Mendidik Anak dengan Cinta

Banyak yang bilang cara membesarkan anak jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu. Itu ada benarnya. Tapi ada satu hal yang tak berubah, anak selayaknya tetap dibesarkan dengan cinta kasih tanpa syarat dan penerimaan seutuhnya.

***

Seorang ibu dalam sebuah mailing list di internet berkisah tentang pengalamannya membawa anaknya yang bernama Dika ke psikolog. Gara-garanya, menurut pihak sekolah, Dika tercatat sebagai anak bermasalah, padahal ia ditempatkan dalam kelas unggulan khusus anak berprestasi. Ia kerap terlihat murung dan melamun di kelas, prestasinya pun terus merosot.

Pemeriksaan psikologi membenarkan bahwa Dika memang anak yang cerdas, skor rata-rata kecerdasannya 147 alias amat cerdas. Namun kemampuan verbalnya “cuma” 115. Karena nilai yang jomplang itu maka psikolog menyarankan agar Dika menjalani tes kepribadian.

Hasilnya sungguh mengejutkan sang ibu. Rupanya masalah bukan ada pada diri si anak, melainkan ibu dan ayahnya. Pada salah satu pertanyaan yang berbunyi, “Aku ingin ibuku….”  Dika menjawab, “Membiarkanku bermain sesuka hatiku sebentar saja.”

Dalam mailing list, sang ibu bercerita ia memang merasa perlu menjadwal aneka kegiatan yang bermanfaat demi kebaikan anaknya yakni kapan waktu menggambar, bermain puzzle, bermain basket, membaca buku cerita, main game dan sebagainya. Menurutnya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang sedikit, karena sebagian besar dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus.

Sedangkan pada pertanyaan untuk sang ayah, “Aku ingin ayahku…” Dika menjawab, “Melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu.” Rupanya  Dika tidak mau diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan seperti apa yang diperintahkan kepada dirinya. Bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya, makan dan minum tanpa harus dilayani, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu.

Masih ada sejumlah jawaban lain yang membuat sang ibu terhenyak, seperti “Aku ingin ayahku tidak menyalahkanku di depan orang lain, merasa paling benar dan paling hebat, mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku.” Sementara untuk sang ibu, “Aku ingin ibuku memeluk dan menciumku setiap hari seperti dia mememeluk dan mencium adikku.”

Apa yang dirasakan Dika bisa jadi merupakan gambaran jeritan hati banyak anak lainnya yang merasa tidak happy dengan pengasuhan orang tuanya. Membesarkan anak memang bukan perkara gampang, semua serba otodidak, wong tidak ada sekolahnya. Beruntung, belakangan mulai banyak buku-buku parenting yang bisa menjadi panduan bagi orang tua. Isinya kebanyakan mengadopsi pemikiran-pemikiran dalam ilmu psikologi.

Beri Anak Kesempatan Bicara

“Anak jaman sekarang beda dengan jaman dulu,” begitu ungkapan kebanyakan orang tua. Masuk akal, sebab lingkungannya pun sudah jauh berbeda. Anak jaman sekarang cenderung lebih berani dan bebas mengungkapkan pendapat. Sehingga pola asuh otoriter, bahkan keras, ala pendidikan orang tua jaman dulu sudah tak lagi sesuai.

“Anak jaman dulu kalau dimarahi menunduk dan diam. Anak jaman sekarang tidak, bahkan ia bisa mendebat,” ujar Eko Handayani, psikolog anak dari UI. Sehingga menurutnya anak harus diberi kesempatan untuk bicara dan didengar, kalau tidak ia bisa berontak. Dalam ilmu psikologi, pola asuh semacam ini disebut pola asuh otoritatif yang membuka peluang komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Orang tua menetapkan aturan sekaligus memberi kesempatan pada anak untuk bicara dan didengar.

Apa yang diterapkan oleh orang tua Dika, seperti pada kisah di atas, cenderung mengadopsi model otoritarian. Aturan dibuat dan ditegakkan secara ketat oleh orang tua. Suara anak nyaris tidak didengar.

Pola asuh otoritarian memang paling mudah diterapkan karena anak dibuat tunduk patuh pada aturan, tanpa berani membantah. Namun kepatuhan anak semata-mata disebabkan oleh rasa takut, sehingga ketika melakukan kesalahan anak cenderung berbohong lantaran takut dihukum. “Kita kan ingin anak jujur, jadi ketika ia jujur jangan dimarahi,” ujar Handayani.

Sementara pola asuh permisif justru kebalikannya, nyaris tak ada aturan, apa pun keinginan anak diperbolehkan. Walhasil, kelak anak akan sulit beradaptasi dengan lingkungan di luar rumah yang penuh dengan aturan sehingga anak mudah frustrasi atau berontak.

Aturan itu Mutlak

Mendidik anak mutlak ada aturan. Pola asuh permisif yang tanpa aturan, meski terlihat menyenangkan bagi anak, sesungguhnya malah menjerumuskan masa depannya. Sebab lewat aturanlah anak dididik supaya kelak siap menghadapi kehidupannya yang mandiri.

Sedari kecil, anak harus diperkenalkan terhadap aturan. Buatlah aturan yang konkrit, komunikasikan secara jelas, lalu terapkan secara konsisten. Apabila anak tidak menjalankannya, tegur dan ingatkan. “Misalnya anak lupa menaruh handuk sehabis mandi maka ingatkan saja, jangan lantas kita yang mengerjakannya,” ujar Handayani. Kuncinya pada konsistensi. Terkadang orang tua merasa kasihan pada si kecil sehingga sesekali ikut turun tangan mengerjakan. “Kalau bolak-balik diingatkan, lama-lama anak akan terbiasa,” ujarnya lagi.

