Suntikan Kematian

Tujuh anak yang dirawat di klinik Dr. Kathleen Holland di Texas, Amerika Serikat secara misterius mengalami gangguan napas  dan gagal jantung dalam waktu hampir berdekatan. Dua di antaranya meninggal dunia. Apakah ini sekedar malapraktik atau aksi kriminal yang direncanakan?

***

Kota Kerrville di Texas, Amerika Serikat, tahun 1982, adalah kota kecil yang berpenduduk belasan ribu orang saja. Di sini, Dr. Kathleen Holland mencoba peruntungannya dengan membuka sebuah klinik khusus anak.  Ia pun mempekerjakan beberapa perawat, salah satunya adalah perawat berpengalaman bernama Genene Anne Jones. Wanita berusia 32 tahun itu baru saja berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai perawat di rumah sakit Bexar County Medical Center, San Antonio.

Dalam beberapa hari saja, klinik Dr. Kathleen sudah mulai mendapat kunjungan pasien. Warga mengaku senang dengan keberadaan klinik ini. Namun sejak dua bulan beroperasi, sebanyak tujuh anak yang dirawat  mengalami serangan kejang mendadak disertai gangguan napas dan jantung.

Tanggal 30 Agustus 1982, di ruang gawat darurat, Dr. Kathleen disibukkan dengan kondisi seorang pasiennya yang memburuk. Bayi Christopher Parker, empat bulan, mengalami gangguan napas. Tak lama berselang, masuk pasien anak lainnya, Jimmy Pearson,  lantaran mengalami serangan kejang. Jimmy, tujuh tahun, menderita keterbelakangan mental dan bisu. Melihat kondisi keduanya, Dr. Kathleen memutuskan untuk segera mengirim mereka ke rumah sakit lain dengan menumpang helikopter. Perawat Genene dan dua paramedis ditugasi mendampingi.

Di atas helikopter, Genene menyatakan bahwa Jimmy kembali mengalami serangan kejang. Meski menurut petugas paramedis yang bersamanya, alat monitor menunjukkan kondisi Jimmy saat itu normal.  Genene lantas memeriksa kondisi Jimmy dengan stetoskop, kemudian menginjeksi sejumlah cairan ke dalam tabung infus. Beberapa menit kemudian, Jimmy mendadak mengalami gangguan nafas dan gagal jantung. Syukurnya ia berhasil selamat. Namun tujuh minggu kemudian ia dilaporkan meninggal.

Botol Obat yang Hilang

Suatu hari di akhir Agustus 1982, Dr. Kathleen mendapat laporan hilangnya sebotol succinylcholine dari lemari penyimpanan obat. Siapa yang mengambilnya masih menjadi misteri. Succinylcholine adalah obat relaksan otot kuat yang biasa digunakan dalam tindak operasi, pembiusan atau kondisi kedaruratan lainnya. Obat ini berfungsi mencegah kontraksi otot yang bisa menyebabkan kelumpuhan pada wajah, organ napas dan organ gerak.

Pada 17 September 1982, Chelsea Ann McClellan, 15 bulan, datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.  Dr. Kathleen memerintahkan perawat Genene memberi dua suntikan pada bayi perempuan itu. Namun beberapa saat setelah suntikan pertama diberikan, bayi Chelsea mendadak mengalami gangguan napas dan kejang. Ibunda Chelsea, Petti McClellan, lantas meminta perawat Genene menghentikan suntikan, namun ia tak peduli dan tetap memberi suntikan kedua.

Petti merasa amat ketakutan ketika melihat tubuh mungil puterinya itu mendadak lemas dan mengalami kesulitan bernapas. Bayi Chelsea pun segera dilarikan ke rumah sakit dengan menumpang ambulans. Namun malang, nyawanya tak bisa diselamatkan.

Dr. Kathleen merasa amat terpukul. Perawat Genene malah menangis histeris di atas jasad bayi Chelsea. Kejadian itu membuat Dr. Kathleen mencermati sejumlah kasus yang menimpa pasiennya belakangan ini. Terlebih pada hari yang sama ada pasien lain yang juga mengalami serangan kejang dan gangguan napas, namun berhasil diselamatkan.

Dr. Kathleen lantas memerintahkan otopsi terhadap jenazah bayi Chelsea. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya keganjilan, sehingga disimpulkan bahwa bayi Chelsea mengalami sindrom sudden infant death.

