Pembantaian Tengah Malam

aurora
Lelaki bersenjata itu terus memuntahkan ratusan peluru ke arah ratusan penonton yang sedang menyaksikan film sekuel terakhir Trilogi Batman, “The Dark Knight Rises” di Bioskop Aurora, Colorado AS. Ia berlagak layaknya Joker yang hendak menghabisi musuh-musuhnya, membunuh tanpa ampun dan tanpa belas kasihan. Apa yang membuat pelaku melakukan aksi brutal tersebut? Apakah ini hanyalah kegilaan yang tak memerlukan alasan ataukah ada motif tertentu?

****

James Holmes memutar tombol pengatur suara tape di kamar apartemennya mendekati maksimal. Ia tak hirau jika hingar-bingar suara musik bisa mengganggu para penghuni apartemen lainnya yang tengah tertidur lelap. Padahal saat itu sudah menjelang tengah malam. Ia sedang bersiap-siap untuk pergi menonton midnight show film “The Dark Knight Rises “.

Holmes memang penggemar serial superhero terutama Batman, sehingga ia tentu saja tak akan melewatkan pertunjukan perdana film tokoh idolanya tersebut yang malam ini akan diputar di Bioskop Aurora. Kamarnya pun dipenuhi aneka poster dan aksesori superhero bertopeng tersebut. Baca lebih lanjut

Kotak Hitam Penguak Misteri Jatuhnya Air France

Burung besi raksasa itu meluncur deras dari ketinggian, kecepatannya 3.300 meter/menit, lalu menghantam Samudera Atlantik. Kecelakaan pesawat Air France 447 yang menewaskan 228 penumpangnya itu tetap menjadi  misteri, dan baru terkuak dua tahun kemudian berkat penemuan black box pesawat. Faktor kalalaian manusia diyakini sebagai penyebab mendasar terjadinya kecelakaan.

***

Lucas Gagriano pulang ke kampung halamannya di Brasil setelah mendapat kabar perihal kematian ayahnya. Ia bekerja sebagai kru maskapai penerbangan Air France dan tinggal di Paris, Perancis selama dua tahun. Pemuda ini dikenal sebagai pribadi yang ceria, humoris, cerdas dan menguasai delapan bahasa asing. “Semakin banyak bahasa yang kau kuasai maka semakin banyak pula yang bisa kau dapatkan dalam hidup,” ujarnya.

Minggu, 31 Mei 2009, Lucas kembali ke Paris dengan menumpang pesawat Air France nomer penerbangan 447. Bersama Lucas, ada 215 penumpang lainnya yang mayoritas adalah warga negara Perancis, Brasil dan Jerman.  Pesawat tipe Airbus A330-202 itu lepas landas dari bandara Antonio Carlos Jobim, Rio de Janeiro pada  pukul 19.03 waktu Brazil atau 22.03 GMT.

Malam itu, ibundanya melepas kepergian Lucas sampai ke bandara. Namun siapa menyangka itu akan menjadi salam perpisahan terakhir bagi keduanya. Tidak  sampai dua pekan, ibunda Lucas harus kehilangan suami dan anaknya.

1 Juni 2009, media nasional Perancis digemparkan dengan berita hilangnya pesawat Air France 447. Dalam konferensi pers, CEO Air France, Pierre-Henri Gourgeon menyatakan  pesawat hilang kontak setelah memasuki wilayah badai dengan halilintar dan angin berputar berkecepatan tinggi di atas Samudera Atlantik. Ia meyakini cuaca buruk sebagai penyebab jatuhnya pesawat. “Pihak perusahaan akan memberikan yang terbaik bagi keluarga korban dan menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya,” ujar Pierre.

Pesan otomatis yang diterima dari pesawat, pukul 02.14 GMT, menunjukkan adanya kerusakan pada panel electric circuit. Menara pengendali lalu-lintas udara (ATC) Brasil, Afrika, Spanyol dan Perancis berupaya melakukan kontak dengan pesawat namun gagal. Baca lebih lanjut

Suntikan Kematian

Tujuh anak yang dirawat di klinik Dr. Kathleen Holland di Texas, Amerika Serikat secara misterius mengalami gangguan napas  dan gagal jantung dalam waktu hampir berdekatan. Dua di antaranya meninggal dunia. Apakah ini sekedar malapraktik atau aksi kriminal yang direncanakan?

