Otak Kanan Anak Dhuafa

Kebanyakan orang tua menilai kecerdasan anak dari aspek kemampuan otak kiri semata, seperti berhitung atau membaca, dan mengabaikan aspek kemampuan otak kanan seperti kreativitas dan seni. Namun anak-anak dhuafa di Taman Asuhan Qurrotunnada Bogor justru mendapatkan pembinaan kreativitas yang amat memadai sehingga bisa mengembangkan potensi mereka secara maksimal.

***

Bocah lelaki ini menyanyi dengan penuh percaya diri, suaranya mengalun merdu, jernih dan syahdu. Tepuk tangan dan sorak-sorai penonton pun mengiringi penampilan Bayu Anugerah, 10 tahun, pada acara pentas kreasi yang diadakan Taman Asuhan Qurrotunnada di Bogor, Jawa Barat.

Meski pementasan ini hanyalah acara internal, namun Bayu mempersiapkannya dengan bersungguh-sungguh. Ia berlatih keras, 4 sampai 5 jam setiap hari, selama sepekan. Bayu tak sendirian, masih ada 60-an anak lainnya yang juga tekun berlatih mempersiapkan atraksi. Baca lebih lanjut

Iklan

Mendidik Anak dengan Cinta

Banyak yang bilang cara membesarkan anak jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu. Itu ada benarnya. Tapi ada satu hal yang tak berubah, anak selayaknya tetap dibesarkan dengan cinta kasih tanpa syarat dan penerimaan seutuhnya.

***

Seorang ibu dalam sebuah mailing list di internet berkisah tentang pengalamannya membawa anaknya yang bernama Dika ke psikolog. Gara-garanya, menurut pihak sekolah, Dika tercatat sebagai anak bermasalah, padahal ia ditempatkan dalam kelas unggulan khusus anak berprestasi. Ia kerap terlihat murung dan melamun di kelas, prestasinya pun terus merosot.

Pemeriksaan psikologi membenarkan bahwa Dika memang anak yang cerdas, skor rata-rata kecerdasannya 147 alias amat cerdas. Namun kemampuan verbalnya “cuma” 115. Karena nilai yang jomplang itu maka psikolog menyarankan agar Dika menjalani tes kepribadian.

Hasilnya sungguh mengejutkan sang ibu. Rupanya masalah bukan ada pada diri si anak, melainkan ibu dan ayahnya. Baca lebih lanjut

Jangan Jadikan Tangisan Senjata Anak

Banyak orang tua dibuat kebingungan menghadapi anaknya yang begitu mudah menangis hanya karena sebab-sebab sepele. Namun tahukah Anda, hal itu sedikit banyak dipengaruhi oleh sikap Anda sendiri? Sikap orang tua yang salah dalam memberi perhatian dan menyikapi tangisan anak bisa menyebabkan anak menjadi cengeng.

***

Adelia, 4 tahun, menangis menjerit-jerit ketika ia tidak diperbolehkan bermain dan harus mandi. “Bibi nakal! Bibi nakal!!” teriaknya berulang-ulang. Sungguh bukan pekerjaan mudah menenangkan gadis cilik ini. Jika sedang teramat kesal, ia bahkan melempar dan membanting barang-barang. Baca lebih lanjut

Sehat dengan Tradisi Pernapasan Cimande

Jika Anda penggemar ragam olah tubuh dan pernapasan seperti Tai Chi, Waitankung ataupun Yoga, boleh jadi Anda akan tertarik mencoba Senam Hijaiyah yang berakar pada tradisi ilmu Cimande ini. Layaknya olah tubuh tradisi lainnya, senam ini juga mengusung filosofi kesehatan tradisi yang memandang manusia sebagai kesatuan utuh antara fisik, pikiran dan jiwa.

*****

Lelaki itu berdiri tegak dengan kedua tangan merapat di depan dada, kakinya dibuka melebar sedikit melebihi bahu, kemudian mengambil napas dalam sebanyak tiga kali. Kedua tangannya lantas dikembangkan dan diayun ke sisi kanan sembari menarik dan menghembuskan napas. Layaknya orang menari, tubuhnya pun ikut mengayun lembut dan perlahan mengikuti gerak tangannya. Sementara kedua kakinya menjejak kuat ke tanah dengan posisi kuda-kuda. Tak lama berselang, ia meninju kuat-kuat ke arah depan sambil bersuara lantang menyebut sebuah huruf Hijaiyah, “Zha!” sambil membuang napas.

Meski usianya sudah 63 tahun, Jatnika Nanggamihardja masih tampak bugar dan kuat. Gerak meninju, menangkis hingga kuda-kuda dilakukannya dengan mantap dan bertenaga. Tak heran, sebab selama puluhan tahun ia mendapat gemblengan ilmu bela diri tradisi Jawa Barat, Cimande. Baca lebih lanjut