Dua minggu setelah pemakaman, Petti McClellan mengunjungi makam puteri kecilnya. Tanpa disangka-sangka, di sana ia menjumpai perawat Genene yang tengah bersimpuh di tepi makam sambil meratap menyebut-nyebut nama Chelsea. Petti pun menyapanya. Namun Genene hanya diam, sembari memandangi Petti tanpa ekspresi, lalu bergegas pergi menjauh.

Bekas Lubang Suntikan

Suatu siang di klinik, akhir September 1982, perawat Genene datang menemui Dr. Kathleen, ia mengaku telah menemukan botol succinylcholine yang hilang. Botol itu masih dalam keadaan penuh, namun tutup luarnya hilang, sedangkan pada bagian tutup karetnya terdapat bekas lubang suntikan.

“Ada bekas lubang suntikan pada botol ini,” ujar Dr. Kathleen.

“Ya betul, lalu kenapa?” tanya Genene.

“Tapi bekas lubang ini harus dijelaskan,” timpal si dokter.

“Saya kira kita tak perlu menjelaskan apapun. Sebelumnya kita menganggap botol ini hilang. Jadi buang saja dan bilang botol itu memang hilang,” ujar Genene.

Tentu saja Dr. Kathleen tak mau membuangnya, ia membawa botol tersebut pada petugas medis berwenang dan kepolisian. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa botol obat itu hampir sepenuhnya telah diisi ulang dengan saline yakni cairan mengandung garam. Artinya seseorang telah menyalahgunakan obat relaksan otot tersebut. Selain itu, belakangan diketahui ternyata ada lagi botol succinylcholine yang hilang. Keesokan harinya, Dr. Kathleen pun memecat Genene.

Ini bukan kali pertama Genene diberhentikan dari pekerjaannya. Sepanjang karirnya, ia telah beberapa kali pindah kerja dan dipecat lantaran bertindak indisipliner. Awal karirnya sebagai perawat dimulai sejak tahun 1977 dan telah bekerja di beberapa rumah sakit di kawasan San Antonio, sebelum akhirnya bergabung di klinik Dr. Kathleen.

Sementara itu, kehidupan pribadi Genene bisa dibilang tak mulus. Orang tua kandungnya menyerahkannya untuk diadopsi semenjak ia lahir. Ia lantas dibesarkan oleh pasangan Dick dan Gladys Jones bersama tiga anak adopsi lainnya.  Sebagai anak adopsi ia kerap merasa tidak dicintai dan diinginkan. Ia bahkan menyebut dirinya sendiri “kambing hitam” dalam keluarga.

Genene cilik seringkali berpura-pura sakit demi mendapatkan perhatian orang-orang di sekelilingnya. Teman-teman di sekolahnya menganggap Genene sebagai pribadi agresif dan bossy. Ia kurang pandai bergaul. Perawakan tubuhnya yang pendek dan amat gemuk membuatnya semakin menarik diri dari pergaulan.

Dalam usia remaja, Genene harus kehilangan dua orang terdekat dalam hidupnya yakni saudara angkat laki-lakinya, 14 tahun, yang meninggal akibat terkena bahan peledak yang ia rakit sendiri dan ayah angkatnya yang meninggal lantaran penyakit kanker. Genene memutuskan menikah muda sebagai pelarian atas rasa frustrasinya pasca meninggalnya sang ayah.

Tuntutan Hukum

Kematian bayi Chelsea Ann McClellan berhasil menyeret perawat Genene ke hadapan hukum. Pihak kepolisian setempat menemukan sejumlah bukti yang memberatkan, terkait riwayat kerjanya di sejumlah rumah sakit. Pada 12 Oktober 1982, persidangan perdana kasus Genene digelar.

Guna mencari bukti keterlibatan Genene, polisi juga memerintahkan pemeriksaan menggunakan teknologi canggih, yang baru dikembangkan di Swedia, untuk mendeteksi adanya succinylcholine dalam jaringan tubuh korban. Pemeriksaan berbiaya mahal tersebut berhasil membuktikan bahwa kematian Chelsea memang disebabkan oleh suntikan obat relaksan otot dalam dosis mematikan. Meski begitu, sulit untuk membuktikan keterlibatan Genene mengingat tidak ada saksi mata yang melihatnya menyuntikkan cairan tersebut ke tubuh Chelsea.

Empat bulan berselang, sebuah persidangan lain di San Antonio digelar dengan kasus yang hampir serupa. Sebanyak 47 anak yang dirawat di rumah sakit Bexar County Medical Center dilaporkan meninggal dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Sepanjang Mei sampai Desember 1981, sebanyak 20 bayi dilaporkan meninggal lantaran mengalami gagal jantung atau perdarahan hebat. Perawat Genene diketahui pernah bekerja di unit bagian anak di rumah sakit tersebut.

