Jangan Jadikan Tangisan Senjata Anak

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena sebab-sebab sepele. Namun tahukah Anda, hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri? Sikap orang tua yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

***

Adelia, 4 tahun, menangis menjerit-jerit ketika ia tidak diperbolehkan bermain dan harus mandi. “Bibi nakal! Bibi nakal!!” teriaknya berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan gadis cilik ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Adelia begitu mudah menangis setiap kali keinginannya tak terpenuhi. “Apa saja bisa bikin dia nangis, sampai ngga kehitung, dari pagi sampai malam,” ujar Saminah pengasuhnya.

Apa yang dialami Saminah tentu bukan cerita baru bagi para orang tua. Meski kerap kesal menghadapi tangisan si kecil, namun orang tua seyogyanya merespon tangisan anak secara positif. Jan Hunt, penulis buku The Natural Child: Parenting from The Heart, mengatakan ketika lahir anak hanya bisa berkomunikasi secara nonverbal. Ia tersenyum ketika gembira dan menangis ketika sedih atau marah. Jika orang tua hanya merespon senyum anak dan mengabaikan tangisannya, maka anak akan mendapat pesan yang salah bahwa ia tidak dicintai dengan seutuhnya.

Alam menciptakan tangisan anak sebagai alarm bagi orang tua. Layaknya alarm, tangisan memang didisain untuk “mengganggu” sehingga dapat merebut perhatian orang yang mendengarnya. Tangisan anak ibarat alarm agar orang tua bersegera memenuhi kebutuhan anaknya, mahluk kecil yang belum punya cukup daya-upaya itu.

Psikolog anak dari UI, Eko Handayani, mengatakan bayi dan balita memang wajar sering menangis namun menjadi tak wajar apabila perilaku tersebut berlanjut sampai ia besar. Sehingga sejak dini anak harus dididik untuk tidak cengeng alias mudah atau sering menangis. Usia 2-4 tahun merupakan periode yang penting, seiring dengan berkembangnya kemampuan verbal anak, namun juga fase paling sulit lantaran anak kerap mengalami temper tantrum seperti yang dialami Adelia.

Perlu Kesabaran Ekstra

Temper tantrum wajar dialami anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasinya, lantaran kehendak yang tak terpenuhi. Anak yang mengalaminya tidak bisa diam dan tenang. Ia menjadi keras kepala lalu menangis, berteriak, menjerit, memaki bahkan memukul dan menendang.

Tantrum normal terjadi pada anak  usia 2-4 tahun. Pada usia tersebut keinginan anak bertambah banyak dan ia telah punya cukup kekuatan untuk menunjukkan eksistensinya, namun di lain sisi kemampuan komunikasinya belum memadai. Meski kerap menjadi momok bagi orang tua, namun Handayani mengingatkan orangtua seyogyanya punya kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Penanganan tantrum pada anak dilakukan sebelum, saat kejadian dan sesudahnya. Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Karenanya orang tua disarankan sebisa mungkin meminimalkan keadaan yang dapat memicu rasa frustrasi atau amarah anak antara lain dengan menciptakan lingkungan yang aman sehingga anak dapat bereksplorasi tanpa mendapat larangan, mencegah anak bosan dengan memberinya ragam kegiatan, memberinya tugas atau kegiatan yang sesuai dengan perkembangan kemampuannya atau mengajak anak bercanda.

Orang tua juga harus meningkatkan level toleransinya untuk bisa memenuhi kebutuhan anak, periksa kembali sudah berapa kali Anda berkata “tidak” pada anak. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.

Jika temper tantrum sudah terjadi maka orang tua harus tenang. Sebelum mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan diri sendiri. Memukul atau memarahi anak hanya akan memperburuk keadaan. Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak menjadi sulit dikendalikan, bicara dan coba tenangkan dia.

Sesudah redanya tantrum, beri pengertian pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya bukan dengan menangis dan mengamuk. Beri pengertian padanya bahwa kemarahan merupakan perasaan yang dimiliki semua orang, lalu ajari dia cara mengungkapkannya secara baik. Demi mendidik anak, orang tua jangan pernah menyerah pada tantrum dalam kondisi apapun, jangan pula memberi hadiah apabila anak telah tenang dari tantrumnya.

Ajak Anak Bicara

Lepas usia empat tahun, kebiasaan anak menangis seharusnya semakin berkurang. Asalkan sejak kecil orang tua telah mendidiknya supaya tidak mudah dan sering menangis, sebab perilaku cengeng tidak bisa hilang dengan sendirinya.

