Don’t Take It Personally

Ini sekedar sharing. Perenungan dari pengalaman pribadi, tapi kayanya bisa ditarik dalam konteks masyarakat bahkan negara. Weitsss… *lebay haha… Tapi serius loh! Ini cerita soal kepemimpinan.

Sejak memutuskan berwirausaha, lima tahun silam, aku otomatis menjadi pemimpin atas sejumlah karyawan. Setahun lalu, aku juga diserahi tanggung jawab memimpin bisnis keluarga. Di sini, meski secara struktural aku berada di puncak tapi secara hirarkis keluarga aku ini paling bontot. Sehingga para “bawahanku” adalah orang tua dan kakak-kakakku sendiri.

Urusan memimpin karyawan bukanlah hal mudah, dibutuhkan kesabaran, komitmen dan konsistensi. Kuncinya pada komunikasi dan keteladanan, sedangkan alatnya adalah reward dan punishment. Pemimpin yang baik harus mahir menggunakan dua alat tersebut terhadap para bawahannya. Cepat menghargai prestasi dan tegas menghukum kesalahan. Ini juga yang kugunakan terhadap para karyawanku. Tentu saja bentuk penghargaan tidak selalu berupa materi, seringkali sekedar pujian dan ucapan selamat. Pun hukuman bukan berarti pemecatan atau potong gaji, bisa sekedar teguran.

Repotnya, sistem reward dan punishment ini tidak bisa kuterapkan pada bisnis keluarga. Kecuali kalau aku mau kualat ya:-) Walhasil, aku memimpin bisnis keluarga ini dengan penuh pemakluman. Deadline pekerjaan beberapa kali meleset dari janji. Sementara aku paling ngga suka dengan orang yang ngga bisa dipegang perkataannya. Tapi apa boleh buat, kedongkolan itu kutelan saja. Namun ketika itu berulang, rupanya katup penahanku tak lagi kuat sehingga jebol.

Terus terang, ini adalah salah satu kekurangan yang harus aku perbaiki. Emosional. Jikalau meledak bisa bikin orang terkaget-kaget! Tapi syukurnya, meski cepat naik tapi cepat pula turunnya hehe… Jika aku terlibat konflik dengan seseorang maka dalam hitungan jam, setidaknya hari, aku sudah bisa menetralkan perasaanku.

Nah, kembali ke cerita soal bisnis keluarga tadi, walhasil konflik pun tak terhindarkan. Mulai dari pertengkaran biasa sampai emosi tegangan tinggi. Syukurnya, karena sifatku yang cepat naik-cepat turun tadi maka konflik pun cepat terselesaikan. Mindset nya begini: Sebagai pemimpin aku tidak boleh melihat konflik sebagai persoalan pribadi. Jangan lantas membenci orangnya, melainkan harus fokus saja pada perbuatannya. Jika orang tersebut sudah menyadari kesalahannya, berarti selesai. Pendeknya, “Don’t take it personally!” Dengan begitu, aku juga dibuat tak segan meminta maaf atas kesalahanku, sebab pada setiap konflik pasti ada andil dari setiap pihak yang terlibat.

Memang ngga mudah sih mengendalikan perasaan negatif. Itu juga yang kurasakan. Di saat begini, pikiran lah yang harus ambil kendali. Hadirkan pemikiran soal tanggung jawab sebagai pemimpin. Maka segala urusan di luar prioritas itu akan minggir seketika, apalagi jika itu cuma sebatas perasaan pribadi.

Kalau pemimpin melihat konflik dalam perspektif yang personal, nanti yang muncul perasaan sakit hati, dendam, ngambek, kecil hati, merasa menjadi korban dan sederet perasaan negatif lainnya. Kalau sudah begitu, mana bisa ia menjalankan fungsinya sebagai pemimpin? Boro-boro menyelesaikan persoalan atau mengarahkan bawahannya, untuk ketemu aja pasti udah malas. Wong masih kesal dan dendam!

Menurut saya, pemimpin itu harus punya hati seluas samudera. Lapang dan lepas. Pemimpin boleh marah, tapi tidak boleh dendam, sakit hati, ngambek dan berkecil hati. Maka resepnya, “Don’t take it personally.” Lihatlah sebuah konflik sebatas pada perbuatannya, bukan orang-perorang pelakunya.

Sepertinya itulah yang terjadi pada pemimpin negara kita, Presiden SBY. Setiap kali tersakiti, ia selalu cuhat, berkeluh-kesah, ngambek bahkan merasa sebagai korban. Ia melihat segala sesuatu yang menimpa dirinya secara amat personal. Pokoknya melankolis sekali. Walhasil, bukannya fokus pada persoalan dia sibuk meratapi nasib dirinya sendiri.

Jadi, “Just don’t take it personally lah Pak Beye.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s