Pembantaian Tengah Malam

aurora
Lelaki bersenjata itu terus memuntahkan ratusan peluru ke arah ratusan penonton yang sedang menyaksikan film sekuel terakhir Trilogi Batman, “The Dark Knight Rises” di Bioskop Aurora, Colorado AS. Ia berlagak layaknya Joker yang hendak menghabisi musuh-musuhnya, membunuh tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Apa yang membuat pelaku melakukan aksi brutal tersebut? Apakah ini hanyalah kegilaan yang tak memerlukan alasan ataukah ada motif tertentu?

****

James Holmes memutar tombol pengatur suara tape di kamar apartemennya mendekati maksimal. Ia tak hirau jika hingar-bingar suara musik bisa mengganggu para penghuni apartemen lainnya yang tengah tertidur lelap. Padahal saat itu sudah menjelang tengah malam. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi menonton midnight show film “The Dark Knight Rises “.

Holmes memang penggemar serial superhero terutama Batman, sehingga ia tentu saja tak akan melewatkan pertunjukan perdana film tokoh idolanya tersebut yang malam ini akan diputar di Bioskop Aurora. Kamarnya pun dipenuhi aneka poster dan aksesori superhero bertopeng tersebut.

Menjelang tengah malam, 20 Juli 2012, Bioskop Aurora di Colorado, Amerika Serikat tampak dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan tayangan perdana sekuel terakhir dari Trilogi Batman karya Christopher Nolan. Holmes salah satunya. Setelah membeli karcis, ia masuk ke dalam ruang pertunjukan teater sembilan dan duduk di barisan terdepan, sedangkan kursi-kursi di deretan atas sudah nyaris terisi penuh. Sementara itu, pada salah satu kursi di deretan lainnya, Louis Duran juga merasa sama antusiasnya. Malam itu, ia sengaja melewatkan pertandingan basket bersama teman-temannya demi bisa menyaksikan penayangan perdana film Batman terbaru.

Pukul 00.05 film dimulai. Adegan aksi pembebasan tahanan di atas pesawat dengan teknik pengambilan gambar yang mumpuni segera mengundang decak kagum penonton. Menit demi menit berlalu, Duran dan lebih dari 400 penonton yang berada dalam teater pun semakin larut menyaksikan scene-scene dramatis besutan Nolan.

Setengah jam kemudian, dari arah pintu keluar, sekonyong-konyong muncul sesosok lelaki dalam balutan pakaian serba hitam, mengenakan helm pelindung kepala dan masker penutup wajah. Tak cuma itu, tubuhnya pun dibungkus dengan celana dan rompi anti peluru berikut sarung tangan yang juga berwarna hitam. Sebagian pengunjung menduga ini adalah kejutan yang disiapkan khusus oleh pihak studio demi kepentingan promosi. Namun tiba-tiba lelaki itu melemparkan dua kontainer kaleng yang mengeluarkan asap tebal. Asap membumbung memenuhi ruangan sehingga mengaburkan pandangan, disusul bunyi alarm penanda kebakaran yang meraung-raung. Duran merasakan matanya perih, kulit dan tenggorokannya gatal.

Lalu tiba-tiba terdengar bunyi tembakan mengarah ke atap ruangan teater yang dilanjutkan dengan tembakan beruntun mengarah ke deretan bangku penonton. Seketika itu juga keadaan berubah kacau, suara jerit ketakutan dan orang-orang panik berlarian mencari perlindungan. Dan dengan tenang serta tanpa belas kasihan, lelaki itu terus memuntahkan ratusan peluru dari senapan laras panjangnya ke udara. Sebagian besar diantaranya mengenai langit-langit, dinding dan kursi-kursi namun cukup banyak yang melukai para pengunjung.

Kejadiannya berlangsung begitu cepat, Duran masih duduk di kursinya ketika ia tiba-tiba merasakan sebuah hantaman keras di kepalanya dan diikuti rasa panas yang luar biasa. Sedetik kemudian, ia merasakan tangannya seperti tertebas dan tahu-tahu darah segar telah mengucur deras dari kepala dan tangannya. Rupanya ia tertembak. Duran pun bergegas menyelamatkan diri dan berlari sekuat tenaga menuju ke arah tangga. Desingan suara peluru masih memenuhi ruangan, beberapa diantaranya mengenai dada dan kaki Duran hingga menyebabkan ia terjatuh. Beruntung salah seorang pengunjung menyelamatkannya hingga ia bisa keluar dari ruangan dengan selamat meski dengan tubuh bersimbah darah.

