Sebulir Iman

al-quranSaya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Hadits ini lantas menjadi semacam pedoman bagi saya dalam menjalani hidup. Terlebih ketika saya mulai menjalani pekerjaan sebagai wirausahawan maka prinsip itu makin melekat dalam benak saya karena sebagai pemilik usaha saya memiliki karyawan yang harus saya pikirkan kesejahteraannya.

Menjalankan bisnis dari nol dengan modal minim bukan proses mudah. Jatuh bangun dan jungkir-balik. Nyaris 24 jam otak saya cuma fokus berpikir soal bisnis, bisnis dan bisnis, lemari saya dipenuhi buku-buku bisnis tentang motivasi, marketing, SDM, manajemen, keuangan dsb. Hari-hari saya selalu disibukkan dengan upaya mengembangkan dan memajukan bisnis. Seiring bertumbuhnya bisnis, prinsip dalam hadits itu selalu saya pegang. Fokus saya adalah membuat bisnis saya maju agar bisa memberi manfaat yang lebih luas bagi sesama.  Walhasil, keberhasilan bisnis pun menjadi ukuran kesuksesan saya saat itu.

Tetapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa hadits tersebut hanya memiliki makna ibadah horisontal yakni hubungan dengan sesama manusia dan saya melupakan ibadah vertikal yakni hubungan dengan Tuhan. Baca lebih lanjut

Iklan

Saya + Tuhan = Cukup

spiritualitasKalimat “Saya + Tuhan = Cukup” ini saya kutip dari perkataan seorang motivator terkenal.  Pertama kali mendengarnya, saya langsung menyetujuinya. Sebagai manusia beriman maka saya mudah saja menerima input apapun terkait Kemahakuasaan Tuhan. Tapi, ya, begitu saja. Saya mendengar, saya mengerti maksudnya dan saya setuju.

Sampai saya mengalami suatu kejadian yang membuat saya betul-betul menghayati dan mengamini maksud dari kalimat tersebut. Kejadian yang membuat saya memaknai kalimat “Saya + Tuhan = Cukup” dalam perspektif yang berbeda. Baca lebih lanjut