Pasien pertama yang ditanganinya waktu itu dilaporkan mengalami kerusakan pencernaan, dan ketika akhirnya anak tersebut meninggal Genene begitu histeris. Ia membawa bangku ke dalam kamar jenazah dan duduk di samping jasad anak itu lalu berdiam diri di sana. Rekan-rekan kerjanya tak mengerti mengapa reaksi Genene sebegitu berlebihan.

Genene pun kerap meminta menangani pasien-pasien dengan kondisi parah, hal ini kerap membuatnya berdekatan dengan para pasien yang nyaris sekarat. Keadaan kedaruratan seperti itu rupanya membuatnya bergairah. Namun ketika ada pasien yang gagal diselamatkan Genene akan menjadi demikian frustrasi.  Ia pun ngotot untuk membawa sendiri jasad setiap pasien ke kamar jenazah. Terkadang ia menimang jasad pasien-pasien kecilnya itu sambil mengguncang-guncangkannya. Seolah tak percaya bayi itu sudah tak lagi bernyawa.

Shift Kematian

Sebagian besar anak-anak yang dirawat di rumah sakit Bexar County Medical Center sebetulnya datang tidak dalam kondisi yang beresiko kefatalan. Namun dalam perawatan Genene kondisinya berubah.  Kebanyakan di antara mereka mendadak kerap memerlukan tindakan resusitasi jantung paru-paru atau CPR untuk membuka jalan napas.

Tiga pasien dilaporkan mengalami serangan kejang bersamaan dengan shift kerja Genene. Sejumlah rekan kerjanya sampai menyebut shift Genene sebagai “death shift.” Yang paling menakutkan, Genene bahkan sering membuat prediksi pasien mana yang akan meninggal, dan dugaannya itu selalu tepat. Ia pun sepertinya menikmati hal itu.

Belakangan, muncul rumor Genene menderita sindrom Munchause. Ia diketahui berulangkali memeriksakan diri ke dokter, hingga lebih dari 24 kali, dalam kurun waktu dua tahun. Sindrom Munchausen adalah penyakit mental yang terkait gangguan emosi, dimana seseorang secara berulang bersikap seolah-olah menderita penyakit tertentu. Padahal ia sendirilah yang dengan sengaja menyebabkan gejala penyakit tersebut. Para penderita sindrom Munchausen bahkan rela menjalani pengobatan yang menyakitkan hingga pembedahan demi mendapatkan simpati dari orang-orang di sekitarnya.

Namun rumor terkait sindrom Genene tersebut seketika mereda oleh kabar kematian seorang pasien bernama Antonio Flores. Bayi lelaki berumur enam bulan itu mengalami gagal jantung dan perdarahan hebat yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya. Dan bayi tersebut lagi-lagi berada dalam perawatan Genene. Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi Antonio mengalami overdosis heparin yakni obat yang berfungsi mencegah pembekuan darah. Padahal dalam catatan medis, tidak ada perintah untuk memberikan obat tersebut. Dengan kata lain, ada seseorang yang sengaja menginjeksikan cairan tersebut ke tubuh bayi Antonio.

Meski Genene berkali-kali menangani pasien anak yang kemudian meninggal secara mendadak, namun tidak ada satu pun petunjuk yang bisa membuktikan bahwa Genene berperan di balik semua kematian beruntun tersebut.

Ada pula Rolando Santos yang dirawat lantaran menderita pneumonia, namun secara mendadak bayi lelaki itu mengalami kejang dan gagal jantung disertai perdarahan hebat yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya. Kondisinya yang memburuk itu terjadi bersamaan dengan shift kerja Genene. Beruntung bayi Rolando bisa diselamatkan, ia pun kemudian dipindahkan ke bangsal perawatan lain.

Tak lama berselang, dua orang dokter melaporkan Genene kepada pihak rumah sakit atas dugaan menyebabkan kematian sejumlah pasien. Pasalnya mereka menemukan catatan milik Genene yang berisi panduan cara menginjeksi obat heparin tanpa meninggalkan bekas. Mereka meyakini perawat Genene telah mencobanya pada bayi Rolando. Namun alih-alih melakukan penyelidikan serius, pihak rumah sakit tidak melakukan tindakan apapun.

Sindrom Hero Complex

Sikap pihak rumah sakit Bextar County Medical Center yang tak mengacuhkan laporan dugaan aksi kriminal Genene ini menyebabkan insiden yang sama terus berulang.

