A Journal of “A Hundred Million Dreams”

pp novBermula pada 6 Februari 2015, memantapkan hati untuk menulis novel mengenai penyakit kanker (payudara). Misinya adalah membangun kesadaran publik terhadap penyakit tersebut dan menyebarluaskan informasi terkait gaya hidup sehat. Ini seperti projek sosial pribadi 🙂

Sepanjang perjalanan penulisan novel saya mendapatkan sejumlah insight terkait teknik-teknik penulisan, mood yang naik turun, writers block, pencerahan dsb. Semuanya saya tuliskan dalam bentuk jurnal.

Jadi proses penulisan novel ini saya ibaratkan seperti berlayar: Memulainya dengan bersemangat, mengalami mabuk laut dan mual-mual hingga rasanya ingin kembali saja, tapi menikmati keseluruhan prosesnya.

* Your passion is your fuel of life
Saya mencintai dunia penulisan dan kecintaan saya itu yang membuat saya terus bergerak, meski terkadang melambat, tapi saya nggak akan berhenti sebelum mencapai finish. Baca lebih lanjut

Iklan

Let’s Have a Balance Life!

overwhelmedPernahkah kamu merasa “overwhelmed”? Lantaran hidup diburu oleh berbagai target, tenggat dan capaian.

Saya pernah.

Bekerja sebagai wirausahawan telah mengubah pola pikir, kebiasaan dan mentalitas saya sehingga terbiasa bekerja dengan target, tenggat dan capaian. Awalnya semua terasa mengasyikan, menantang dan menggairahkan. Nyaris 24 jam waktu saya dihabiskan untuk pekerjaan. Mulai dari day to day operational sampai inovasi pengembangan bisnis. Porsinya kira-kira begini: 8 jam waktu untuk istirahat, 2 jam waktu untuk bersantai dan belajar, 13.5 jam waktu untuk bekerja dan 30 menit waktu untuk ibadah.

Hmmm… Kalau dipetakan seperti ini tampak jelas sekali betapa tidak adilnya saya dalam mempergunakan waktu dan umur saya. Baca lebih lanjut

Don’t Take It Personally

Ini sekedar sharing. Perenungan dari pengalaman pribadi, tapi kayanya bisa ditarik dalam konteks masyarakat bahkan negara. Weitsss… *lebay haha… Tapi serius loh! Ini cerita soal kepemimpinan.

Sejak memutuskan berwirausaha, lima tahun silam, aku otomatis menjadi pemimpin atas sejumlah karyawan. Setahun lalu, aku juga diserahi tanggung jawab memimpin bisnis keluarga. Di sini, meski secara struktural aku berada di puncak tapi secara hirarkis keluarga aku ini paling bontot. Sehingga para “bawahanku” adalah orang tua dan kakak-kakakku sendiri.

Urusan memimpin karyawan bukanlah hal mudah, dibutuhkan kesabaran, komitmen dan konsistensi. Kuncinya pada komunikasi dan keteladanan, sedangkan alatnya adalah reward dan punishment. Pemimpin yang baik harus mahir menggunakan dua alat tersebut terhadap para bawahannya. Cepat menghargai prestasi dan tegas menghukum kesalahan. Ini juga yang kugunakan terhadap para karyawanku. Tentu saja bentuk penghargaan tidak selalu berupa materi, seringkali sekedar pujian dan ucapan selamat. Pun hukuman bukan berarti pemecatan atau potong gaji, bisa sekedar teguran. Baca lebih lanjut

Mengasah Mentalitas Wirausaha

Bekerja menjadi wirausahawan, seperti sekarang, tidak pernah aku angankan. Mimpiku dahulu menjadi reporter televisi nasional, dan Alhamdulillah kesampaian. Lima tahun berkarir sebagai jurnalis, aku mencintai pekerjaan ini dengan sepenuh hati.  I think, I will always have a never ending passion on journalism. 

Menjadi jurnalis telah menempa diriku luar-dalam. Walaupun untuk urusan fisik aku seringkali keteteran:) Kini, bekerja sebagai wirausahawan, aku pun kembali mendapat tempaan di sana-sini. Sampai aku berkesimpulan bahwa pekerjaan ini menempa hampir semua kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi yang baik. Berlebihan?? Bisa jadi, jika kamu belum pernah mengalami dan menghayati jatuh-bangunnya berwirausaha.

Seorang wirausahawan dituntut memiliki sederet kualitas pribadi yang mumpuni. Itu kalau kamu mau jadi pengusaha yang sukses. Awal mula merintis bisnis, perlu mentalitas baja seperti keberanian, kerja keras, disiplin, keuletan dan kesabaran. Tanpa itu, dijamin kamu ngga akan bisa jadi pengusaha. Memulai usaha perlu keberanian, sebab di sini kamu akan menjumpai bermacam-macam resiko mulai dari penghasilan yang tak tentu, rugi, kena tipu, bangkrut atau dikejar-kejar debt collector karena hutang. Untuk tiga yang terakhir, syukurnya belum pernah kejadian sih 🙂

Setelah bisnismu mulai berjalan, segala kualitas tadi masih harus terus nempel sepanjang perjalanan karirmu sebagai pengusaha. Pasalnya bisnis selalu punya dua sisi mata uang: peluang dan resiko, untung dan rugi. Walhasil, segala mentalitas baja itulah yang akan membuat kamu bisa bertahan. Baca lebih lanjut