House of Horror: Bayi Peter Tewas di Rumahnya Sendiri

kekerasan terhadap anakBayi lelaki dalam foto itu begitu menggemaskan. Ia terlihat gembira dengan senyuman yang menghiasi wajah bundarnya, berambut pirang  dan bermata biru. Siapa sangka umurnya begitu pendek, 17 bulan saja. Bayi Peter Connelly tewas dengan lebih dari 50 cidera di tubuhnya. Siapa yang sampai hati membunuh bayi tak berdosa ini?

 ***

Tracey Connelly tumbuh besar sebagai gadis remaja bermasalah, memiliki emosi yang tidak stabil dan kacau. Semasa sekolah, ia kerap melakukan keonaran. Di asrama, ia ditempatkan dalam unit khusus bagi anak-anak dengan masalah emosional dan sosial. Teman-temannya menjulukinya “Tracey si gelandangan” lantaran ia kerap pergi ke sekolah dengan pakaian yang robek dan kotor.

Tracey hidup tak terurus.  Ia pun tinggal di rumah yang tak terawat. Rumah yang ditinggalinya bersama ibunya di kawasan Islington, London Utara selalu terlihat kotor,  tempat tidur tak beralas sprei, belum lagi kotoran anjing yang bertebaran di dalam rumah.  Teman-temannya juga kerap melihat Tracey ikut permainan “rough and tumble”, yakni permainan adu fisik seperti berlari, bergulat hingga berkelahi, demi mendapatkan imbalan beberapa batang rokok. “Ibunya tahu, tapi dia tak peduli,” ujar seorang teman Tracey.

Ibu Tracey adalah pecandu narkoba, sedangkan sang ayah tidak jelas identitasnya. Pada umur 12 tahun, ibunya memberi tahu Tracey bahwa lelaki yang ia anggap ayah selama ini bukanlah ayah kandungnya, dan telah meninggal. Ia pun kerap menyaksikan ibunya membawa banyak lelaki berganti-ganti ke rumahnya, sehingga ia dipergunjingkan sebagai anak seorang pelacur.

Pada usia 16 tahun, Tracey hamil di luar nikah dengan lelaki yang dua kali lipat usianya. Mereka lantas memutuskan hidup bersama sebelum akhirnya menikah beberapa tahun kemudian.  Kehidupan berumahtangga mereka jalani dengan suka cita, hingga akhirnya muncul bibit-bibit pertikaian yang berujung pada perselingkuhan.  Tracey merasa gerah dengan sikap suaminya yang menurutnya otoriter dan kerap membuatnya terlihat bodoh. Ia pun berpaling pada lelaki lain.

1 Maret 2006, seharusnya menjadi saat yang membahagiakan bagi pasangan Connelly berkat kelahiran anak keempat mereka, Peter Connelly. Namun rupanya pernikahan Tracey telah berada di ujung tanduk, tiga bulan kemudian sang suami memutuskan hengkang dari rumah. Ini lantaran Tracey kedapatan berselingkuh dengan Steven Barker, lelaki rasis yang terobsesi dengan kenangan kejayaan NAZI dan seorang pecandu pornografi.

Pasca perceraian, Tracey mengajak pacar barunya itu tinggal serumah di kawasan Finsbury, London Utara. Di rumah yang tak seberapa besar itu, Steven tinggal bersama Tracey beserta ketiga anak perempuannya dan bayi Peter Connelly.

Kekasih Gelap

Tracey begitu tergila-gila terhadap Steven, menurutnya ia adalah lelaki idaman setiap wanita. Lelaki 33 tahun itu berbadan tinggi tegap, 193 cm,  berambut pirang, dengan mata kecoklatan. Sebagai tanda cintanya, Tracey bahkan mentato inisial nama Steven di bahu belakangnya. Meski begitu, Tracey menutupi keberadaan Steven di rumahnya. Ia tak mau kehilangan uang tunjangan senilai £450, atau sekitar 6 juta rupiah, per minggu dari mantan suaminya.

Tracey bukanlah ibu rumah tangga yang baik. Seperti halnya ibunya dahulu, ia pun tak mempedulikan anak-anak dan rumahnya. Ia lebih sibuk mengurusi dua ekor anjingnya, menonton film atau membaca majalah porno, dan menghabiskan waktu seharian dengan chatting on-line untuk mencari lelaki dalam situs kencan Bebo. Rumahnya dibiarkan kotor dan berantakan, dengan bau urin yang menyengat.

