Otak Kanan Anak Dhuafa

Kebanyakan orang tua menilai kecerdasan anak dari aspek kemampuan otak kiri semata, seperti berhitung atau membaca, dan mengabaikan aspek kemampuan otak kanan seperti kreativitas dan seni. Namun anak-anak dhuafa di Taman Asuhan Qurrotunnada Bogor justru mendapatkan pembinaan kreativitas yang amat memadai sehingga bisa mengembangkan potensi mereka secara maksimal.

***

Bocah lelaki ini menyanyi dengan penuh percaya diri, suaranya mengalun merdu, jernih dan syahdu. Tepuk tangan dan sorak-sorai penonton pun mengiringi penampilan Bayu Anugerah, 10 tahun, pada acara pentas kreasi yang diadakan Taman Asuhan Qurrotunnada di Bogor, Jawa Barat.

Meski pementasan ini hanyalah acara internal, namun Bayu mempersiapkannya dengan bersungguh-sungguh. Ia berlatih keras, 4 sampai 5 jam setiap hari, selama sepekan. Bayu tak sendirian, masih ada 60-an anak lainnya yang juga tekun berlatih mempersiapkan atraksi.

Tak heran, sebab pengurus pun mempersiapkan acara ini dengan serius. Sebidang lahan kosong seluas 300 meter persegi berhasil disulap menjadi area panggung dan pertunjukkan yang menarik, meski semua dekorasi berasal dari perabotan rumah tangga alakadarnya. Meja kayu panjang dijadikan panggung, kasur busa, papan whiteboard dan bendera merah putih dipajang sebagai latarnya, sementara beberapa lembar karpet digelar untuk area atraksi. Ada pula seperangkat alat band berikut sound systemnya. Walhasil, meski sederhana pementasan ini tampak istimewa.

Pentas kreasi ini menjadi ajang pembuktian pembinaan kreativitas terhadap anak-anak taman asuhan yang memang mendapat porsi cukup besar dalam kurikulum.  Menurut pimpinannya, Avicenia Darwis, aspek kreativitas amatlah penting dalam mengembangkan wawasan dan membentuk karakter anak. “Salah satu masalah besar dalam diri anak-anak dhuafa ini adalah rendahnya rasa percaya diri sehingga mereka tidak bisa mengekspresikan keinginan dan impiannya,” ujar Avicenia.

Taman Asuhan Qurrotunnada memang khusus membantu pendidikan anak-anak kurang mampu yang berada di daerah Cimanggu, Bogor, Jawa Barat.  Kebanyakan di antara mereka adalah anak yatim, sebagian lagi masih punya orang tua namun dengan penghasilan pas-pasan yang bekerja sebagai kuli bangunan, pedagang keliling, marbot mesjid ataupun pengangguran. Bagi mereka, jangankan dapat mengembangkan bakat dan kreativitasnya, untuk bisa mengenyam pendidikan formal pun sulit. Karenanya Avicenia bertekad agar wadah ini bisa memfasilitasi, tidak saja kebutuhan intelektual, namun juga spiritual dan kreativitas anak.

Aspek intelektual terfasilitasi lewat pendidikan formal di sekolah. “Kami memberikan bantuan biaya pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA, bahkan sampai universitas bagi anak yang berprestasi, juga macam-macam kursus, ” ujarnya. Sedangkan pendidikan di taman asuhan mengambil porsi aspek spiritual, melalui pembinaan agama dan motivasi, serta aspek kreativitas melalui pengembangan bakat dan keterampilan anak.

Ide yang Ditentang

Avicenia meyakini setiap anak dilahirkan dengan potensinya masing-masing yang harus digali dan dikembangkan. “Kami memulainya dengan membangun mimpi-mimpi mereka, membangun rasa percaya diri dengan menjuluki mereka sebagai anak-anak masa depan, lalu memfasilitasi potensi dan bakat mereka,” ujarnya.

Pola pembinaan yang memperhatikan kreativitas anak-anak ini terbukti manjur membangun rasa percaya diri mereka. “Saya merasa lebih maju karena di sini bisa mengembangkan bakat dan potensi saya,  juga lebih berani dan percaya diri,” tutur Bayu. Hal senada diungkapkan Amalia Utami, 16 tahun, ”Saya jadi berani tampil ke depan dan bisa mengembangkan diri.” Dalam acara pentas kreasi, Amalia beserta tiga orang teman perempuannya bermain band yang berhasil mendapat sambutan meriah dari penonton. Padahal sebelumnya ia sama sekali belum pernah memegang alat musik.

