Terapi Kanker Payudara, Jangan Coba-Coba

2013-BCA-Early-Detection-LogoKanker payudara merupakan momok bagi setiap perempuan. Bukan cuma lantaran risiko kematiannya, namun juga bayangan pengobatannya yang tidak nyaman. Kondisi itu yang membuat pasien kanker payudara mencoba peruntungan dengan memilih pengobatan alternatif. Padahal keputusan tersebut kerap berakibat fatal.

*****

Kokom, 52 tahun, duduk gelisah di ruang tunggu RSUD Bogor, menunggu panggilan pemeriksaan biopsi. Setahun lalu, ada benjolan di payudara kirinya. Namun lantaran takut dioperasi, ia menolak pengobatan medis dan memilih pengobatan alternatif menggunakan air doa dan pijat dengan biaya sukarela. Ia tertarik mencoba lantaran mendengar banyak cerita kesembuhan pasien dengan berbagai penyakit berkat terapi tersebut.

Awalnya, benjolan di payudara Kokom cuma sebesar kacang tanah tapi lama-kelamaan membesar hingga mengelilingi bagian puting payudaranya. Setelah setahun berobat tanpa perbaikan, akhirnya Kokom pun memutuskan memeriksakan diri ke dokter.

Sementara itu, di dalam ruang periksa, dr. Bayu Brahma Sp.B (K) Onk. tengah bersiap melakukan biopsi terhadap Kokom guna mendapatkan sampel jaringan benjolan di payudaranya. Menurut ahli bedah onkologi yang juga praktik di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat ini, biopsi merupakan prosedur awal yang sebaiknya dilakukan pada setiap benjolan. “Jangan langsung main operasi,” tutur dia.

Menurut Bayu, pemeriksaan biopsi penting untuk mengetahui diagnosa penyakit dan menentukan langkah-langkah pengobatan selanjutnya, mengingat opsi pengobatan kanker payudara untuk setiap orang berbeda-beda. Biopsi pun sebaiknya sebisa mungkin dilakukan tanpa merusak jaringan yang ada.

Tidak semua pasien kanker payudara harus menjalani operasi pengangkatan payudara (mastektomi) maupun pengangkatan kelenjar getah bening, bisa cuma diambil benjolannya saja. Tapi itu hanya bisa dilakukan jika pasien datang dalam kondisi jaringan yang belum dirusak, itu sebabnya biopsi menjadi penting. “Ada pasien saya yang sebetulnya cukup diambil benjolannya saja, tapi karena sudah dioperasi dokter lain dengan kerusakan jaringan yang luas maka ia terpaksa dimastektomi,” tutur Bayu.

Usai menjalani pemeriksaan biopsi, Kokom menyesali keputusannya menjalani pengobatan alternatif. “Kalau tahu begini, dari dulu saja saya berobat ke dokter,” kata Kokom murung.

Kokom tidak sendirian, ada begitu banyak pasien kanker payudara yang memilih jalur pengobatan alternatif. Seperti halnya Rina, 46 tahun, yang menempuh terapi energi. Ia menolak pengobatan medis karena tak mau payudaranya diangkat setelah didiagnosa terkena kanker payudara stadium 2.

Rina tertarik mencoba terapi energi lantaran pengobatan tersebut tengah booming dan mendapat liputan luas dari media massa. Padahal biaya yang dikeluarkan sampai jutaan rupiah. Sayangnya, memasuki bulan keenam masa pengobatan, tumbuh benjolan baru di ketiaknya sementara benjolan di payudaranya semakin membesar.

Rina sempat gamang apakah akan melanjutkan terapi atau berhenti. Belum lagi, beberapa temannya yang juga menjalani terapi yang sama ternyata mengalami penyebaran sel kanker ke organ lain. Akhirnya, setelah setahun lebih menjalani terapi alternatif, ia pun memutuskan menjalani operasi pengangkatan payudara yang diikuti dengan pengobatan kemoterapi dan terapi hormonal.

Bayu mengingatkan agar pasien kanker berhati-hati dalam memilih pengobatan alternatif lantaran kebanyakan pengobatan tersebut belum melewati tahapan pengkajian ilmiah dengan prosedur yang baik. Dia meyakini pengobatan medis saat ini merupakan terapi terbaik bagi pengobatan kanker payudara sebab telah melalui uji penelitian yang valid dan terbukti efektivitas pengobatannya.

“Jika ada pasien kanker yang sembuh karena alternatif harus dipertanyakan lagi apa betul dignosanya kanker? Jangan-jangan benjolannya cuma tumor jinak atau kista,” kata dia. Maka Bayu menekankan, pasien harus bersikap kritis dan hati-hati dalam memilih terapi pengobatan kanker payudara, termasuk pengobatan medis sekalipun.

Stadium dini lebih baik
Kanker payudara saat ini merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan dan jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Sayangnya, sejak sepuluh tahun lalu, belum banyak perubahan berarti menyangkut kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini. Buktinya di RS Kanker Dharmais, 60%- 70% pasien kanker payudara datang terlambat. Padahal salah satu kunci keberhasilan pengobatan adalah penanganan dalam stadium dini.

Sel kanker pada pasien kanker stadium 1 dan 2, masih terlokalisasi di payudara sehingga harapan hidup pasien mencapai 80%-90% pada lima tahun pertama. Sementara pada stadium 3 turun 40%-50% dan pada stadium 4 nilai rata-rata harapan hidupnya cuma dua tahun. “Pada stadium 4 sel kanker sudah mengenai sejumlah organ vital dan sangat sulit untuk menghilangkan total penyebaran di organ lain,” kata Bayu.