Pada suatu hari di bulan November 2006, Tracey membawa Peter ke dokter dengan luka memar di beberapa bagian tubuhnya. Menurut Tracey ini lantaran kulit Peter yang sangat sensitif. Sebulan kemudian, Tracey kembali membawa Peter ke rumah sakit lantaran mengalami cidera kepala. Tak hanya itu, ada pula bekas lebam pada batang hidung, tulang dada, bahu kanan dan pantat. Kepada dokter yang memeriksa, Tracey mengatakan Peter jatuh dari sofa.

Kondisi Peter ini menyeret Tracey ke dalam pemeriksaan polisi atas tuduhan melakukan penganiayaan. “Peter suka sekali bermain rough and tumble,” ujarnya kepada polisi. Namun petugas tidak mempercayai perkataan Tracey begitu saja. Institusi sosial setempat, Haringey Social Service, akhirnya memerintahkan Peter untuk dirawat dalam pengasuhan Angela Godfrey, seorang terapis dan aktivis gereja yang juga sahabat Tracey.

Pada 26 Januari 2007, tanpa tuntutan apapun terhadap ibunya, Peter diperbolehkan kembali ke rumah. Tracey beserta anak-anaknya dan Steven lantas memutuskan pindah ke Penshurst Road, Tottenham. Di rumah barunya ini, Peter masih mendapat kunjungan rutin petugas dari Haringey. Dan petugas pun masih mendapati sejumlah memar di tubuh bayi yang belum lagi genap setahun ini. Namun mereka mau menerima penjelasan Tracey dan Angela Godfrey yang mengatakan bahwa itu lantaran aktivitas Peter sendiri. “Sepertinya ia tidak bereaksi terhadap bahaya atau rasa sakit. Hanya ibunya yang bisa menghentikannya, bayi Peter tidak bisa menghentikan dirinya sendiri,” ujar Gilly Christou, ketua tim dari Haringey.

Kedatangan Penghuni Baru

Kepada petugas, Tracey berjanji akan merawat Peter baik-baik dan mengeluarkan kedua anjingnya dari rumah. Namun pada kenyataannya tak ada yang berubah. Seorang teman Tracey yang pernah berkunjung mengaku melihat Peter bermain sendirian di kebun sambil memakan kotoran, dengan sejumlah memar di tubuhnya. Kepada temannya, Tracey mengaku kewalahan mengurusi Peter yang selalu merengek minta digendong dan dipeluk.

Pada 9 April 2007, Peter lagi-lagi dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi kepala bengkak dan memar pada bagian mata dan pipi. Menurut Tracey, seorang bocah lelaki telah mendorong Peter jatuh sehingga kepalanya membentur dinding batu perapian. Dokter mendiagnosa Peter menderita meningitis atau radang selaput otak. Sampai sejauh ini, tidak ada tindakan apapun dari petugas.

Dalam suatu kunjungan mendadak, 1 Juni 2007, seorang petugas bernama Ward kembali mendapati Peter dengan sejumlah bekas luka di tubuhnya. Memar di area dagu dan luka memanjang di bawah mata. Dan lagi-lagi Tracey berdalih itu akibat ulah seorang bocah lain yang memukul Peter. Pemeriksaan medis menemukan lebih dari 12 memar di sekujur tubuh Peter, termasuk bekas cengkeraman tangan pada kedua kaki. Tracey pun kembali berurusan dengan polisi. Setelah menjalani pemeriksaan selama empat hari,  untuk kedua kalinya, ia pun dibebaskan. Pihak kepolisian dan Haringey sepakat Peter diperbolehkan kembali ke rumahnya dengan pengawasan Angela Godfrey.

Sepulangnya Peter ke rumah, keluarga Tracey kedatangan dua penghuni baru yakni kakak Steven, Jason Owen, bersama pacarnya yang belia. Jason meninggalkan istrinya dan memilih kabur bersama pacarnya yang masih berusia 15 tahun itu. Kedatangan Jason rupanya menimbulkan ketegangan dalam kehidupan Tracey dan Steven, hubungan keduanya semakin memburuk.

Dalam catatan pribadinya, Tracey mencurahkan kegalauan hatinya. “Jason berbicara kotor kepadaku, tapi Steven tidak membelaku. Jason membuatku naik pitam, dan Steven malah menertawakanku.” Di mata Tracey, perilaku Steven terhadapnya mulai berubah. Steven tak lagi mencium, memeluk dan berkata “I love you” kepadanya. Alih-alih berlaku mesra, Steven kerap meneriaki dan mengejeknya.

