Let’s Have a Balance Life!

overwhelmedPernahkah kamu merasa “overwhelmed”? Lantaran hidup diburu oleh berbagai target, tenggat dan capaian.

Saya pernah.

Bekerja sebagai wirausahawan telah mengubah pola pikir, kebiasaan dan mentalitas saya sehingga terbiasa bekerja dengan target, tenggat dan capaian. Awalnya semua terasa mengasyikan, menantang dan menggairahkan. Nyaris 24 jam waktu saya dihabiskan untuk pekerjaan. Mulai dari day to day operational sampai inovasi pengembangan bisnis. Porsinya kira-kira begini: 8 jam waktu untuk istirahat, 2 jam waktu untuk bersantai dan belajar, 13.5 jam waktu untuk bekerja dan 30 menit waktu untuk ibadah.

Hmmm… Kalau dipetakan seperti ini tampak jelas sekali betapa tidak adilnya saya dalam mempergunakan waktu dan umur saya.

Pekerjaan memang telah membelenggu hidup saya selama enam tahun belakangan. Bahkan intensitasnya meningkat seiring perkembangan bisnis saya. Ada saat-saat dimana saya merasa kelelahan dan nyaris overwhelmed dengan segala kesibukan pekerjaan yang susul-menyusul itu. Tapi saya selalu berpikir, “Tenang, nanti akan ada waktunya saya bisa bersantai-santai. Namanya juga masih merintis.” Tapi apa iya nanti setelah bisnis lebih maju saya bisa lebih santai?

Dulu, ketika pertama kali merintis bisnis sebagian besar waktu saya memang habis untuk memikirkan pekerjaan. Setelah saya berhasil membangun sistem perusahaan, lambat-laun kesibukan saya mulai berkurang. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Saya lantas mulai berekspansi pada bidang usaha lain sehingga siklus pun berulang. Saya kembali disibukan dengan segala urusan start-up bisnis saya yang baru. Jadi pemikiran saya soal nanti bisa lebih santai itu tak terbukti. Pada bisnis ada semacam candu yaitu dorongan kuat untuk berekspansi terus dan terus. Pada titik ini, saya mulai merasakan overwhelmed. Tapi, toh, itu tak membuat saya berhenti. Sampai akhirnya penyakitlah yang menghentikan saya.

Kondisi inilah yang membangunkan kesadaran saya soal pentingnya memiliki hidup yang seimbang. Janganlah mendzalimi diri sendiri. Segala sesuatu ada bagian dan haknya masing-masing. Alokasi waktu yang adil seharusnya 8 jam untuk bekerja, 8 jam beristirahat dan 8 jam beribadah.  Dalam kasus saya maka solusinya jelas yaitu mengurangi waktu bekerja dan menambahkannya pada pada waktu beribadah. Tapi 8 jam beribadah itu kira-kira ngapain aja, ya? Selama ini, saya shalat lima waktu cuma menghabiskan waktu tidak sampai 30 menit, kalau lah ditambah shalat-shalat sunnat paling cuma tambah 20 menit. Lalu mengaji, paling pol saya cuma sanggup 30 menit. Terus sisa 6 jam lagi apa?

Oalah! Gini nih contoh manusia yang beragama lantaran turunan orang tua.

Beribadah itu ada buanyak banget caranya, bukan cuma sekedar shalat, puasa, zakat, mengaji dan naik haji. Tapi ada juga dzikir alias mengingat Allah dan menuntut ilmu agama. Nah, dua terakhir ini yang sering dilupakan atau mungkin tidak disadari. Menuntut ilmu agama, kalau dijabanin dengan sungguh-sungguh, mungkin tak akan cukup dilakukan sepanjang usia kita. Pun dengan berdzikir yang bisa dilakukan anytime-anywhere. Nah, kalau begini maka waktu 8 jam itu jadi terasa masuk akal kan? 🙂

Sepertinya selama ini saya telah tertipu oleh dunia sebab ada tiga ciri-ciri manusia yang tertipu oleh dunia yaitu kelelahan tiada habisnya, kesedihan tak berkesudahan dan kegelisahan yang terus mengikuti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s