Kondisi tersebut seperti yang dialami Julie, 36 tahun. Semula ia didiagnosa stadium 3. Dokter menyarankan pengangkatan payudara, namun lantaran tidak diizinkan suaminya, dia tempuh jalur alternatif dengan mengonsumsi obat-obatan herbal. Tiga bulan, malah tumbuh benjolan baru di ketiak dan timbul luka di payudara. Menginjak bulan keenam, muncul batuk-batuk parah.

Rupanya sel kanker telah menyebar ke paru-paru dan kanker payudaranya masuk stadium 4. Julie akhirnya melakukan kemoterapi di rumah sakit di luar negeri sebanyak enam kali. Namun kondisinya terus menurun sehingga akhirnya ia meninggal dunia.

Menurut Bayu, beberapa terapi alternatif yang telah melewati uji ilmiah yang baik bisa saja digunakan sebagai terapi komplementer tetapi tidak boleh menjadi pengobatan utama. Meski begitu perlu ditelaah lagi tentang efektivitas terapi alternatif tersebut. “Misal ada herbal yang diklaim dapat menyembuhkan kanker tapi sampel penelitiannya cuma tiga puluh orang. Tentu tidak bisa dianggap menggambarkan kondisi pasien kanker pada populasi,”tutur Bayu.

Pengobatan multimodalitas
Dunia kedokteran telah meneliti pengobatan penyakit kanker payudara sejak ratusan tahun lalu dan telah banyak kemajuan. Pengobatan diketahui memberi harapan hidup yang lebih baik jika menggabungkan beberapa pengobatan yang melibatkan berbagai disiplin ilmu. “Harapan hidup pasien semakin tinggi jika tindakan pembedahan diikuti pengobatan tambahan seperti kemoterapi atau terapi hormonal,” kata Bayu.

Semakin dini ditemukannya kanker, opsi pengobatannya semakin banyak dan efek sampingnya lebih ringan. Pada stadium 1 dan 2, opsi pertama adalah pembedahan diikuti dengan pengobatan tambahan seperti kemoterapi, radiasi atau terapi hormonal. Jika kankernya sangat dini, amat dimungkinkan operasi tanpa perlu mengangkat payudara.

Sementara pada stadium lanjut dan sel kanker sudah menyebar ke organ lain, pembedahan bukan lagi opsi pertama, melainkan terapi sistemik seperti kemoterapi atau terapi hormonal.

Selain pengobatan medis, pengobatan kanker payudara juga harus diupayakan dari dalam tubuh pasien sendiri dengan cara meningkatkan imunitas tubuhnya. Menurut Bayu, pasien kanker payudara yang memiliki imunitas baik terbukti memiliki harapan hidup yang lebih tinggi.

Caranya dengan menjalankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat, menghindari emosi negatif dan berolahraga teratur. “Berolahraga 30 menit sampai satu jam tiap hari dapat menurunkan risiko kanker payudara cukup signifikan,” kata Bayu.

Membangun sistem imun yang baik amat penting mengingat penyakit kanker bersifat kronis dengan risiko kekambuhan. Meski risiko kekambuhan semakin kecil setelah lima tahun pertama, nyatanya ada saja pasien yang telah melewati 20 tahun, kembali kambuh. Guna mendeteksi adanya kekambuhan maka pasien wajib melakukan pemeriksaan berkala dengan cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan dan pemeriksaan mammografi atau USG payudara setiap tahun.

Lalu, bagaimana dengan nasib Kokom? Kabarnya, ia harus menjalani operasi pengangkatan payudara kirinya dan kemoterapi. Ya, mungkin itu yang harus ditanggung jika terapi awalnya coba-coba.

Lakukan SADARI untuk Pendeteksian Dini
Pemeriksaan payudara sudah seharusnya dilakukan setiap perempuan. Cara paling sederhana adalah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara teratur pada hari kesepuluh setelah hari pertama menstruasi.

Berikut langkah-langkah:
1. Lihat payudara Anda di cermin dengan bahu lurus dan lengan di pinggang, perhatikan apakah terdapat perubahan ukuran, bentuk dan warna payudara yang berbeda dari biasanya.
2. Angkat kedua lengan ke atas dan cari perubahan yang sama.
3. Perhatikan apakah ada cairan yang keluar dari putting payudara.
4. Periksa payudara saat Anda berbaring. Gunakan tangan kanan untuk memeriksa payudara kiri dan sebaliknya. Raba permukaan payudara dengan lembut menggunakan tiga ujung jari dengan gerakan melingkar. Tekan seluruh payudara dari atas ke bawah, dari satu sisi ke sisi lain dan dari ketiak sampai ke tengah payudara. Cara ini pun bisa dilakukan sambil mandi ketika kulit basah dan licin agar lebih mudah.

Selain melakukan SADARI, setiap perempuan berusia di atas 40 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan mammografi atau USG payudara setiap tahun.

Apa Penyebab Kanker Payudara?
Penyebab penyakit kanker payudara sendiri hingga saat ini belum diketahui. Dunia kedokteran baru bisa memprediksi faktor resikonya yang antara lain menyangkut:
– Faktor genetik
– Konsumsi alkohol
– Konsumsi makanan berlemak dan tinggi kolesterol
– Paparan hormon estrogen dalam jangka waktu lama, seperti pada perempuan yang tidak melahirkan atau menyusui, perempuan yang mengalami menstruasi sebelum umur 10 tahun dan perempuan mengalami menopause di atas 55 tahun
– Perempuan yang menggunakan pil atau suntik KB.

Keterangan: Tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi Juni 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s