“Seluruh hidupku berantakan. Kapan semua ini akan membaik? Aku merasa tak berguna dan tak berharga. Orang-orang seharusnya pergi jauh-jauh dariku sebab aku selalu membuat kacau. Aku ini pembawa sial,” tulis Tracey.

“Ayah, Ayah, Ayah…!”

Steven merasa terintimidasi oleh kehadiran Jason di rumahnya. Ia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh kakaknya itu. Kehadiran Jason pun rupanya membawa pengaruh buruk buat Peter.

Akhir Juli 2007, Peter mendapat kesempatan menginap bersama ayah kandungnya. Kondisi bayi Peter saat itu amat memprihatinkan. Badannya kurus, kain perban membebat tangan kanannya, sejumlah kuku pada jari tangan dan kakinya hilang, dan pada kepalanya yang digunduli terdapat sejumlah bekas luka parut. Ia pun tampak begitu murung.

Kondisi ini tentu saja membuat ayah Peter marah. Toh, Tracey tampak tak peduli. “Aku memang sengaja mencabut kukunya,” ujarnya tenang.

Keesokan pagi, Peter dipulangkan pada ibunya. Namun baru beberapa langkah meninggalkan rumah Tracey, sang ayah dikejutkan oleh tangisan Peter. “Ayah, ayah, ayah..!” panggil Peter meraung-raung. Begitu histerisnya, hingga Tracey terpaksa membawa Peter kembali menemui ayahnya untuk berpamitan.

Kekerasan yang dialami Peter selama ini begitu kasat mata, namun tak ada seorang pun yang menyelamatkannya. Tracey memang piawai mengarang alibi dan bermuslihat untuk menutupi kondisi Peter. Bahkan petugas sosial yang datang berkunjung pada sore harinya juga gagal menyelamatkan bayi mungil itu.

Petugas Ward menemui Peter yang berada di dalam kereta dorongnya di halaman. Wajah, tangan dan bajunya berlumuran coklat. Meski terlihat gelisah, ia tersenyum ketika melihat kedatangan Ward. Tracey dan Steven memang sengaja melumuri sekujur tubuh Peter dengan coklat untuk menyembunyikan luka-lukanya. Dan trik mereka berhasil.

Kesempatan terakhir menyelamatkan nyawa Peter datang dua hari kemudian, ketika Dr. Sabah Alzayyat memeriksa Peter di klinik anak  St Anne’s Hospital. Namun dokter itu gagal mendeteksi sejumlah cidera yang diderita Peter yakni keretakan pada tulang iga dan tulang belakangnya akibat benturan benda keras. Ia juga mengabaikan sejumlah memar pada punggung dan kaki Peter. Dalam catatannya, ia menulis bahwa pemeriksaan menyeluruh tidak dilakukan lantaran Peter sedang rewel.

Dr. Sabah berpendapat Peter hanya terserang demam yang biasa dialami anak-anak seusianya. “Dia bisa duduk tegak tanpa bantuan, tidak ada alasan untuk mencurigai hal lainnya,” ujarnya.

Tracey pun semakin lega ketika pada hari berikutnya otoritas hukum setempat menyatakan dirinya bebas dari tuduhan penganiayaan lantaran tidak cukup bukti.  

Rokok Saya Mana?

Kamis malam, 2 Agustus 2007, Peter tertidur di ranjangnya dengan wajah tertelungkup, sekujur badannya terbungkus rapat oleh selimut seperti kepompong. Sementara Tracey dan Steven sedang asyik berpesta.

Keesokan harinya, pukul 11.30, sebuah panggilan darurat 999 datang dari kediaman Tracey. Paramedis yang segera meluncur ke lokasi menemukan tubuh Peter yang terbaring kaku, berwarna kebiruan, di atas ranjangnya yang bernoda darah. Tidak ada tanda kehidupan.  Dengan sigap mereka berupaya membuka jalan napas Peter lewat tindakan resusitasi jantung paru-paru atau CPR, namun gagal. Melihat hal itu, mereka bergerak cepat membawa Peter ke rumah sakit, North Middlesex Hospital.