Pukul 00.39, kantor kepolisian setempat menerima panggilan darurat mengenai peristiwa penembakan di Bioskop Aurora. Dalam waktu kurang dari dua menit, polisi tiba di lokasi dan segera melakukan pengamanan.

Mengaku Sebagai Joker

Polisi bergerak cepat mengamankan lokasi dan menyelamatkan para korban. Stephen Redfern, petugas kepolisian yang pertama tiba di lokasi, memutuskan tidak menunggu mobil ambulans melainkan langsung mengirimkan para korban ke rumah sakit menggunakan mobil patroli. Belasan orang diketahui tewas di tempat, kebanyakan berusia dua puluhan tahun, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Sementara sebagian petugas berupaya menyelamatkan para korban, sebagian lainnya sigap mengejar pelaku penembakan. Dalam hitungan menit, polisi berhasil menangkap tersangka pelaku yang berada di sebuah mobil yang diparkir di belakang halaman bioskop. Pelaku yang mengecat rambutnya dengan warna merah, seperti tokoh Joker dalam film Batman itu, tidak berusaha kabur ataupun melawan. Kepada polisi ia pun mengaku bernama Joker. Belakangan, polisi mengidentifikasinya sebagai James Holmes, pemuda berusia 24 tahun, yang tinggal di sebuah apartemen satu kamar di Paris Street, Colorado. Kepada polisi, Holmes mengaku bahwa ia telah merakit bahan peledak di apartemennya sesaat sebelum ia pergi ke bioskop. Malam itu juga, polisi segera mengevakuasi seluruh penghuni apartemen termasuk lima gedung lain yang berada di sekitarnya.

Keesokan paginya, polisi melakukan penyisiran di apartemen tempat tinggal Holmes dan menemukan bom rakitan aktif yang diletakan persis di depan pintu masuk apartemen. Sementara itu, di dalam kamar apartemen Holmes, polisi menemukan 30 buah granat rakitan dan 40 liter bensin.

Tak ada yang menyangka kalau pemuda yang sehari-harinya dikenal pendiam itu merupakan dalang aksi penembakan brutal semalam yang menewaskan 12 orang dan menyebabkan 70 lainnya luka-luka.

Holmes tercatat sebagai mahasiswa Ph.D jurusan neuroscience di University of Colorado Anschutz Medical Campus sejak Juni 2011. Berkat prestasinya, ia menerima dua beasiswa senilai hampir US $50.000 dari National Institute of Health dan University of Colorado. Prestasinya akademis Holmes memang tergolong istimewa. Selepas SMA, ia melanjutkan ke University of California dan merupakan salah satu lulusan terbaik dengan IPK 3,949. Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan bergengsi seperti Phi Beta Kappa dan Golden Key. Namun menginjak tahun 2012, prestasi akademis Holmes menurun dan ia gagal dalam ujian komprehensif trimester di kampusnya. Kegagalan demi kegagalan terus merundung Holmes. Dalam salah satu ujian lisan yang menentukan di awal Juni 2012, Holmes lagi-lagi mendapatkan nilai buruk. Tiga hari kemudian, ia dikeluarkan dari kampus tanpa penjelasan apapun.

Holmes mengalami depresi berat sampai-sampai ia harus mengunjungi tiga psikiater berbeda di University of Colorado, salah seorang diantaranya yaitu Dr. Lynne Fenton yang menyatakan bahwa Holmes sempat menyampaikan keinginannya untuk bunuh diri. Dua minggu sebelum aksi penembakan, Holmes mengirimkan pesan singkat ke sejumlah temannya menanyakan perihal gangguan kejiwaan “dysphoric mania” sekaligus memperingatkan agar mereka menjauh darinya. “Jauhi saya, karena saya kabar buruk untukmu,” begitu tulisnya.

