Saya + Tuhan = Cukup

spiritualitasKalimat “Saya + Tuhan = Cukup” ini saya kutip dari perkataan seorang motivator terkenal.  Pertama kali mendengarnya, saya langsung menyetujuinya. Sebagai manusia beriman maka saya mudah saja menerima input apapun terkait Kemahakuasaan Tuhan. Tapi, ya, begitu saja. Saya mendengar, saya mengerti maksudnya dan saya setuju.

Sampai saya mengalami suatu kejadian yang membuat saya betul-betul menghayati dan mengamini maksud dari kalimat tersebut. Kejadian yang membuat saya memaknai kalimat “Saya + Tuhan = Cukup” dalam perspektif yang berbeda.

Waktu itu, saya sedang terbelit masalah keuangan hingga puluhan juta rupiah. Sebelumnya, saya mengajukan pinjaman ke bank untuk untuk membangun tempat usaha. Naasnya, bank yang saya hubungi tidak profesional, berkas pengajuan permohonan pinjaman saya terkatung-katung selama berminggu-minggu tanpa kabar.  Saya pun lantas mengajukan pinjaman ke bank lain. Namun karena proses pengajuan pinjaman tersebut makan waktu lebih dari yang saya perkirakan maka saya pun memutuskan memulai pembangunan tempat usaha dengan modal pribadi plus pinjaman keluarga seadanya, dengan harapan pinjaman bank akan segera cair. Tapi betapa terkejutnya saya karena ternyata pengajuan pinjaman saya ditolak. Menurut pihak bank, sertifikat tanah yang saya jaminkan nilainya terlalu besar dibandingkan jumlah pinjaman saya yang hanya beberapa puluh juta. Saya panik karena pembangunan sudah berjalan dan tak mungkin dihentikan, jika dihentikan usaha saya malah bisa berhenti total. Akhirnya saya pun meminta bantuan kepada pihak keluarga, bukan berupa uang, hanya  bantuan untuk meminjamkan surat BPKB mobil sebagai jaminan ke bank. Tapi saya sungguh tak menyangka kalau respon yang saya peroleh amat negatif. Jangankan bantuan, sekedar hiburan penenang hati pun tidak. Saya malah dimarahi karena dianggap nekad dan tidak berpikir panjang. Saat itu, saya merasa sedih, kecewa dan sakit hati. Kok, tega-teganya orang yang yang saya pikir bisa menjadi tempat saya bergantung ternyata malah tak peduli.

Kejadian itu, membuat saya begitu menghayati kalimat “Saya + Tuhan = Cukup”. Saya yakin Allah pasti memberi jalan. Ya, saya dan Allah, itu sudah cukup. Tapi tanpa saya sadari keyakinan tersebut disertai pula dengan kemarahan dalam diri saya. Sehingga saya juga memaknai kalimat tersebut dengan tekad untuk selanjutnya berjuang sendiri mengatasi segala permasalahan saya tanpa perlu meminta bantuan orang lain. Begitu sakit hatinya saya, hingga tekad itu saya tulis dalam selembar kertas dan saya tempel di samping tempat tidur agar saya bisa melihatnya setiap saat.

Terbukti, Tuhan memang Maha Pemurah lagi Penyayang. Urusan uang puluhan juta itu bisa terselesaikan. Kini bisnis saya pun semakin maju dan melihat pertumbuhannya Insyaallah cicilan puluhan juta itu bisa lunas dalam tempo 1-2 tahun saja, dari rencana 3 tahun jika melalui bank.

Tapi cerita tidak berhenti sampai di sini. Rupanya masih ada episode lain dalam kehidupan saya yang membuat saya lantas kembali memaknai ulang kalimat “Saya + Tuhan = Cukup.”

September 2013, saya didiagnosa menderita suatu penyakit. Perasaan saya? Khawatir pasti, tapi saya tak gentar dan bertekad untuk sembuh. Namun saya tak memberitahukannya kepada siapa pun, saya bertekad untuk mengatasinya sendiri. Saya tidak tahu kenapa, padahal penyakit saya ini cukup serius. Mungkin sejak kejadian pinjaman bank itu, tanpa saya sadari, saya telah mematri tekad untuk mengatasi segala persoalan saya sendirian. Saya tak mau dirawat di rumah sakit karena itu artinya saya akan membutuhkan bantuan keluarga saya. Maka saya pun berjuang sekuat tenaga mengobati diri saya dengan menjalani diet makanan sehat, berolahraga dan minum obat-obatan herbal. Tapi apa yang terjadi? Dua bulan berlalu, penyakit saya tak kunjung sembuh malah memburuk. Akhirnya tak ada pilihan lain, saya memutuskan menjalani pengobatan medis. Itu artinya saya pun harus meminta bantuan keluarga. Responnya, tentu saja berbeda dengan kejadian pinjaman bank tempo hari, mereka amat mendukung dan menguatkan saya. Saya sebetulnya tidak pernah menyangsikan kesungguhan keluarga untuk membantu proses pengobatan saya, tapi entah kenapa saya tak mau meminta bantuan mereka sehingga pada awalnya saya bertekad menyelesaikan ini sendirian.

Awalnya saya menjalani kenyataan ini dengan tegar. Menghadapinya sendirian terasa lebih mudah buat saya namun ketika orang lain mulai terlibat malah terasa lebih berat. Ada kekecewaan ketika pada saat tertentu mereka tidak merespon seperti yang saya harapkan. Walhasil, ketakutan saya dalam menghadapi penyakit ini bercampur-baur dengan perasaan kecewa, sedih, marah dsb. Pendek kata, emosi saya menjadi tak stabil. Pikiran-pikiran ngawur pun mulai berseliweran, mulai dari keinginan bunuh diri sampai meragukan keberadaan Tuhan. Tapi berkali-kali saya berusaha menafikan bisikan-bisikan jahat tersebut. Saya pun berulang kali mengingatkan diri saya sendiri bahwa Allah telah begitu menyayangi saya, betapa banyak rahmat dan pertolongan-Nya untuk saya selama ini.

Saat itu, saya merasa takut sekali! Saya takut kalau sampai saya tergelincir menuruti hawa nafsu saya dan bisikan-bisikan setan tersebut. Saat itu, saya berdoa dan memohon agar saya diberi kekuatan untuk tetap istiqomah dalam Islam.

Di tengah emosi yang tak stabil, ada sebuah kejadian yang akhirnya membuat saya lepas kendali sehingga saya  pun membuat kesalahan fatal dan dosa besar. Tetapi kejadian itu, Alhamdulillah sekaligus menjadi titik balik munculnya kesadaran saya. Kejadian itu pun membuat saya kembali memaknai ulang kalimat “Saya + Tuhan = Cukup.” Saya kini memaknai kalimat tersebut dengan seutuh-utuhnya kesadaran bahwa manusia sebagai mahluk yang lemah dan tak berdaya yang hanya karena rahmat dan kasih sayang-Nyalah manusia dapat hidup. Kesadaran yang disertai kepasrahan untuk menggantungkan hidup kita hanya kepada Sang Khalik, Penguasa alam semesta dan Penggenggam hidup dan matinya manusia. (end)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s