Kejadiannya menimpa seorang anak korban kebakaran yang menderita gangguan napas lantaran terlalu banyak menghirup asap. Kepada rekan sekerjanya Genene mengatakan anak tersebut tidak akan selamat, dan itu terjadi. Pemeriksaan laboratorium belakangan menunjukkan terdapat banyak kandungan dilantin atau obat anti kejang dalam darahnya.

Ada pula pasien anak yang sedang dalam masa pemulihan setelah menjalani operasi transplantasi hati. Awalnya kondisi anak tersebut membaik, namun mendadak menurun drastis berbarengan dengan shift kerja Genene.  Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya ia meninggal. Sejumlah perawat mengaku melihat Genene menyuntikkan cairan ke tubuh anak itu.

Menyadari sejumlah kejanggalan yang terjadi, pihak rumah sakit akhirnya meminta Genene berhenti dengan alasan perubahan kebijakan. Komite rumah sakit mengubah standar minimal pendidikan perawat pada unit anak, dari lulusan kejuruan menjadi lulusan akademi. Genene yang hanya lulusan kejuruan pun bersedia mengundurkan diri.

Pengalaman kerja yang lumayan membuat Genene tak kesulitan mencari pekerjaan baru. Dr. Kathleen Holland tertarik mempekerjakan Genene di klinik anak miliknya. Dan di sinilah sepak-terjang Genene berakhir. Kematian pasien cilik Chelsea Ann McClellan berhasil menyeretnya ke meja hijau.

Semenjak persidangan atas kasus kematian bayi Chelsea, tahun 1982, Genene telah menghadapi delapan tuntutan berbeda dengan dakwaan menyebabkan luka serius pada anak. Namun Genene menyangkal semua tuduhan, menurutnya kematian sejumlah pasien anak tersebut disebabkan tindak malapraktik dokter.

Dalam persidangan terbuka di Georgetown, Texas, 15 Januari 1984, jaksa menyatakan bahwa Genene mengalami gangguan kejiwaan hero complex. Ia sengaja membuat anak-anak itu berada pada keadaan mendekati kematian lalu berupaya menyelamatkannya, sehingga ia dapat merasa dirinya sebagai penyelamat. Ada kebutuhan kuat dalam dirinya untuk diperhatikan dan disanjung.

Rekan-rekan kerjanya menyatakan Genene kerap mengusulkan agar pasien anak dimasukkan dalam ruang ICU, dan bila keinginannya itu dikabulkan ia terlihat amat gembira. Dalam ruang steril tersebut Genene dapat dengan leluasa melakukan aksinya tanpa diketahui orang lain.

Pasien-pasien yang menjadi korbannya memiliki kesamaan karakter yakni anak-anak yang mempunyai potensi masalah kesehatan serius dan belum bisa atau tidak bisa bicara, sehingga tak dapat menceritakan apa yang dialaminya. Itu sebabnya mayoritas korban adalah bayi dan balita. Sementara pasien Jimmy Pearson yang berumur tujuh tahun juga tidak bisa bicara karena bisu dan menderita keterbelakangan mental.

15 Februari 1984, pengadilan memutuskan Genene Anne Jones bersalah atas  pembunuhan berencana terhadap Chelsea Ann McClellan dan diganjar hukuman 99 tahun penjara. Ia dinilai sengaja menginjeksi obat relaksan otot dalam dosis tinggi, dan obat lain yang tidak diketahui jenisnya, kepada pasiennya hingga menyebabkan kematian. Genene kerap menggunakan sejumlah obat dalam dosis mematikan kepada para pasiennya, antara lain succinylcholine, heparin, dilatin dan digoxin. Obat-obatan tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan jantung dan komplikasi lain apabila diberikan dalam dosis berlebihan.

Delapan bulan kemudian, ia pun dinyatakan bersalah menyebabkan luka serius pada bayi Rolando Santos dan dikenakan hukuman 60 tahun penjara.

Meski begitu, diperkirakan masih ada banyak korban-korban lainnya. Genene diduga membunuh 11 sampai 46 pasien bayi dan anak dalam perawatannya. Jumlah pastinya tidak diketahui lantaran pihak rumah sakit Bexar County Medical Center sengaja menghilangkan semua catatan terkait aktivitas Genene selama bekerja di sana, guna menghindari kemungkinan tuntutan hukum. (end)

Sumber: The New York Times, Trutv.com, Inside The Mind of Healthcare Serial Killers

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s