Empat bulan sebelum melakukan aksinya, Holmes diketahui membeli 6.000 butir peluru tajam dan 350 amunisi melalui internet dan dua bulan kemudian ia memberanikan diri membeli sejumlah senjata api di toko senjata di Aurora dan Denver. Awalnya, ia membeli pistol Glock 22. Seminggu kemudian, ia membeli senjata laras panjang Remington 870 Express Tactical lalu beberapa hari sesudahnya, tepatnya beberapa jam setelah Holmes dinyatakan gagal dalam ujian lisan di kampusnya, ia membeli senjata semi otomatis Smith & Wesson M&P15. Sebulan kemudian, ia menambah koleksi senjatanya dengan membeli satu lagi pistol Glock 22. Semua senjata tersebut ia beli secara legal dan telah melewati pemeriksaan sesuai prosedur.

Sebulan sebelum kejadian berdarah di Bioskop Aurora, Holmes mengirim aplikasi pendaftaran klub pecinta senjata api Byres di Colorado melalui email. Pemilik klub, Glenn Rotkovich, sempat beberapa kali menghubungi Holmes melalu telepon namun tidak sekalipun diangkat. Ia hanya mendengar suara Holmes melalui mesin penjawab yang menurut Rotkovich terdengar seperti suara Joker dalam film Batman. “Suaranya parau dan menakutkan. Ia juga berbicara tidak jelas dan melantur,” kata Rotkovich.

Duka Para Korban

Ian Sullivan duduk termenung di depan pusara anak perempuannya. Di dekat batu nisan, ia menemukan selembar kartu ucapan ulang tahun dari seseorang bernama Mike Hawkins.

“Saya tak berada di sana untuk melindunginya,” batin Sullivan penuh penyesalan. Dan peristiwa mengerikan dua tahun silam yang menimpa puterinya itu pun kembali memenuhi kepala Sullivan.

Lewat tengah malam, pada tanggal 20 Juli 2012, Sullivan dikejutkan oleh panggilan telepon yang mengabarkan perihal penembakan anak dan mantan isterinya. Anaknya, Veronica, yang masih berusia enam tahun dikabarkan sekarat. Ketika ia tiba di rumah sakit, rupanya nyawa Veronica sudah tak tertolong sedangkan mantan isterinya, Ashley Moser, selamat namun mengalami kelumpuhan.

Belakangan, Sullivan mengetahui bahwa anaknya sempat diselamatkan oleh seorang polisi bernama Mike Hawkins, lelaki itu menggendong Veronica yang tengah sekarat ke luar dari gedung bioskop. Menurut Mike, meski tubuh gadis kecil itu tak bergerak dan berlumuran darah, saat itu ia masih bisa merasakan detak jantungnya.

Sullivan ingin menyampaikan rasa terimakasihnya langsung pada Mike, keduanya bertemu di kantor polisi setempat di Aurora. “Bagian terberat dari kejadian ini adalah perasaan tak berdaya dan kenyataan saya tak bisa menyelamatkan Veronica,” kata Sullivan kepada Mike.

“Saya mengerti kesedihan Anda karena saya juga seorang ayah,” kata Mike bersimpati.
Pasca kejadian itu, Mike kerap mengirimkan pesan singkat secara rutin pada Sullivan untuk sekedar menanyakan kabar dan mengirimkan kartu ucapan ulang tahun setiap tahun ke makam Veronica.

Hal tersebut membuat Sullivan merasa kalau ada orang lain yang masih peduli dan bisa memahami kesakitannya. “Itu amat membantu,” kata Sullivan. “Rasanya menentramkan mengetahui bahwa ada orang lain yang peduli.”
Sementara ayah Sullivan, Robert Sullivan, mengatakan anaknya berusaha menenggelamkan dirinya dalam kesibukan agar ia bisa melupakan peristiwa tersebut namun itu tak berhasil. “Ada kemarahan terpendam dan penderitaan amat sangat yang sulit disembuhkan,” kata Robert Sullivan. “Itu akan menghantuinya seumur hidup.”

Selain Veronica, ada sebelas korban tewas lainnya diantaranya dua petugas kebersihan bioskop, seorang ibu, jurnalis dan pasangan muda yang tengah merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Sejumlah korban tewas lainnya terkena tembakan ketika melindungi keluarga dan orang-orang yang mereka cintai.

Hukuman Mati VS Kegilaan

Holmes ditahan di Arapahoe Detention Center dengan pengawasan khusus bagi terpidana yang memiliki potensi bunuh diri dan ditempatkan dalam ruang isolasi.

Persidangan perdana kasusnya digelar di Pengadilan Centennial, Colorado pada 23 Juli 2012. Holmes hadir di persidangan masih dengan rambut merahnya, ia terlihat linglung dan bingung. Sepanjang persidangan ia hanya menunduk dan tak berkata sepatah kata pun.