Musik merupakan materi yang paling diminati anak-anak. Untuk itu, pengurus mendatangkan guru musik dan menyediakan seperangkat alat musik seperti gitar dan bass elektrik, keyboard, drum berikut sound systemnya, meskipun semuanya hanya perangkat bekas.

Ide ini sebelumnya sempat mendapat tentangan dari pengurus lain lantaran dianggap memboroskan anggaran. Namun Avicenia berpendapat demi kemajuan anak, dukungan hendaknya tak diberikan setengah-setengah, juga tidak melulu fokus pada aspek intelektual atau spiritual saja. Walhasil, ia pun lantas merogoh kocek pribadinya. Avicenia meyakini pengembangan potensi dan bakat dapat menjadi cara jitu membangkitkan motivasi dan semangat untuk maju anak-anak dhuafa ini.

Salah satu alumni taman asuhan, Reza Permana, 21 tahun, mengaku amat senang dengan adanya pembinaan kreativitas ini. Pasalnya kini ia bisa mencari nafkah dari bermusik. Selepas SMA, Reza memutuskan tidak melanjutkan kuliah karena keterbatasan dana. “Saya lebih baik bekerja untuk membantu ibu, sebab mau kuliah pasti butuh banyak biaya,” ujarnya.

Hal serupa juga dialami Salim dan Rama, sehingga mereka memutuskan serius bermusik untuk membantu keuangan keluarga. Ayah Salim seorang pedagang keliling sedangkan ibunya bekerja sebagai TKW di Brunei, sementara Rama adalah anak yatim yang harus membantu ibunya mencari nafkah.  “Saya ngga nyangka kalau hobi musik saya sejak kecil bisa dikembangkan seperti sekarang, bisa manggung dan punya band sendiri,” kata Salim. “Dari dulu cita-cita saya ingin jadi musisi, rasanya senang sekali dan jadi lebih pede,” ujar Rama.

Reza, Salim dan Rama sudah bisa bermain musik dan membentuk sebuah band dalam waktu tiga bulan. Sejak sebulan terakhir, mereka pun mulai mendapat panggilan manggung. “Saya sekarang makin pede dan optimis,” ujar Reza mantap.

Otak Kiri vs Otak Kanan

Orang tua dan guru kerap abai akan kebutuhan pengembangan kreativitas anak. Bahkan ada yang mengganggap kegiatan itu bisa mengganggu pelajaran sekolah. Padahal berbagai penelitian justru menunjukkan sebaliknya. Kegiatan bermusik misalnya diketahui dapat meningkatkan kemampuan kognitif, konsentrasi dan rileksasi.

Psikolog Robert Ornstein (1972), dalam bukunya “The Psychology of Consciousness”, secara ekstrim menyatakan masyarakat Barat selama ini hanya menggunakan setengah otaknya alias setengah kapasitas mentalnya. Menurut Ornstein mereka terlatih menggunakan otak kirinya dengan berfokus pada bahasa dan cara berpikir logis analitis, dan menelantarkan otak kanan yang berpikir secara intuitif dan emosional.

Adalah Joseph Bogen bersama sejumlah koleganya yang berhasil menemukan keunikan peran otak kiri dan kanan melalui split brain surgery. Penelitian ini dilakukan terhadap tiga pasien penderita epilepsi yang menjalani operasi otak untuk memutus corpus callosum yakni jaringan saraf yang menghubungkan otak kiri dan kanan. Walhasil, otak kiri dan kanan tidak bisa saling berkomunikasi.

Pasca operasi, subjek bisa menjelaskan dengan baik benda yang diletakkan di sisi kanan area penglihatannya (kerja otak kiri), namun mendadak blank dan mengatakan tidak melihat apa-apa ketika benda dipindahkan ke sisi kiri area penglihatannya (kerja otak kanan). Uniknya, ketika diminta menunjuk benda tersebut subjek dapat melakukannya dengan mudah. Rupanya otak kanan dapat melihat benda tersebut dan memberi respon nonverbal, namun ia tak bisa menjelaskan apa yang dilihatnya itu.

