluarga dan harmoni sosial, dengan keyakinan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan perintah Tuhan. Agama mempengaruhi dua mekanisme utama kontrol diri yakni membangun willpower dan memperbaiki monitoring. Berbagai ritual agama diyakini dapat membangun willpower yang diibaratkan seperti latihan memperbaiki postur “meluruskan punggung.” Para pemeluk agama membangun kontrol diri dengan secara teratur memaksa diri mereka sendiri, dan menghentikan rutinitasnya, untuk beribadah.

Agama juga banyak memberikan garis yang jelas, antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan, sebagai perintah suci dari Tuhan. Keyakinan itu membangun kontrol diri untuk tidak melampaui garis tersebut. Namun garis itu tidak harus berasal dari perintah agama, Anda bisa menetapkannya sendiri, berupa aturan yang jelas, sederhana dan pasti, sehingga sekali melewatinya Anda akan langsung tersadar. Janji untuk merokok atau minum “dalam jumlah wajar” bukanlah garis yang jelas melainkan kabur. Tak ada ukuran pasti mana batasan wajar dan berlebihan lantaran prosesnya berjalan perlahan tanpa disadari. Toleransi nol adalah garis yang jelas, tidak melakukannya sama sekali tanpa pengecualian apapun.

Tapi rupanya berbagai penelitian di atas mengenai keampuhan kontrol diri mempunyai perkecualian terhadap kebiasaan berdiet. Sebab kegemukan bukanlah pertanda lemahnya willpower. Pembawa acara talkshow terkenal, Oprah Winfrey, adalah contoh paling nyata. Ia mempunyai masalah berat badan yang menghantuinya selama puluhan tahun, tapi tentu kita tak akan menilai Oprah sebagai sosok yang kekurangan willpower.

Penjelasannya bersifat biologis. Ketika Anda menggunakan kontrol diri untuk melakukan serangkaian tindakan, itu tidak mempengaruhi organ-organ dalam tubuh, seperti usus dan sebagainya. Organ dalam tersebut tidak terancam secara fisik. Mungkin saja tubuh akan mengirim sinyal berupa rasa sakit akibat latihan fisik berlebihan, namun itu tidak dianggap sebagai sebuah ancaman. Urusan diet rupanya berbeda. Berkat kontrol diri yang baik, program diet Oprah pada awalnya berjalan mulus, namun belakangan tubuhnya mulai melawan. Ia kerap kehilangan kendali dengan makan terlalu banyak sehingga berat badannya malah melonjak drastis.

Cara terbaik melakukan diet adalah menggunakan kontrol diri untuk melakukan perubahan secara bertahap, yang akan memberikan hasil jangka panjang. Tahap pertama adalah menetapkan sasaran yang realistis. Jika ingin menurunkan berat badan, bercerminlah, lalu timbang berat badan Anda, dan buatlah rencana yang masuk akal.

***

Begitu pentingnya peran willpower dalam menentukan masa depan seseorang sehingga orangtua sebaiknya mulai mengajari anaknya sedari kecil. Cara terbaik adalah dengan memantau perilaku mereka dan memberikan penghargaan atau hukuman yang sepantasnya. Ada tiga hal mendasar terkait hukuman yakni kekerasan, kecepatan dan konsistensi. Banyak orang tua mengaitkan disiplin dengan kekerasan padahal itu terbukti tidak efektif mengajak anak pada kebaikan. Hukuman yang keras justru memberi pemahaman bahwa hidup itu kejam dan agresi adalah wajar. Para ahli meyakini bahwa kecepatan dan konsistensi dalam memberi hukuman merupakan hal yang paling efektif untuk mendidik anak. Hukuman dapat berupa duduk di kursi hukuman bagi balita atau larangan menyetir mobil pada anak remaja Anda untuk sementara waktu.

Orang tua dapat membimbing anak melakukan serangkaian latihan untuk memperkuat willpower, baik melalui latihan sederhana seperti meluruskan punggung dan berbicara dalam tata bahasa yang baik, ataupun mengambil kursus musik, menghapal puisi, belajar tata cara makan dan sebagainya.

Akhir kata, satu hal yang perlu diingat, orang sukses tidak menggunakan willpower untuk menghentikan bencana, sebab mereka terbiasa menata hidup mereka dengan lebih baik sehingga mencegah timbulnya persoalan. Mereka yang memiliki kontrol diri yang kuat kebanyakan menggunakannya bukan untuk mengatasi keadaan darurat melainkan untuk membangun kebiasaan positif di lingkungan sekolah dan pekerjaan. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan orang dengan kontrol diri yang baik jarang mengalami stres dalam kehidupannya. (end)

Note: Versi suntingan dari tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi Januari 2012

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Willpower Kunci Menuju Sukses

  1. Ping balik: Menguatkan Otot Kemauan « Dance with Style

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s