Pada persidangan lanjutan, jaksa mendakwa Holmes dengan dakwaan berlapis yakni pembunuhan tingkat pertama, percobaan pembunuhan, kepemilikan bahan peledak dan tindak kekerasan. Untuk setiap satu korban tewas, Holmes dikenakan satu dakwaan pembunuhan berencana dan satu dakwaan pembunuhan akibat melakukan kelalaian fatal. Jaksa menduga aksinya Holmes tersebut didorong oleh kekecewaan dan kemarahan lantaran mimpi masa depan akademisnya berujung kegagalan.

Sementara itu, pihak Holmes melalui penasehat hukumnya mengakui bahwa kliennya memang bertanggung jawab atas peristiwa penembakan di Bioskop Aurora namun hal itu disebabkan oleh gangguan kejiwaan dan perilaku psikotik yang diderita Holmes. Jika juri setuju dengan pembelaan tersebut maka Holmes akan dibebaskan dari segala dakwaan dan dikirim ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan. Namun jaksa menolak argumen kegilaan itu dan meminta juri menyatakan Holmes bersalah atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana dengan tuntutan hukuman mati.

Tuntutan hukuman mati versus pembelaan dengan dasar kegilaan, membuat baik jaksa maupun tim penasehat hukum harus bekerja keras menyiapkan bukti-bukti yang memiliki dasar hukum kuat untuk menunjang argumen masing-masing. Untuk itu, Holmes telah menjalani dua kali pemeriksaan kondisi kejiwaan, yang diperintahkan oleh pengadilan, yang menghasilkan bukti-bukti berupa 85.000 lembar laporan, 366 CD dan 282 DVD.

Sementara itu, dua tahun pasca kejadian, orang tua Holmes menulis surat terbuka yang kemudian dimuat oleh surat kabar Denver Post. Robert dan Arlene Holmes menjelaskan kondisi Holmes yang menurut mereka mengalami gangguan kejiwaan serius sehingga seharusnya dibebaskan dari tuntutan hukuman mati. “Kami meyakini putusan hukuman mati salah secara moral, apalagi atas alasan kegilaan,” tulis Robert dan Arlene. “Kami mencintai anak kami, dan akan selalu mencintainya, dan kami tak ingin ia dihukum mati.” Surat terbuka tersebut dengan cepat mengundang kontroversi di masyarakat, ada yang mendukung namun ada pula yang menentang.

Salah satu yang menentang adalah Marcus Weaver, seorang korban penembakan yang selamat namun seorang kerabatnya ikut tewas dalam kejadian di Bioskop Aurora. Dalam surat terbukanya, yang juga dimuat di surat kabar Denver, Weaver menyatakan telah memaafkan perbuatan Holmes namun menurutnya pemuda itu masih berhutang penjelasan kepada warga Colorado atas aksi mengerikan di Bioskop Aurora yang tampaknya telah ia rancang sedemikian rupa. Weaver menambahkan kasus Holmes bukan semata-mata soal pembelaan hukum tapi menyangkut kontroversi terhadap sejumlah aturan mendasar dalam hukum Amerika seperti pro kontra terkait tuntutan hukuman mati, pembelaan atas dasar kegilaan dan kepemilikan senjata api secara bebas. Pada bagian akhir, Weaver menutup suratnya dengan sindiran halus kepada orang tua Holmes yang menuntut hak hidup bagi putera mereka. “Jika Holmes ingin hidup maka tidak seharusnya ia mengambil hidup orang lain,” kata Weaver. “Pikirkan para korban, apakah mereka mendapatkan haknya untuk hidup?”

Namun di lain pihak, dukungan terus mengalir bagi keluarga Holmes. Melalui petisi online Change.org, dalam waktu semalam sejak diumumkan, telah terkumpul setidaknya 1,2 juta dukungan dari warga Amerika Serikat yang menolak hukuman mati bagi Holmes.

Kasus James Holmes sendiri telah melewati belasan kali persidangan, dengan beberapa kali penundaan, hingga berlanjut sampai tahun 2015. Pada 20 Januari 2015 rencananya akan dimulai proses pemilihan para juri yang dijadwalkan akan memberikan keputusannya pada Mei 2015. (end)

Keterangan:
Versi penyuntingan dari tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s