Namun di tengah situasi yang kritis tersebut, Tracey mendesak agar mereka menunda keberangkatan. “Tunggu sebentar, saya harus mencari rokok saya dulu,” ujarnya. Sementara itu, Steven dan Jason berdiri dengan tenang di dekat pintu keluar, tampak tak peduli.

Pukul 12.20, bayi Peter dinyatakan meninggal dunia. Meski hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah meninggal beberapa jam sebelum kedatangan paramedis ke rumahnya.  Selain itu, ditemukan lebih dari 50 cidera di tubuh Peter, diantaranya tulang belakang yang patah sehingga melumpuhkan bagian pinggang ke bawah, retak pada delapan area di tulang iga, sejumlah bekas gigitan, beberapa kuku tangan dan kaki yang hilang, dan sejumlah memar pada dahi, pipi, hidung, bibir, dada, pantat dan kaki. Pada malam sebelum kejadian, bayi berumur 17 bulan itu pun sempat ditampar dengan amat keras sampai ia menelan sebuah gigi depannya yang copot. Kejadian inilah yang diduga menyebabkan kematian Peter.

Saksi Mata dan Saksi Kunci

Polisi bergerak cepat. Hanya dalam hitungan jam, Tracey pun ditangkap. Sementara Steven dan Jason berhasil dibekuk di area perkemahan di sebuah hutan, 11 hari kemudian. Baik Tracey, Steven maupun Jason mengaku tidak tahu-menahu perihal kekerasan yang menimpa Peter. Adalah kesaksian dari kekasih belia Jason yang akhirnya berhasil membongkar pelaku penganiayaan terhadap Peter.

“Steven kerap memukuli kepala Peter sampai ia menjerit-jerit, memuntir kuku-kukunya, mencubit, dan mempermainkan tubuh bayi mungil itu dengan kaki layaknya bola,” ujarnya. Jika menangis, Peter akan mendapat hukuman berupa pukulan di kepala. Steven menjadikan bayi Peter barang mainannya. Kekasih Jason itu mengisahkan bagaimana Steven mendudukkan Peter di kursi komputer lalu memutarnya kuat-kuat hingga ia terjatuh dengan kepala membentur lantai. Peter dipaksa duduk selama berjam-jam dengan posisi kepala menunduk di antara kedua kakinya, ketika ia mencoba menegakkan kepala lantaran kesakitan maka Steven akan kembali mendorong kepalanya turun.

Dalam sebuah persidangan, 11 November 2008, Tracey mengaku tidak pernah mengetahui penganiayaan yang dialami anaknya. Namun jaksa Sally O’Neill menyanggah pernyataan tersebut. “Bayi itu telah diperlakukan layaknya sasak tinju oleh orang-orang dewasa yang seharusnya melindungi dan merawatnya. Melihat itu, kamu sebagai ibunya tidak melakukan apapun,” ujar Sally di hadapan para juri.

Pengadilan akhirnya memutuskan Tracey Connelly bebas dari tuduhan pembunuhan, namun dinyatakan bersalah menyebabkan atau membiarkan terjadinya kematian. Ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara, dipotong masa tahanan. Sementara Jason Owen dan Steven Barker juga dinyatakan bebas dari tuduhan pembunuhan, namun dihukum masing-masing 3 tahun dan 12 tahun penjara atas tuduhan yang sama. Dalam putusannya, para juri menyatakan Steven adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian bayi Peter. “Kamu ancaman yang nyata bagi Peter,” ujar seorang juri, Stephen Kramer.

Steven memang mempunyai catatan khusus akan kecanduannya terhadap penyiksaan. Ketika remaja, ia diketahui menyiksa seekor babi dan menguliti hidup-hidup seekor katak lalu mematahkan kakinya. Menurut teman-teman semasa kecilnya, Steven kecil sering menjadi korban bully, termasuk oleh kakaknya sendiri, Jason. Bahkan Jasonlah yang kerap mendorong Steven melakukan aksi sadistis.

Dua kakak beradik itu bahkan pernah dengan sengaja menyerang neneknya sendiri, Frail Hilda Barker, untuk memaksa wanita berusia 82 tahun itu mengubah surat wasiatnya. Keduanya mendatangi Frail dengan memakai topeng untuk menakut-nakutinya lalu menguncinya dalam lemari.

Catatan kriminal Steven semakin bertambah, ketika pada April 2009 ia dinyatakan bersalah atas kasus pemerkosaan terhadap seorang gadis cilik berusia dua tahun, dan diganjar hukuman 10 tahun penjara. (end)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s