Mengasah Mentalitas Wirausaha

Bekerja menjadi wirausahawan, seperti sekarang, tidak pernah aku angankan. Mimpiku dahulu menjadi reporter televisi nasional, dan Alhamdulillah kesampaian. Lima tahun berkarir sebagai jurnalis, aku mencintai pekerjaan ini dengan sepenuh hati.  I think, I will always have a never ending passion on journalism. 

Menjadi jurnalis telah menempa diriku luar-dalam. Walaupun untuk urusan fisik aku seringkali keteteran:) Kini, bekerja sebagai wirausahawan, aku pun kembali mendapat tempaan di sana-sini. Sampai aku berkesimpulan bahwa pekerjaan ini menempa hampir semua kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang baik. Berlebihan?? Bisa jadi, jika kamu belum pernah mengalami dan menghayati jatuh-bangunnya berwirausaha.

Seorang wirausahawan dituntut memiliki sederet kualitas pribadi yang mumpuni. Itu kalau kamu mau jadi pengusaha yang sukses. Awal mula merintis bisnis, perlu mentalitas baja seperti keberanian, kerja keras, disiplin, keuletan dan kesabaran. Tanpa itu, dijamin kamu ngga akan bisa jadi pengusaha. Memulai usaha perlu keberanian, sebab di sini kamu akan menjumpai bermacam-macam resiko mulai dari penghasilan yang tak tentu, rugi, kena tipu, bangkrut atau dikejar-kejar debt collector karena hutang. Untuk tiga yang terakhir, syukurnya belum pernah kejadian sih 🙂

Setelah bisnismu mulai berjalan, segala kualitas tadi masih harus terus nempel sepanjang perjalanan karirmu sebagai pengusaha. Pasalnya bisnis selalu punya dua sisi mata uang: peluang dan resiko, untung dan rugi. Walhasil, segala mentalitas baja itulah yang akan membuat kamu bisa bertahan.

Dulu, aku sih berani-berani aja ketika memutuskan terjun berbisnis. Maklum, aku tipe orang yang ngga suka kelamaan mikir, cenderung unplanned person gitu;-) Akhirnya berbekal modal uang Rp 7 juta,  hasil tabungan asuransi jamsostek yang dipotong semasa kerja, plus pinjaman ortu aku pun capcus membuka usaha spa aromaterapi di rumah. Kalau dipikir-pikir, nekat juga sih. Soalnya aku ngga punya pengalaman sama sekali soal bisnis ini. Tapi mending begitu deh, karena kalau dulu pakai mikir yang ada malah ngga pernah mulai hehehe…..

Sekarang usahaku sudah berjalan empat tahun. Hambatan dan kendala pasti ada. Malahan banyak! Mulai dari riak-riak kecil, gelombang bahkan badai! Pernah aku merasa frustrasi dan nyaris berhenti. Syukurnya, aku bisa memantapkan hati sembari berdoa pada Tuhan memohonkan kekuatan. Itulah sebabnya mengapa aku menyebut mentalitas baja sebagai prasyarat utama untuk jadi pengusaha.

Sebuah penelitian menunjukkan sebanyak 50% bisnis gagal dalam lima tahun pertama. Penelitian lain  menyebutkan bahwa 95% usaha tutup karena ditutup sendiri oleh pemiliknya, bukan lantaran masalah-masalah keuangan. Dengan kata lain, si pengusaha sendiri yang memutuskan untuk berhenti.  Tuh kan, menjadi pengusaha memang harus punya mentalitas baja supaya ngga mudah menyerah dan mundur di tengah jalan.

Itu baru awal. Selanjutnya kamu juga harus punya kemampuan manajerial, tahu dunk konsep POAC jaman kuliah dulu: planning, organizing, actuating dan controlling. Pada bagian ini, aku ibarat mendapat pecutan untuk berubah. Pasalnya urusan manajerial ini terkait dengan sejumlah kualitas yang masih kurang dalam diriku yakni perencanaan, disiplin, target dan komitmen.