Anak menjadi cengeng tergantung bagaimana lingkungan menyikapi tangisannya. Menurut Handayani ketika anak menangis, orang tua harus membantunya belajar bicara dan mengkomunikasikan perasaan atau keinginannya, bukan dengan memarahinya. Pertama-tama bantu anak menenangkan diri, bisa dengan memegangi kedua tangannya lalu ajak dia mengatur nafas. Setelah itu, jelaskan baik-baik bahwa kita tidak mentolerir tangisan dan tuntut dia untuk bicara. “Kalau kamu mau sesuatu harus minta, jangan pakai menangis,” kata Handayani mencontohkan. Dengan cara ini, anak diajar untuk bisa mengutarakan keinginannya.

Anak menangis lantaran ia tidak punya cara lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya. Karena itu ajarilah anak bicara sedini mungkin. Handayani bahkan telah mengajak anaknya bicara sejak bayi. “Anak sudah bisa menangkap bahasa kita kok, Cuma organ bicaranya saja yang belum matang,” ujar Handayani.

Ketika anak sudah bisa bicara artinya ia sudah bisa diajak berkomunikasi dan diberi pengertian, maka tetapkanlah aturan yang jelas dan komunikasikan pada anak. “Hari ini mama mau ke mal tapi kakak ngga boleh beli mainan ya, kan kemarin sudah,” ujar Handayani mencontohkan. Jika sesampainya di mal anak tetap menangis dan merengek minta mainan maka kita ingatkan kembali aturannya, bukan merespon tangisannya.

Ajari pula anak agar bisa menunda keinginan dan mengusai emosinya, misalnya untuk membeli mainan lain waktu ketika sudah ada uangnya. Namun orang tua harus konsisten, apabila anak tetap menangis jangan lantas mengalah, dan jika berjanji membelikannya lain waktu maka penuhilah janji tersebut.

Metode reward dan punishment juga bisa diberikan untuk mendidik agar anak tidak cengeng. Ketika anak mengamuk dan menangis maka di lain kesempatan ia tak lagi diajak ke mal misalnya, begitu pun sebaliknya ketika anak berperilaku baik sesuai aturan maka orang tua bisa membelikannya es krim sebagai hadiah. Jangan lupa untuk selalu menjelaskan apa perilaku  yang menyebabkan anak mendapat hukuman atau hadiah tersebut.

Namun Handayani mengingatkan agar tidak mengiming-imingi anak sesuatu supaya berperilaku baik. Sebab selayaknya reward hanya diberikan sesudah adanya keberhasilan, bukan sebelumnya.

Kenali Tangisan Anak

Anak kerap menggunakan tangisan untuk mencari perhatian atau mendesak orangtua maupun orang di sekelilingnya untuk memenuhi keinginannya. Menurut Handayani itu lantaran orang tua biasanya baru memperhatikan anaknya ketika menangis. Akibatnya anak mempelajari pola tersebut dan menggunakan tangisan sebagai “senjata”. Namun orang tua seyogyanya tidak mengikuti trik anak tersebut.

Ada baiknya orang tua mengabaikan anak yang menangis. Terus lakukan kegiatan Anda, abaikan anak sampai dia lebih tenang dan ingatkan aturan yang telah disepakati bersama. “Biarkan saja dia menangis sambil guling-gulingan, kan anak juga perlu melepaskan emosinya,” ujar Handayani. Lama-lama akan berhenti sendiri. Nanti setelah reda, datangi anak dan tanyakan apa keinginannya. Dengan cara ini anak tahu bahwa dengan menangis ia tidak akan memperoleh apa-apa dan kemauannya tidak lantas dituruti.

Namun orang tua harus bisa mengenali mana tangisan pura-pura dan tangisan yang sebenarnya. Tentu ada keadaan dimana anak benar-benar menangis karena sakit, sedih atau takut. Di saat seperti itu anak tentu boleh menangis dan orang tua pun harus hadir dan memberi perhatian. “Orang tua harus peka, sebab kecenderungan anak berbeda-beda. Pada anak yang sangat sensitif dan mudah sedih misalnya memang perlu ada perhatian khusus,” ujar Handayani.

Cegah tangisan dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Irawati Istiadi dalam bukunya berjudul “Mendidik Anak dengan Cinta” mengatakan salah satu penyebab anak menangis lantaran ia merasa tak aman, misalnya ketika ibunya tidak berada di dekatnya, berada di tempat asing, takut dipermalukan dan sebagainya.

Orang tua perlu mencari tahu penyebab tangisan anak lalu menenangkannya. Namun jangan memaksa anak untuk menghilangkan rasa takutnya dengan berkomentar, “Ngga usah takut, ngga ada apa-apa kok” atau “Ah, begitu saja kok takut,” ciptakan rasa aman dengan cara memeluknya, lalu yakinkan mereka bahwa kekhawatirannya itu tidak akan terjadi. Lalu puji anak ketika ia melakukan hal-hal baik, termasuk ketika ia berhasil menahan tangisnya. (end)

Iklan

2 pemikiran pada “Jangan Jadikan Tangisan Senjata Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s