***

Kota Kerrville di Texas, Amerika Serikat, tahun 1982, adalah kota kecil yang berpenduduk belasan ribu orang saja. Di sini, Dr. Kathleen Holland mencoba peruntungannya dengan membuka sebuah klinik khusus anak.  Ia pun mempekerjakan beberapa perawat, salah satunya adalah perawat berpengalaman bernama Genene Anne Jones. Wanita berusia 32 tahun itu baru saja berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai perawat di rumah sakit Bexar County Medical Center, San Antonio.

Dalam beberapa hari saja, klinik Dr. Kathleen sudah mulai mendapat kunjungan pasien. Warga mengaku senang dengan keberadaan klinik ini. Namun sejak dua bulan beroperasi, sebanyak tujuh anak yang dirawat  mengalami serangan kejang mendadak disertai gangguan napas dan jantung.

Tanggal 30 Agustus 1982, di ruang gawat darurat, Dr. Kathleen disibukkan dengan kondisi seorang pasiennya yang memburuk. Bayi Christopher Parker, empat bulan, mengalami gangguan napas. Tak lama berselang, masuk pasien anak lainnya, Jimmy Pearson,  lantaran mengalami serangan kejang. Jimmy, tujuh tahun, menderita keterbelakangan mental dan bisu. Melihat kondisi keduanya, Dr. Kathleen memutuskan untuk segera mengirim mereka ke rumah sakit lain dengan menumpang helikopter. Perawat Genene dan dua paramedis ditugasi mendampingi.

Di atas helikopter, Genene menyatakan bahwa Jimmy kembali mengalami serangan kejang. Meski menurut petugas paramedis yang bersamanya, alat monitor menunjukkan kondisi Jimmy saat itu normal.  Genene lantas memeriksa kondisi Jimmy dengan stetoskop, kemudian menginjeksi sejumlah cairan ke dalam tabung infus. Beberapa menit kemudian, Jimmy mendadak mengalami gangguan nafas dan gagal jantung. Syukurnya ia berhasil selamat. Namun tujuh minggu kemudian ia dilaporkan meninggal. Baca lebih lanjut

House of Horror: Bayi Peter Tewas di Rumahnya Sendiri

kekerasan terhadap anakBayi lelaki dalam foto itu begitu menggemaskan. Ia terlihat gembira dengan senyuman yang menghiasi wajah bundarnya, berambut pirang  dan bermata biru. Siapa sangka umurnya begitu pendek, 17 bulan saja. Bayi Peter Connelly tewas dengan lebih dari 50 cidera di tubuhnya. Siapa yang sampai hati membunuh bayi tak berdosa ini?

 ***

Tracey Connelly tumbuh besar sebagai gadis remaja bermasalah, memiliki emosi yang tidak stabil dan kacau. Semasa sekolah, ia kerap melakukan keonaran. Di asrama, ia ditempatkan dalam unit khusus bagi anak-anak dengan masalah emosional dan sosial. Teman-temannya menjulukinya “Tracey si gelandangan” lantaran ia kerap pergi ke sekolah dengan pakaian yang robek dan kotor.

Tracey hidup tak terurus.  Ia pun tinggal di rumah yang tak terawat. Rumah yang ditinggalinya bersama ibunya di kawasan Islington, London Utara selalu terlihat kotor,  tempat tidur tak beralas sprei, belum lagi kotoran anjing yang bertebaran di dalam rumah.  Teman-temannya juga kerap melihat Tracey ikut permainan “rough and tumble”, yakni permainan adu fisik seperti berlari, bergulat hingga berkelahi, demi mendapatkan imbalan beberapa batang rokok. “Ibunya tahu, tapi dia tak peduli,” ujar seorang teman Tracey.

Ibu Tracey adalah pecandu narkoba, sedangkan sang ayah tidak jelas identitasnya. Pada umur 12 tahun, ibunya memberi tahu Tracey bahwa lelaki yang ia anggap ayah selama ini bukanlah ayah kandungnya, dan telah meninggal. Ia pun kerap menyaksikan ibunya membawa banyak lelaki berganti-ganti ke rumahnya, sehingga ia dipergunjingkan sebagai anak seorang pelacur. Baca lebih lanjut