Hasil penelitian tersebut selanjutnya menjadi landasan munculnya pemikiran moderen terkait fungsi otak kiri dan kanan. Otak kiri diyakini dominan mengolah informasi seputar bahasa, matematika, logika, analisa dan bersifat linear, sedangkan otak kanan dominan dalam kemampuan visual, manipulasi ruang, bentuk dan pola, irama dan imajinasi. Menurut Bogen masyarakat terbiasa fokus pada cara berpikir yang memakai bahasa untuk memproses informasi, alias memakai otak kiri, dan mengabaikan cara berpikir kreatif  ala otak kanan.

Berdasarkan penelitian tersebut maka pakar pendidikan E.Torrance (1973) menganggap perlu melakukan perubahan dalam metode pendidikan. Torrance mengontraskan cara belajar ala otak kiri yang duduk tegak dan belajar aljabar, dengan cara belajar ala otak kanan yang sambil selonjoran dan belajar geometri.

Taman Asuhan Qurratunnada sendiri agaknya banyak mengadopsi metode pembelajaran ala otak kanan dengan menambah porsi kegiatan seni dan kreativitas dalam kurikulumnya. Pengurus taman asuhan, Sofianti, menjelaskan taman asuhan sengaja mengambil porsi pendidikan otak kanan sebab selama enam hari dalam seminggu anak-anak sudah banyak mendapat pendidikan otak kiri di sekolah. “Setiap anak punya potensi masing-masing. Tidak semuanya cemerlang dalam kemampuan otak kiri, ada juga yang menonjol di bidang seni dan kreativitas sehingga kami ingin mengembangkan semua potensi mereka,” ujarnya.

Psikolog anak dari UI, Eko Handayani, mengatakan keterampilan intelegensia (intelegence skill) berperan besar menentukan kesuksesan seseorang, dan itu bukan soal perkara intelektual melainkan suatu perilaku adaptif (adaptive behaviour) yang akan terbentuk apabila ada keseimbangan antara otak kiri dan kanan.

Belajar Sambil Bermain

Kegiatan di Taman Asuhan Qurrotunnada memang sengaja dirancang dalam suasana yang menyenangkan, konsepnya belajar sambil bermain. Saban hari Minggu, anak-anak diwajibkan hadir pukul 07.30 yang diawali dengan materi pendidikan agama selama dua jam, dilanjutkan dengan materi motivasi sekitar satu setengah jam, lalu acara bebas berupa olahraga, musik atau permainan selama satu jam. Di sini, aspek intelektual, spiritual maupun kreativitas mendapat perhatian yang sama besarnya.

Kurikulum ini baru diterapkan sejak tiga bulan terakhir. Sebelumnya, materi diberikan di dalam “kelas” selama hampir tujuh jam, sementara kegiatan bermain dan berkreasi hanya selingan saja. Anak-anak pun mengaku senang dengan metode baru ini. “Kami diberi kebebasan dan keleluasaan, peraturannya ngga kaku sehingga lebih nyaman dan ngga merasaterbebani,” ujar Asmar, 15 tahun, yang memilih ekskul musik marawis. “Kami bisa mengeluarkan semua ekspresi sambil refreshing. Belajar jadi lebih menyenangkan dan semua beban pikiran hilang,” ujar Isna Anggraeni yang memilih ekskul musik keyboard.

Pengurus meyakini metode yang menyenangkan akan membawa dampak positif  bagi semangat dan prestasi belajar anak-anak. Meski kesibukan mereka bertambah dengan mengikuti aneka kegiatan seperti band, musik marawis ataupun klub futsal, toh prestasi akademis mereka tetap baik, bahkan jumlah anak yang menjadi juara kelas meningkat. Tahun ini, ada 12 anak yang masuk peringkat tiga besar di kelasnya.

Aspek kreativitas memang seyogyanya diperlakukan sebagai bagian integral dalam proses pendidikan anak, bukannya dianaktirikan apalagi dilupakan. Anak yang kreatif akan lebih mudah menghadapi persoalan dan hambatan dalam hidupnya kelak. Ia dapat melihat persoalan dari banyak sisi yang mungkin tak bisa dilakukan oleh orang kebanyakan. Istilahnya berpikir “out of the box”.

Mengutip ucapan ilmuwan besar Albert Einstein, “Logika akan membawamu dari A menuju B, sedangkan imajinasi akan membawamu kemanapun.” (end)

Donasi: Silahkan menghubungi Pimpinan Taman Asuhan Qurrotunnada, Avicenia Darwis

Note: Tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari Ekstra Edisi Anak, Agustus 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s