Menegakkan aturan tak akan lepas dari hukuman. Jika teguran berkali-kali tak juga mempan, orang tua bisa menghukum. Untuk itu, menurut Handayani, orang tua tak perlu capek-capek tarik urat leher memarahi anak, mending kalau didengar. “Anak kecil lebih mudah menangkap segala sesuatu yang sifatnya konkrit, kalau dimarahi ia malah membentuk benteng sebagai pertahanan diri,” ujar Handayani. Karena itu layaknya aturan, hukuman pun sebaiknya dibuat konkrit. Misalnya dengan cara menarik atau membatasi kesukaan anak seperti mengurangi jatah waktunya nonton televisi atau bermain, tidak boleh ikut jalan-jalan ke mal atau menyuruhnya berdiam di pojok ruangan selama beberapa waktu.

Handayani tidak mengharamkan hukuman fisik, jika dirasa perlu, namun jangan sampai melukai atau meninggalkan bekas. Misalnya pada anak yang suka memukul, lalu ibunya mengingatkannya dengan memberinya pukulan. “Anak kecil itu gampang memukul kalau marah, seperti refleks saja. Kita pukul dia untuk memberi tahu bahwa dipukul itu sakit loh, jadi jangan memukul,” kata Handayani.

Sesudah memberi hukuman, ajak anak bicara. Jelaskan apa perilakunya yang menyebabkan ia dihukum, misalnya lantaran ia mengamuk ketika tidak diperbolehkan membeli mainan. Jangan sampai anak salah persepsi sehingga ia mengira dihukum karena minta dibelikan mainan. Jika anak salah tangkap, lain waktu ia jadi takut bicara. Walhasil, anak menjadi tidak asertif untuk berani bicara dan mengungkapkan keinginannya.

Pada anak pra remaja, hukuman sudah bisa diberikan dalam bentuk verbal. Namun jangan memarahi anak di depan orang, terlebih adik-adiknya, sebaiknya ajak anak bicara berdua saja. Ketika orang tua mengungkapkan kemarahan, gunakan kalimat “I message” yang menunjukkan perasaan orang tua yang tidak nyaman akibat perilaku anaknya.  “Ibu merasa kecewa karena kamu tidak menepati janji untuk pulang tepat waktu,” ujar Handayani mencontohkan. Sehingga pesan yang ditangkap anak adalah orang tua tidak menyukai perilakunya dan bukan membenci dirinya.

Bangun Kepercayaan

Meski tak ada sekolahnya, mengasuh anak tetap ada ilmunya. Jadilah orang tua yang cerdas, jangan taken for granted dalam menerapkan pola asuh sebagaimana halnya orang tua kita dulu membesarkan kita. Pasalnya kesalahan dalam mengasuh anak bisa berdampak fatal terhadap masa depannya kelak. Handayani mengatakan usia balita adalah periode paling rawan dalam perkembangan kejiwaan anak, di sinilah masa tertanamnya trauma.

Menurut Handayani peran orang tua dalam mendidik anak sudah dimulai bahkan semenjak anak dalam kandungan. Periode tersebut adalah masa penting perkembangan otak anak. Sehingga ibu harus menjaga betul kesehatannya, baik fisik maupun mental.

Ketika bayi telah lahir hingga berusia dua tahun adalah masa penting membangun kepercayaan (trust dan distrust). Pada fase ini anak belajar apakah kehadirannya diterima dan dicintai. Karena itu, Handayani mengingatkan supaya ibu harus selalu hadir dan menjawab tangisan anaknya, jangan mengabaikan apalagi memarahinya. “Bayi menangis itu pasti karena ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, bukan karena manja atau cari perhatian,” kata Handayani.

Nanti pelan-pelan anak diajar bahwa tidak selalu tangisannya membuat ibunya serta-merta datang, tapi tetap tunjukkan bahwa ibu tahu dan memperhatikan kalau anaknya menangis. “Misalnya kita lagi tanggung, teriak saja dari luar kamar, ‘Sebentar ya dek, ibu cuci tangan dulu,’ nanti beberapa menit kemudian kita baru datang dan jelaskan lagi kenapa kita terlambat datang,” ujarnya. Handayani menekankan agar orang tua sering berkomunikasi dengan anak, bahkan sejak anak masih bayi.

Handayani menambahkan, bagi ibu bekerja masa cuti melahirkan selama tiga bulan harus dimanfaatkan secara maksimal untuk bisa selalu hadir setiap kali bayinya menangis. Jika kepercayaan sudah terbentuk maka mendidik anak selanjutnya akan lebih mudah.

Pemerhati masalah anak, Jan Hunt, yang juga penulis buku “The Natural Child: Parenting from The Heart” mengatakan respon orang tua terhadap tangisan bayi adalah wujud cinta kasih tanpa syarat yang amat menentukan kesehatan jiwa anak.

Membangun kepercayaan (trust) ibarat pondasi dalam membesarkan anak. Sejak lahir, anak harus merasa bahwa keberadaannya diterima dan dicintai. Anak yang kehilangan kepercayaan akan tumbuh menjadi pribadi yang bermasalah, bahkan menurut Hunt kebanyakan pelaku kriminal dengan kekerasan disebabkan oleh terenggutnya cinta kasih tanpa syarat dari diri anak. Dan itu tidak dilakukan dalam semalam, melainkan perlahan-lahan, lewat perilaku pengabaian dan penghukuman orang tua terhadap anaknya sendiri. (end)

Note: Tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari Ekstra Edisi Anak, Agustus 2012

Iklan

3 pemikiran pada “Mendidik Anak dengan Cinta

  1. Terima kasih artikelnya sangat bermanfaat buat saya, khususnya karena anak saya mudah sekali menangis jika mendengar suara kenceng. Ternyata letak nya ada di saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s