Manajerial adalah jantungnya bisnis, tanpanya perusahaan akan hancur. Pada masa-masa awal merintis usaha, aku harus berangkat pagi setiap hari untuk mem-briefing karyawan dan melakukan supervisi. Aku juga harus membuat perencanaan, target dan evaluasi terkait strategi marketing usahaku. Tak hanya berkutat soal hal-hal konsep, aku juga turun menangani hal-hal teknis operasional seperti menata ruangan, menyapu atau membuatkan minum untuk tamu. Jabatan sih boleh keren, owner, tapi merangkap office girl juga hahaha… Untuk yang satu ini, mulai deh masuk kualitas lainnya yakni kemampuan leadership alias kepemimpinan.

Menjadi pempimpin beda dengan manajer. Pemimpin berurusan dengan manusia sedangkan manajer dengan barang. Bisnisku menjual jasa, ujung tombaknya pada SDM. Otomatis aku dituntut mempunyai kemampuan leadership  yang kuat. Menyambung soal tugas merangkap sebagai office girl tadi, selain karena faktor masih minimnya karyawan, juga lantaran aku mempraktekkan konsep “pemimpin turun ke bawah”. Menurut Stephen Covey, pemimpin yang baik adalah dia yang berada di tengah-tengah anak buahnya, memberi semangat dan inspirasi, termasuk mencontohkan kualitas kinerja sebagaimana yang diinginkan. Empat tahun berbisnis bersama sejumlah anak buah, aku merasakan betul manfaat konsep kepemimpinan ala Covey ini. Kalau ingin tahu lebih jelas, silahkan baca buku “The 8th Habit” karya Stephen Covey atau bisa juga klik link berikut ini.

Masih ada lagi nih… Seorang pengusaha juga harus punya pengendalian diri, kemampuan menentukan prioritas dan fokus, serta kebiasaan berhemat dan menabung. Lagi-lagi aku dipecut di sini. Malah kayanya bagian ini yang paling berat! Aku tergolong boros. Dulu, sewaktu jadi karyawan, gaji setiap bulan pasti habis. Kalau lagi tongpes tapi ingin belanja, aku gesek kartu kredit. Walhasil ketika resign, setelah lima tahun bekerja, aku ngga punya tabungan sama sekali, yang ada malah hutang kartu kredit yang menggunung! Beruntung ada potongan Jamsostek yang bisa “memaksa” aku menabung.

Semenjak menjadi pebisnis, aku berhemat. Bukannya lantaran kesadaran tapi dikondisikan. Merintis bisnis itu perlu modal, pendapatan pun belum stabil. Jadi mau boros gimana, uangnya juga ngga ada hahaha…  Kalau pun ada uang, aku harus menetapkan prioritas untuk kepentingan bisnis atau investasi ketimbang konsumsi. Awalnya memang “dipaksa berhemat” tapi lama-kelamaan mulai menjadi habit. Kalau dulu, tiap mampir ke mal aku pasti belanja baju, kosmetik, sepatu, tas  dsb tapi sekarang udah ngga terlalu antusias lagi. Selain berhemat, aku juga mulai keranjingan berinvestasi. Wah, ga kebayang deh kalau ingat dulu. Wong, nabung aja ngga kepikiran hehe…

Nah, sudah ada berapa belas kualitas tuh sedari tadi?  Tapi itu masih belum cukup. Menjadi pengusaha juga harus kreatif dan inovatif, sebab bisnis dan pasar amat dinamis. Kamu harus jeli menangkap perubahan dan tren lalu menyesuaikan diri. Terus kamu juga harus punya kemampuan interpersonal yang baik, sebab berbisnis menuntut kita bertemu dan berhubungan dengan banyak orang: customers, suppliers dan stakeholders. Woohoooo… Kayanya udah cukup banyak ya! Masih ada yang mau nambahin? 😉

Pada bagian akhir, aku akan menutupnya dengan kualitas spiritualitas. Ini adalah jurus pamungkas menjadi wirausahawan yang sukses. Berbisnis banyak menghadapi tantangan dan rintangan, yang seringkali di luar kuasa manusia, maka satu-satunya tempat kita minta pertolongan hanyalah pada Tuhan.

So, selamat berwirausaha!

Iklan

4 pemikiran pada “Mengasah Mentalitas Wirausaha

  1. Director / Owner : adalah orang yang hebat, yang mampu melihat segala urusan bisnisnya dr sudut pandang yang tidak dpt dilihat bawahannya, dengan kata lain lbh holistik. Pastinya berbagai syarat dan kondisi melekat pada sosok tersebut. Sukses terus buat Rahmi atas wirausahanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s