Untukmu yang Begitu Indah

love letterAwalnya, tiada kesan, biasa, malah sedikit mangkel.
Aku mengambil langkah seribu dan menjauh.
Tapi takdir berulang kali memaksa kita bertemu.
Aku menolak dengan keras kepala.
Lalu, kun fayakun, aku tersungkur tepat di depan hidungmu.
Bahkan dibuat menggantungkan nasibku padamu.

Astaga!
Baca lebih lanjut

Iklan

My Hundred Million Dreams

pp nov9 Februari 2015,

Saya memantapkan hati kembali memulai penulisan sebuah novel. Ini naskah kedua yang saya tulis. Novel pertama batal terbit lantaran penerbitnya tutup. Too bad!

Pengalaman menulis novel memberi warna pada gaya penulisan saya, yang selama bertahun-tahun kadung terpatri dengan gaya penulisan jurnalistik yang lugas dan bernas. Saya bersyukur mengenal genre penulisan ini, sebab meski mempelajarinya luar biasa sulit lama kelamaan saya menyukainya. I think it’s cool! 🙂

Menulis novel ibarat berlayar di tengah samudera. Mengawalinya dengan bersemangat lalu mengalami kebosanan di beberapa titik, sesekali mengalami mabuk laut dan sedikit mual-mual, lantaran bolak-balik membaca materi yang sama, tapi menikmati keindahan dalam seluruh perjalanannya. Dan bagian yang paling membahagiakan adalah membayangkan tujuan akhir! Ya, ketika melihat novel yang saya tulis terpampang di etalase toko-toko buku.

Naskah novel yang kedua ini adalah salah satu mimpi terindah yang saya simpan dalam hati dan saya peluk erat-erat, tanpa pernah berniat melepaskannya sebelum menjadi kenyataan.

Doakan saya, ya!

Let’s Have a Balance Life!

overwhelmedPernahkah kamu merasa “overwhelmed”? Lantaran hidup diburu oleh berbagai target, tenggat dan capaian.

Saya pernah.

Bekerja sebagai wirausahawan telah mengubah pola pikir, kebiasaan dan mentalitas saya sehingga terbiasa bekerja dengan target, tenggat dan capaian. Awalnya semua terasa mengasyikan, menantang dan menggairahkan. Nyaris 24 jam waktu saya dihabiskan untuk pekerjaan. Mulai dari day to day operational sampai inovasi pengembangan bisnis. Porsinya kira-kira begini: 8 jam waktu untuk istirahat, 2 jam waktu untuk bersantai dan belajar, 13.5 jam waktu untuk bekerja dan 30 menit waktu untuk ibadah.

Hmmm… Kalau dipetakan seperti ini tampak jelas sekali betapa tidak adilnya saya dalam mempergunakan waktu dan umur saya. Baca lebih lanjut

Sebulir Iman

al-quranSaya pernah membaca sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Hadits ini lantas menjadi semacam pedoman bagi saya dalam menjalani hidup. Terlebih ketika saya mulai menjalani pekerjaan sebagai wirausahawan maka prinsip itu makin melekat dalam benak saya karena sebagai pemilik usaha saya memiliki karyawan yang harus saya pikirkan kesejahteraannya.

Menjalankan bisnis dari nol dengan modal minim bukan proses mudah. Jatuh bangun dan jungkir-balik. Nyaris 24 jam otak saya cuma fokus berpikir soal bisnis, bisnis dan bisnis, lemari saya dipenuhi buku-buku bisnis tentang motivasi, marketing, SDM, manajemen, keuangan dsb. Hari-hari saya selalu disibukkan dengan upaya mengembangkan dan memajukan bisnis. Seiring bertumbuhnya bisnis, prinsip dalam hadits itu selalu saya pegang. Fokus saya adalah membuat bisnis saya maju agar bisa memberi manfaat yang lebih luas bagi sesama.  Walhasil, keberhasilan bisnis pun menjadi ukuran kesuksesan saya saat itu.

Tetapi seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa hadits tersebut hanya memiliki makna ibadah horisontal yakni hubungan dengan sesama manusia dan saya melupakan ibadah vertikal yakni hubungan dengan Tuhan. Baca lebih lanjut